Terbaru  1 Oktober 2010 - 14:51 GMT

MUI tolak film gay

Film gay

Beberapa lembaga kebudayaan asing di Indonesia memutar film gay

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menolak pemutaran film-film bertema homoseksualitas karena dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam dan budaya bangsa.

Selain itu, MUI juga meminta Lembaga Sensor Film (LSF) menolak pemutaran film tersebut dan mengimbau pemerintah atau perwakilan asing di Indonesia menghargai kedaulatan Indonesia yang tidak boleh diintervensi oleh pihak mana pun dalam mengembangkan seni dan budaya.

Pernyataan itu dikeluarkan MUI dalam menanggapi festival film gay internasional, Q! Film Festival, yang diputar di beberapa lembaga kebudayaan asing di Jakarta.

Lembaga kebudayaan asing tersebut bukan penyelenggara festival. Adapun festival ini diselenggarakan oleh kelompok setempat.

Ketua MUI Ma'ruf Amin menepis alasan kebebasan dan HAM sebagai dasar yang sering dikemukakan oleh pihak-pihak yang mendukung kehidupan homoseksualitas.

"Justru ini sangat bertentangan dengan hak asasi manusia karena pada dasarnya HAM diciptakan Allah dengan fitrah berpasang-pasangan melalui perkawinan yang sah. Perkawinan sejenis hukumnya haram," kata Ma'ruf Amin dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (30/9).

Sebelumnya, direktur festival John Badalu mengatakan kepada AFP panitia penyelenggara memperkirakan tidak akan ada penentangan publik, tetapi tidak akan mempublikasikan secara besar-besaran karena masih ada "stigma terhadap kaum gay" di Indonesia, yang banyak penduduknya konservatif.

"Kami tidak ingin mempublikasikan acara ini di media mainstream," kata Badalu.

Kami tunggu komentar Anda

Bagaimana pendapat Anda mengenai kontroversi festival film gay?

Apakah pemutaran film tersebut seharusnya dilarang? Dan bagaimana pendapat Anda tentang cara-cara yang digunakan oleh beberapa kelompok untuk menghentikan penayangan film?

Bagaimana menyikapi masalah seperti ini karena hubungan seks dengan sesama jenis secara teknis legal di Indonesia tetapi persoalan tersebut masih dianggap tabu oleh sebagian kalangan?

Kami tunggu pendapat Anda untuk Forum BBC, di telpon bebas pulsa 0800 140 1228 pukul 16.00 hingga 20.00 WIB mulai Senin hingga Jumat.

Anda bisa mengirim email indonesia@bbc.co.uk atau SMS +44 7786 2000 50 dengan tarif sesuai yang dikenakan operator telpon anda.

Kolom di atas juga tersedia untuk Anda. Jangan lupa cantumkan nama dan kota Anda serta nomor telpon yang bisa kami hubungi.

Forum BBC Indonesia disiarkan setiap Kamis Pukul 18.00 WIB dan Senin Pukul 05.00 WIB.

Ragam komentar

"Namanya juga promosi. Tujuannya jelas, membuat orang yang tidak tahu menjadi tahu, yang sudah tahu menjadi semakin gila, yang sudah gila merasa punya pembenaran setelah punya banyak teman." Rasyid Sultansah, komunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Tergantung orang yang nonton apakah suka dengan film tersebut, toh semakin dilarang malah semakin ingin dilihat." Endang Rizki Sanubari, komunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Negara ini butuh film yang menyejukkan. Kalau yang diputar tidak punya norma, tunggu bencana apa lagi yang menimpa negeri ini." Bambang Wahyudi, komunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Saya pribadi menolak dengan tegas pemutaran film atau apapun yang berhubungan dengan aktivitas/kehidupan atau apapun dari kaum/kelompok yang memiliki orientasi sex yang tidak wajar. Hal ini benar dan jelas sangat bertentangan dengan agama dan budaya Indonesia." Faisal, Bandung.

"Saya sangat setuju dengan MUI karna penayangan film tersebut sangat tidak pantas ditayangkan di negara kita yang mayoritas Muslim, dan itu membuat warga juga tidak setuju karena film tersebut sangat melanggar ajaran agama Islam dan itu juga sama saja mengganggu HAM warga Muslim yaitu hak kemerdekaan yang mempunyai sub ketentraman dan ketenangan." Endy, Tegal.

"Kaum gay, lesbian, homo adalah sesuatu yang nyata ada dan keberadaannya tidak bisa disangkal. Namun jika ada even yang secara khusus menayangkan film-film bertema tersebut harus dipertanyakan motifnya apa? Apalagi di negara yang mayoritas Muslim. Kalau niatnya untuk promosi/propaganda berarti panitianya mau 'menuai badai'." Fitra Arifin, Tabalong.

"Saya tidak setuju. Kita orang Timur identik dengan masyarakat yang lebih menggunakan nilai-nilai dan norma dalam menjalani kehidupan sesuai dengan azas Pancasilaisme. Kalau dibiarkan beredar, takutnya efeknya bagi generasi 10 atau 25 tahun ke depan. Mau jadi seperti apa?". Imran, Padang.

"Sebaiknya film tersebut tidak dilarang karena suka/tidak mereka memang ada, tapi tidak pernah terekspose. Kalau memang tidak suka atau menganggap hal tersebut haram, jangan ditonton." Ariany, Cimahi.

"Jangan film-film homo saja yang di sensor, tapi film dalam negeri yang berbau seks dan film-film yang sifatnya tidak mendidik, mendingan jangan layak tayang. Tidak sedikit kalangan anak-anak generasi sekarang yang menjadi korban sinetron-sinetron yang tidak bermutu yang sifatnya merusak moral dan akhlak bangsa." Taufik, Bogor.

BBC navigation

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.