Polisi dan tempat ibadah jadi sasaran serangan?

Terbaru  16 April 2011 - 20:30 WIB
Polisi di lokasi pemboman bunuh diri di Cirebon

Polisi memasang penghalang di dekat lokasi pemboman bunuh diri di Cirebon

Pemboman bunuh diri di masjid yang berada dalam kompleks Mapolrestra Cirebon menyebabkan 28 orang yang tengah bersiap melakukan sholat Jumat terluka.

Aksi menyerang tempat ibadah telah beberapa kali dilakukan termasuk di masjid dan juga gereja.

"Masjid jadi target pernah terjadi tahun 1998. Pada tahun 2000 masjid Agung di Jogjakarta, tetapi gagal meledak. Jadi bukan hal yang baru dan sudah menjadi modus operandi kelompok kelompok yang memang melakukan itu," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Ansyaad Mbai.

Sementara itu kepala bagian penerangan umum Mabes Polri Boy Rafli Amar mengatakan pemboman di Cirebon itu diduga sebagai aksi balas dendam karena banyak pelaku teror yang ditangkap polisi.

Boy mengatakan kepolisian telah memperketat keamanan di seluruh markas untuk menghindai aksi seperti di Cirebon.

Kepala Badan Intelijen Negara Sutanto mengatakan pelaku pemboman hari Jumat (15/04) itu anggota jaringan lama.

"Pengalaman dari pertiswa lalu, jaringannya tetap itu saja, yang berbeda adalah pelaku, mereka memang merekrut pelaku-pelaku baru," kata kepala BIN Sutanto.

Tetapi mengapa tempat ibadah sering menjadi sasaran? Apakah aksi aparat keamanan menangkap mereka yang diduga pelaku aksi teror akan meningkatkan kemungkinan serangan terhadap aparat?

Komentar anda

"Negeri ini mayoritas muslim, dan POLRI hanya menjalankan tugas. Tak mungkin teroris menghentikan perjuangannya,POLRI-pun tak mungkin lari dari tanggung jawabnya," M. Mathori Munawar, Pekalongan.

"Kasus di Cirebon tersebut, jika saya lihat menunjukkan bahwa kredibilitas polisi jatuh di mata masyarakat. Dengan berbagai kasus yang menyangkut kepolisian saat ini semakin membuat masyarakat hilang kepercayaan. Teror adalah sebuah cara bukan aliran atau paham. Dan fenomena terorisme ini akan terus ada selama masih ada kelompok yang merasa dirugikan dari sebuah keadaan atau status-quo," Triono Akhmad Munib, Jember.

"Terjadinya hal-hal yang demikian menunjukkan sudah tidak ada rasa hormat terhadap tempat beribadah, mesjid ataupun gereja. Bisa dilihat dalam hal ini, bahwa emosi dan kebencian lebih kuat daripada logika, dan rasa saling hormat dengan sesama manusia, apapun agama yg dianut. Bagi orang-orang tertentu, harga jiwa manusia sudah tidak dihargai, yang ada hanya rasa benci,dan dendam," Agus Salim, Houten, Belanda.

"Pelaku biadab sangat-sangat biadab. Mudah-mudahan para korban di Cerebon cepat sembuh. Para pelaku hanya cari sensasi plus apatis," Tumpak, Siantar.

"Teroris ini bagi pendapat saya ialah pembunuh yang buta warna, tidak mengenal siapa pun yang jadi mangsa. Mereka berusaha memecah belah penganut agama dengan teror bom di tempat-tempat ibadah. Sasaranm teror bom adalah kepada pihak aparat keamanan jareba benci dan takut jaringan mereka akan dimusnahkan oleh pihak aparat keamanan," Muhammad Faizal Maidin, Malaysia.

"Sebelumnya saya menyatakan prihatin dan mengutuk aksi pengeboman yang terakhir terjadi di Masjid Polresta Cirebon. Ada ucapan terdakwa teroris yang saya tangkap di Media: insya Allah tidak ridho dengan hukum kafir, polisi dan negara kemudian dianggap sebagai antagonis. Dari ucapan ini ruang penjara atau hukuman seperti tidak mempan atau membuat jera terdakwa dimana melawan hukum dianggap sah-sah saja dan tidak berhukum pada hukum yang berlaku di NKRI. Deradikalisasi melibatkan psikolog," Harjito Sangaji, Jogjakarta.

"Karena menurut saya tempat ibadah adalah tempat berkumpulnya orang2 yang mempunyai iman yang kuat, kalau pelaku bomnya adalah tidak kuat imannya melainkan meledakkan diri dengan cara seperti itu. Jangankan di dalam negeri yang di luar negeri apalagi sering terjadi seperti di Irak, yang membabi buta aksinya. Dan kalau menurut saya orang yang bunuh diri dengan cara meeledakkan dirinya itu tidak akan masuk surga melainkan neraka jahanam," Sony Rusdiyan, Banten.

"Alasannya karena ada pihak yang ingin menjatuhkan kredibilitas polisi dengan melakukan aksi yang meniru gaya teroris. Mereka ingin menunjukkan bahwa polisi tidak becus mengamankan dan alasan kedua adalah ingin mencerai-beraikan persatuan umat suatu agama, dan juga mendeskreditkan agama," Rembun Setyaningsih, Facebook BBC Indonesia.

Link terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.