Jatuhnya pesawat Merpati, kelayakan dan pengadaan

Terbaru  13 Mei 2011 - 16:19 WIB
Kecelakaan Merpati di Kaimana

Alat perekam data penerbangan M60 terenskripsi dalam bahasa Cina

Kecelakaan pesawat Merpati Nusantara di Papua Barat pekan lalu menimbulkan pertanyaan tentang kelayakan dan pengadaan pesawat buatan perusahaan Cina itu.

Pemerintah telah mengirimkan tim untuk melakukan pemeriksaan 12 unit pesawat jenis MA 60 milik Merpati menyusul kecelakaan pesawat di Kaimana pekan lalu.

Tidak ada korban yang selamat dalam kecelakaan pesawat yang mengangkut 27 orang itu.

Pesawat buatan Xi'an Aircraft Industri, Cina, saat ini melayani 66 rute, sebagian besar di kawasan Indonesia Timur.

Pemerintah membeli 15 unit pesawat MA 60 tahun 2005 dengan harga AS$234 juta untuk mengganti armada Fokker dan CN 235 milik Merpati yang menua.

Menteri Perhubungan Freddy Numberi mengatakan Kementerian Perhubungan telah melakukan validasi teknis saat itu.

Namun Serikat Pekerja BUMN Bersatu melaporkan dugaan korupsi pengadaan pesawat MA-60 ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Kami melaporkan dugaan mark up terhadap pengadaan pesawat MA 60 yang digunakan Merpati," kata Ketua Koordinator Serikat Buruh BUMN FX Arief Poyuono di Kantor KPK.

Apa komentar Anda terkait kelayakan pesawat-pesawat Indonesia?

Apakah sebagai konsumen Anda perlu tahu kelayakan terbang pesawat?

Komentar anda

"Secara teknisnya, penumpang tidak perlu tahu kelayakan pesawat yang akan dinaiki, karena sudah ada instansi terkait yang melakukan pengawasan tentang kelayakan. Menurut saya, mulai saat ini alangkah baiknya kalau bukti kelayakan itu dilampirkan dalam tiket penerbangan," Zakaria, Pati.

"Dulu kita sudah punya Industri Pesawat Terbang Nusantara. Mengapa tidak bisa dilanjutkan dan kita buat pesawat sendiri. Padahal orang-orang Indonesia pintar-pintar. Mengapa justru kita jadi negara yang konsumtif terhadap buatan negara lain? Kapan bangsa Indonesia bisa mandiri? Dengan kejadian pesawat MA-60 tersebut kita benar-benar kalang kabut," Kusdiyanto, Pemalang.

"Nasib! Mungkin itu yang bisa dikatakan sebagian orang. Tapi kalo di Indonesia bukan nasib tetapi mementingkan diri dengan memperkaya diri sendiri. Kejadian pesawat jatuh bukan satu dua kali, tetapi berulang kali, seolah nyawa ini tidak berharga. Kenapa kejadian ini menimpa pesawat di Indonesia? Karena pesawat Indonesia dibeli dengan harga murah dan bekas sehingga tidak layak pakai. Hanya mementingkan keuntungan saja," Lia, Surabaya.

"MA 60 Harus di kandangkan," Rizki, Pasir Pengaraian.

"Menurut saya kita sebagai penumpang perlu tahu kelayakan pesawat tersebut, agar ada transparansi antara pihak pemberi pelayanan dengan pihak yang dilayani. Harusnya kecelakaaan yang pernah terjadi sebelumnya di Indonesia dijadikan pelajaran untuk kita semua agar lebih waspada dan cermat dalam melihat kelayakan pesawat . Ini bukan masalah cek ricek, tapi menyangkut keselamatan jiwa banyak orang," Dwi Yulianti, Surabaya.

"Aduh bapak mentri perhubungan, tolong yaa sarana angkutan udara di tingkatkan. Kasihan kan kalau kondisi pesawat tidak baik dan akhirnya jatuh. Mereka yang berada di balik kalayakan pesawat tidak bertanggung jawab penuh," Susi, Singapura.

"Negara ini akan jadi tertawaan bangsa lain karena begitu banyak kecelakaan pesawat. Layak atau tidak pesawat itu terkait dengan masih besarnya tingkat suap di negeri ini. Dan jika sudah terjadi,boro-boro diadakan penyelidikan. Satu penjahat untung ratusan warga menanggung resikonya. Nyawa jadi taruhan. Kalau memang tak pantas pakai jangan pakai," Fajar Abimanyu, Tulungagung.

"Pesawat-pesawat di Indonesia ada yang tidak layak terbang. Yang memberi izin layak terbang itulah yang di tindak, Konsumen tidak tahu menahu soal layak atau tidak! Lagi pula konsumen kan buta akan mesin pesawat, Sumber daya pemeriksa mesin pesawat yang harus dibenahi. Jangan menyalahi pesawat buatan mana. Tapi bagaimana cara kita merawatnya. Apakah perawatan sudah standar internasional?" Sony Herawan, Lampung Tengah.

"Kelayakan pesawat-pesawat di Indonesia memang sudah ada peningkatan sejak dibebaskanya sanksi dari Uni Eropa tempo hari. Tetapi lebih baik konsumen diberitahu tentang kelayakan terbang suatu pesawat," Driyo Samudro, Kediri.

"Tolong cek pesawat Merpati dari denpasar tujuan Dili, apakah masih layak terbang atau tidak? Jangan sampai terjadi seperti di Papua," Jose Alves, Belfast.

"Harus ada sertifikasi kelayakan yang diakui oleh dunia internasional, karena sertifikasi itu merupakan bukti kelayakan pesawat dan tentu membuat penumpang menjadi tenang. Kenapa harus sertifikasi internasioal, karena sertifikasi lokal belum cukup menjamin kelayakan pesawat. Ini adalah pesawat terbang, bukan bis kota yang kalau mogok bisa didorong., nah kalau pesawat ya harus zero error," Luthfi Adiwibowo, Depok.

Pesawat-pesawat di Indonesia sebetulnya cukup banyak yang tidak layak. Banyak pesawat bekas yang disewa dan dibeli. Katanya mau menghemat biaya, tapi harga sewa dan beli pesawat itu dalam laporannya mahal sekali. Pesawat MA 60 buatan Cina, sebetulnya tidak layak. Banyak produk Cina harga murah tapi kualitasnya rendah. Contoh HP banyak sekali buatan Cina, tapi mutunya rendah. Sebagai konsumen saya harus tahu kelayakan pesawat. Ini menyangkut nyawa. Pemerintah sadarlah,layanilah rakyatmu," Bonefasius Jehandut, Tangerang.

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.