Diplomasi seputar tenaga kerja Indonesia

Terbaru  30 Juni 2011 - 22:11 WIB
Tenaga kerja Indonesia dengan tujuan Timur Tengah

Setiap bulan Indonesia mengirim sekitar 20.000 penata laksana rumah tangga ke Arab Saudi

Arab Saudi menghentikan pemberian izin kerja kepada penata laksana rumah tangga dari Indonesia terhitung tanggal 2 Juli, satu bulan sebelum Indonesia menerapkan moratorium pengiriman tenaga kerja nonformal ke negara itu.

Penghentian pengiriman sementara penata laksana rumah tangga atau pembantu rumah tangga baru semula akan diterapkan 1 Agustus dan rencananya akan diikuti dengan perundingan bilateral pada September mengenai perlindungan TKI di Arab Saudi.

Namun moratorium belum dilaksanakan, Arab Saudi telah membuat keputusan yang lebih drastis.

Menurut kementerian tenaga kerja Arab Saudi, penghentian pemberian izin kerja tersebut ditempuh karena terkait syarat-syarat yang diajukan Indonesia. Selain itu, langkah Arab Saudi juga berkaitan dengan upaya membenahi sumber-sumber tenaga kerja bagi negara kerajaan itu.

"Pengalaman saya ketika bertugas di Saudi, pemerintah di sana menerapkan diplomasi total"

Sukamto Javaladi

"Keputusan ini bersamaan dengan upaya membuka peluang merekrut pekerja rumah tangga dari sumber lain," demikian pernyataan kementerian tenaga kerja Arab Saudi.

Sebelumnya, para pejabat Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dan Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar sempat mengadakan pertemuan dengan Duta Besar Arab Saudi di Jakarta menyusul pemancungan Ruyati, seorang TKI di Arab Saudi dan rencana moratorium.

Komentar Anda

Menanggapi kebijakan keputusan Arab Saudi, pemerintah Indonesia kini menyatakan keputusan itu sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan perlindungan bagi TKI di Arab Saudi.

Bagaimanapun, seorang mantan diplomat Indonesia di Arab Saudi Sukamto Javaladi berpendapat keputusan Saudi bisa dianggap sebagai balasan atas moratorium pemerintah Indonesia dan Arab Saudi sepertinya ingin menunjukkan bahwa negara itu tidak mau ditekan oleh negara lain.

"Pengalaman saya ketika bertugas di Saudi, pemerintah di sana menerapkan diplomasi total. Artinya seluruh pemangku kepentingan yang terkait dengan perekrutan tenaga kerja asal Indonesia, semuanya satu suara. Ini berkebalikan dengan situasi di Indonesia," jelas Sukamto.

Lalu bagaimana pendapat Anda? Apakah keputusan Arab Saudi untuk menghentikan perekrutan tenaga kerja informal dari Indonesia merupakan kekalahan diplomasi Indonesia?

Bagaimana langkah selanjutnya yang mesti ditempuh Indonesia?

Kirim pendapat Anda pada kolom yang tersedia. Jangan lupa cantumkan nama, asal kota dan nomer telpon yang bisa kami hubungi untuk merekam pendapat Anda.

Komentar juga dapat Anda kirim melalui nomor telpon bebas pulsa 0800-140-1228, Senin sampai Jumat pukul 16.00 sampai 20.00 Waktu Indonesia Barat. Anda juga dapat mengirim komentar lewat SMS +44 7786 20 00 50 dengan tarif sesuai yang dikenakan operator telepon seluler Anda.

"Arab Saudi memiliki kultur yang sangat beda. Indonesia tetap menang dalam sikap dan kebijakan. Arab Saudi tidak akan bertahan lama dalam posisinya, ia akan kembali mengubah kebijakannya dalam format lain"

Muchyidin, Jeddah

Pendapat yang terpilih akan disiarkan dalam Forum BBC Indonesia, Kamis, siaran pukul 18.00 WIB.

Hubungi kami

* Kolom harus diisi

(Maksimal 500 karakter)

Ragam komentar

Berikut berbagai pendapat yang telah kami terima:

"Saya baru selesai penelitian tentang perdagangan manusia di sini. Setelah saya dengar tentang berita Arab Saudi menghetikan pemberian izin kerja ke perempuan Indonesia, saya senang sekali. Sebagai akibat aturan itu, jumlah perempuan Indonesia yang disiksa dan dibunuh akan turun. Saya senang sekali dengan putusan itu. " David Wyatt, Malang.

"Keputusan Arab Saudi mengenai penghentian pemberian izin kerja adalah balasan sekaligus kekalahan diplomasi Indonesia." Agus Suhendra, Surabaya.

"Indonesia mendapat dukungan penuh Arab Saudi agar Indonesia segera membuat lapangan kerja baru bagi rakyat Indonesia di negeri sendiri di mana yang pada masa lalu belum menjadi prioritas utama & terasakan perlu mengadakan lapangan kerja bagi rakyat Indonesia sendiri. Betul, sangat menggembirakan bahwa diplomasi Presiden Susilo Bambang Yudoyono dengan Duta Besar Arab Saudi langsung mendapatkan respon yang baik oleh pejabat Kerajaan Arab Saudi dengan penghentian pemberian izin kerja bagi TKI." Bonny Dhalhar, Jogjakarta.

"Langkah yang ditempuh pemerintah Saudi menunjukkan bahwa tidak ada komitmen terhadap perlindungan Tenaga Kerja Indonesia. Saya melihat itu sebagai indikasi bahwa negara tersebut memiliki rasa kemanusiaan yang rendah kalau tidak mau disebut sebagai memelihara perbudakan. Seringnya kasus pembunuhan TKI terhadap majikan ini merupakan suatu hal yang aneh kalau ditinjau dari karakter masyarakat Indonesia, apalagi wanita. Karena mereka secara umum memiliki sifat loyal atau kepatuhan yang tinggi terhadap majikan." Wily, Banjarmasin.

"Pejabat pemerintah belum bisa maksimal terhadap aspek kehidupan bangsa Indonsia melalui kebijakan formal dan nonform untuk kesejahteraan rakyat dan perlindungan hukum." Sandy Mubarak, Bandung.

"Pemerintah harus tegas, tidak perlu mengirim tenaga kerja sebagai pembantu rumah tangga ke Arab Saudi. Warga negara Indonesia harus bekerja keras di Indonesia banyak lapangan kerja yang dapat diupayakan. Tanahnya luas, subur, dapat diolah dengan baik, seandainya para TKI yang ke luar negeri mau menjadi petani sebagaimana halnya dengan negara lain seperti Thailand. Untuk itu Pemerintah harus memfasilitasi." Made Suwandi, Jakarta.

"Arab Saudi memiliki kultur yang sangat beda. Indonesia tetap menang dalam sikap dan kebijakan. Arab Saudi tidak akan bertahan lama dalam posisinya, ia akan kembali mengubah kebijakannya dalam format lain. Bagaimanapun mereka sangat membutuhkan PRT Indonesia. Semua ini tidak lebih demi menjaga gengsi dan menjaga image an sich seolah-olah tidak butuh. Karakter tersebut merupakan khas kultur masyarakat Arab Saudi. Indonesia justeru harus bermain lebih cantik." Muchyidin, Jeddah.

"Negara kita terlalu berhati-hati dalam mengambil keputusan soal TKI. Tidak saja dengan Arab Saudi, juga dengan Malaysia. Terlalu alon alon asal kelakon. Ada kata mutiara dari leluhur kita: Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri." A.C.Agussalim, Houten, Netherlands.

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.