Gebrakan seorang menteri di pintu tol

Jalan tol di Prancis
Image caption Pintu tol yang banyak di salah satu jalan tol di Prancis membuat antrian tidak sampai terjadi.

Media-media di Indonesia ramai memberitakan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, yang 'ngamuk' karena antrian yang terlalu panjang di pintu tol.

Saat itu dia akan menghadiri rapat PT Garuda Indonesia di Bandara Soekarno Hatta namun hanya satu pintu yang buka untuk masuk ke jalan tol.

Mantan wartawan tersebut kepada para wartawan mengaku 'ngamuk' dan bukan sekedar marah lagi karena sebelumnya sudah memperingatkan PT Jasa Marga supaya mengatasi kemacetan di pintu tol.

Dan pagi itu, Selasa 20 Maret, hanya satu pintu tol yang buka sehingga Dahlan langsung membuka penghalang pintu tol dan sekitar 100 mobil lewat tanpa membayar. Antrian pun hilang.

"Ya biar saja, kalau Jasa Marga merasa dirugikan suruh tagih ke saya. Saya bayar," tuturnya seperti dikutip situs internet Tempo.co.

Menurut Anda, apakah Indonesia memang membutuhkan gebrakan-gebrakan langsung seperti yang dilakukan Dahlan Iskan untuk memecahkan sebuah masalah?

Atau Anda berpendapat bahwa yang dibutuhkan justru penyelesaian secara sistematis, yang tak perlu dilihat langsung oleh masyarakat dan menjadi berita namun dirasakan langsung dampaknya.

Mungkin Anda berkomentar jika penyelesaian atas soal-soal tehnis membutuhkan langsung kehadiran pejabat setingkat menteri, maka gunungan masalah di Indonesia akan amat sulit diselesaikan.

Kirim pendapat, komentar maupun saran Anda ke Forum BBC Indonesia.

Ragam pendapat

"Kita butuh orang seperti Dahlan Iskan. Pengalaman saya sebagai pimpinan di pabrik terbesar di Bogor, dengan gebrakan seperti itu maka kita akan maju. Pengalaman saya juga tinggal beberapa lama di Amerika Serikat, Cina, dan Filipina membuktikan bahwa cara kerja di luar negeri itu seperti Dahlan Iskan. Kita butuh orang-orang yang tegas, keras, dan cepat dan bertindak." Jopie, Bogor.

"Kita butuh terobosan yang nyata dan bukan hanya diskusi. Masyarakat mestinya dilayani dan bukan melayani. Mudah-mudahan menteri yang lain atau bahkan presiden mencontoh beliau." Taufik Badarudin, Rangkasbitung.

"Salut buat Pak Dahlan. Kepemimpinan yang tegas dalam rangka menciptakan kebijakan untuk pelayanan masyarakat yang baik dan profesional,. Kami tunggu, apalagi di kelurahan, kecamatan, dan pemerintah daerah yang suka lelet pelayananya. Coba pimpinannya seperti Pak Dahlan semua!" Novi, Jakarta.

"Saya setuju dengan sikap Pak Dahlan di jalan tol tersebut, apa lagi kalau dilakukan demi perbaikan kualitas sumber daya manusia di jajaran Jasa Marga, tapi kalau boleh ketegasan seperti yang telah dilakukan mentri tersebut hendaknya bukan hanya bersifat sementara. Apa lagi karena beliau punya keperluan." Ronald Mark, Bandung.

"Dahsyat pak," Alfa Rosidi, Komunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Lebih baik terlambat daripada tidak. Kita sudah lama memerlukan tokoh semacam Mentri Dahlan Iskan. Di masa yang lalu kita hanya bisa punya pejabat negara 'boneka yang Asal Bapak Senang' yang berlindung di balik birokrasi yang melindungi kepentingan KKN. Semoga akan ada satria-stariat lain yang menyusul jadi pengatur negara tercinta ini." Olleke, Bogor.

"Banyak pejabat pandai berkonsep, berteori, dan tahu permasalahan tetapi tidak ada tindakannya. Dahlan Iskan ini tipe pemimpin yang mengerti permasalahan, tahu cara penyelesaiinya, dan yg terpenting dia bertindak!" Adi, Denpasar.

"Menurutku, yang dilakukan menteri itu salah. Seharusnya dia menyelesaikan masalah secara sistematis, jangan main gebrak saja dan kalau main asal buka begitu sama saja dia tidak mengerti aturan mengantri dan seharusnya dia lebih sabar. Mau makan saja kita harus mengantri, kalau main asal gebrak begitu sama saja seperti main trobos antrian." Yoana Hatsune Taka, Komunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Menyelesaikan sistematis bagaimana? Indonesia butuh gerakan, bukan hanya duduk dan berdiskusi." Ndramus SweetKomunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Cara kerja yang disiplin dan tepat waktu memang belum bisa diterapkan dan ini bisa dilihat dari kejadian tersebut. Jika saja setiap petugas diiringi rasa tanggung jawab yang tinggi pasti Indonesia tidak akan kalah sama negara lain. Contohnya saja di Hong Kong, penduduk banyak, pengguna mobil membludak tapi jarang macat apalagi di jalan tol. Petugas kerjanya cepat dan disiplin waktu jadi otomatis pengemudi pun akan nyaman dan tertib. Semoga dengan sikap menteri yang demikian bisa merubah cara kerja petugas jalan tol." Tri Tayani, Hong Kong.

"Bravo Pak Dahlan. Tapi saya berharap tidak terulang lagi." Purnomo, Ponorogo.

"Memang sebaiknya tidak perlu sampai seperti itu, tapi mungkin itu masih 25 tahun lagi. Kalau sekarang harus dengan gebrakan-gebrakan yang terlihat oleh masyarakat luas dan diberitakan oleh media. Kenapa? Karena dengan demikian masyarakat ikut mengontrol. Contohnya tentang jalan tol tadi pagi, kan sudah dirapatkan dan sudah diminta oleh menterinya tapi tidak jalan. Sekarang menjadi ketahuan kinerja manajemen PT Jasa Marga. Dengan 'ngamuk'nya Pak Dahlan saya yakin BUMN yang lain jadi jera dan akan bekerja lebih baik lagi." Juwono, Serpong.

"Contoh yang baik buat pejabat kita yang berkutat pada sistem ketika mengambil keputusan walaupun tidak prosedural. Berani bersikap, itulah yang bisa kita ambil teladan dari Mentri BUMN. Saya berharap para pejabat harus bersikap jelas, tidak gamang atau tidak ragu-ragu dalam memutuskan sesuatu. Apalagi menggantung masalah yang tidak jelas keputusannya. Itu membingungkan rakyat. Bravo buat Pak Dahlan, semoga menginspirasi pejabat lain dalam berikap, tidak hanya Asal Bapak Senang." Nano Sutarno, Cirebon.

"Apa yang dilakukan pak menteri merupakan sebuah shock terapi yang memang diperlukan di Indonesia. Tetapi setelah diterapi, yang lebih utama lagi, adalah tindak lanjutnya. Jangan hanya gebrak terus selesai." Lartri Utomo.

"Waktu ada berita menteri yang tidak sabaran antri di bagian imigrasi yang juga ingin cepat kok tidak seheboh sekarang ya. Memang apa bedanya, apa karena yang dulu itu menteritnya tidak populer?" Zhagita Arini, Komunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Ya terlepas dari butuhnya solusi sistematis atau tidak, sikap Dahlan Iskan ini minimal merupakan cerminan dari bentuk disiplin mati yang selama ini marak di dunia BUMN dan kedinasan di Indonesia." Arief Rachman Hakim, Sidoarjo.

"Peringatan untuk mengatasi kemacetan di pintu tol. Sudah diperingatkan ke Direksi Jasa Marga, tapi rupanya tidak ada respon atau follow up. Kalau PT Jasa Marga berani menagih ke Pak Menteri, ya siap diganti saja Direksi Jasa Marga. Indonesia masih butuh pemimpin yang berani dan sering inspeksi mendada, karena banyaknya pejabat yang bolot." Tony, Jakarta.

"Masalahnya menteri sudah beberapa kali menegur Jasa Marga, malahan ikut mendorong penjualan e-toll card. Masih saja payah pelayanan Jasa Marga. Kalau dia tak menegur sebelumnya, ya salah." Taufik Irmansyah, Komunitas BBC Indonedia di Facebook.

"Seharusnya malu, BUMN bertanggungjawab menyediakan infrastruktur angkutan massal yang memadai, jangan hanya mengandalkan jalan tol saja. Diskusikan dengan pemerintah kota Jabodetabek untuk memecahkan transportasi massal yang efektif. Jangan hanya jalan tol yang dibuat untuk mobil pribadi." Joko, Bogor.

"Negara ini butuh lebih banyak lagi pejabat-pejabat seeprti Dahlan Iskan yang langsung bertindak, bukan berteori saja." Johan, Jakarta.