Aksi kekerasan geng motor di Jakarta

Polisi di Jakarta Hak atas foto Getty
Image caption Kepolisian akhirnya mengerahkan ratusan aparat untuk mencegah aksi kekerasan oleh 'geng motor'.

Anda kemungkinan besar sudah membaca di koran atau menyaksikan di TV tentang kekerasan yang dilakukan sekelompok orang yang mengendarai sepeda motor di Jakarta.

Dalam satu peristiwa, sekitar 100 orang dari kelompok itu mendatangi toko 7-Eleven di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, dan dilaporkan beberapa membawa pedang. Bahkan mereka dengan berani menyerang kantor Polsek Tanjung Priok,

Korban aksi kekerasan kelompok itu bukan saja kerusakan fisik atau pembakaran sepeda motor namun juga jatuh korban jiwa -antara lain seorang di Kawasan Sunter dan seorang lagi di Jakarta Pusat- sementara sejumlah orang lain menderita cedera karena dipukuli.

Polisi kini sudah bekerjasama dengan aparat TNI untuk mencegah terjadinya aksi kekerasan yang berlangsung secara terbuka. Diduga penyebabnya adalah aksi pengeroyokan yang terjadi pada tanggal 31 Maret, yang menyebabkan seorang aparat TNI tewas.

Sebagai gambaran, sebuah survey yang dilakukan lembaga keuangan UBS pada tahun 2011 menempatkan Jakarta sebagai kota termahal pada peringkat 51 dan itu meningkat dari peringkat 65 pada tahun 2009, jadi naik 14 tingkat .

Peringkat itu disusun berdasarkan biaya hidup, pendapatan rata-rata warga, dan juga yang disebut sebagai iPod index untuk menghitung berapa lama warga sebuah kota bekerja untuk bisa membeli iPod nano 8GB,

Dari kenaikan peringkat itu jelas bahwa Jakarta menikmati pertumbuhan ekonomi yang baik, namun tragisnya di balik pertumbuhan ekonomi itu masih berlangsung aksi kekerasan terbuka, yang terbaru dilakukan oleh sekelompok orang yang mengendarai sepeda motor selama hampir sepekan.

Apa komentar Anda, pendapat Anda, atas kekerasan yang dilakukan oleh kelompok yang disebut geng motor itu?

Atau seandainya Anda menjabat Kepala Kepolisian Daerah Jakarta, tindakan apa yang akan Anda lakukan.

Kami tunggu di Forum BBC Indonesia, yang juga akan disiarkan Kamis Pukul 18.00 WIB.

Ragam pendapat

"Seandainya saya jadi kepala kepolisian setempat, saya akan bertindak tegas dengan menghentikan aksi geng motor yang sudah meresahkan warga bahkan merugikan banyak orang yang cedera dan mati tak berdosa. Kemana hukum Indonesia?" Oims, Pemalang.

"Penanganan dengan cara lintas instansi harus dilakukan karena ini menyangkut rasa solidaritas teman satu kesatuan yang tewas dengan cara sia-sia." Redy Hardianto, Trenggalek.

"Ini satu sinyal betapa lemah dann tak berwibawanya hukum kita, polisi yang menjadi pelindung dan pengayom masyarakat akan sangat tidak berdaya apabila berhadapan dengan kekuatan kuat." Soleh Ridwan, Tangerang.

"Lebih sering melakukan pengawasan, berpatroli dan sebar mata-mata atau intel untuk mencari tahu keberadaan para geng motor. Tangkap dan adili yang terlibat dan yang paling penting tidak segan untuk mengambil tindakan tegas (tembak!) karena keberadaan kelompok ini memang sangat meresahkan." Nahlendra, Semarang.

"Geng motor sudah ada sejak lama, dan pihak kepolisian saya rasa sudah tahu sejak lama. Karena korban anggota TNI maka ditangani serius, coba kalau warga negara biasa mungkin penanganannya idak akan seperti skarang. Saya sebagai salah seorang anggota klub resmi terdaftar merasa nama baik klub motor sedikit tercoreng." Bitha Vangga, Jakarta.

"Saya akan tempatkan patroli dpada waktu kemunculan mereka di jam rawan dan akan saya ajukan mereka ke pengadilan. Tidak ada kompromi hukum karena kebanyakan mereka dari kalangan anak militer polisi bahkan dari politisi." IO Bagiri, Bandung.

"Kepada pihak kepolisian sebaiknya kalian harus lebih tegas dan berhati-hati dalam menangani masalah ini. Jika tidak, Anda juga akan menjadi korban yang berikut." Lusian, Tanjung Pinang.

Geng motor sangat mengganggu ketertiban masyarakat. Negara tidak boleh kalah dengan mereka. Kalau saya jadi kepala polisi, akan saya tangkap pelaku kekerasan dari geng motor itu." Fauzi Abdurrahman, Cirebon.

"Sangat tidak manusiawi, masa orang yang tidak bersalah harus mati karena kekerasan, karena ulah geng motor. Kepada kepolisian RI/TNI tolong secepatnya menuntaskan masalah ini. Nomor satukan kepentingan masyarakat daripada kepentingan kelompok sendiri. Teroris saja bisa cepat terungkap tapi kenapa geng motor susah sekali diungkapnya? Ada apa dengan kalian para TNI/POLRI?" Santi, Bekasi.

"Geng motor alias komunitas pengendara sepeda motor di negeri ini terkesan sesuatu yang memiliki citra buruk. Sebenarnya tidak semua geng motor melakukan hal-hal yang buruk. Namun dewasa ini makin maraknya kejadian yang melibatkan geng motor membuat masyarakat beropini negatif pada setiap kumpulan pecinta sepeda motor. Dan itu memang wajar sehingga eksistensi mereka dalam lingkungan masyarakat selalu dibayangi oleh opini negatif. Seandainya saya menjadi Kapolda Jakarta tentu saya sangat mengecam tindakan buruk geng motor tersebut dan akan mengadili para pembuat masalah dengan misi-misi tertentu, yakni: 1. Menjalankan intelijen untuk memastikan pelaku sesungguhnya yang membuat masalah, 2. Melakukan razia rutin dan terpadu, dan 3. Menindak pelaku dengan ketentuan perundan-undangan yang berlaku." Zainul, Banjarmasin.

"Dari kronologi peristiwa, kita bisa tahu siapa para pelaku yang melakukan tindakan tersebut. Ini jelas balas dendam yang dilakukan oleh mereka yang tidak mengerti fungsinya sebagai pelindung rakyat, entah itu TNI atau Polri. Seharusnya pengadilan sipil dapat mengadili anggota TNI atau Polri ketika melakukan tindakan pidana yang merugikan masyarakat luas." John Matatar, Jayapura.

"Sederhana sekali. Polisi dilatih dan dibayar untuk menangani hal-hal seperti itu, yang dibutuhkan hanya sikap tegas dan itu artinya memaksa pihak-pihak yang bertangung jawab atas kejadian tersebut. Ketidaktegasan menyebabkan banyak pihak berani melakukan tindakan kriminal di muka umum tampat takut sanksi." Ahmad Basar, Jakarta.

"Keterlambatan aparat Polri membasmi geng motor di banyak kota besar di Indonesia patut dicurigai adanya 'lahan bisnis' (alias setoran) dari judi balapan liar geng motor. Siapapun pelaku kekerasan harus dibawa ke meja hijau, bahkan jika benar dari oknum TNI AL, wajar jika KSAL mengundurkan diri karena gagal membina mental perilaku prajuritnya. Realita: jika warga sipil melanggar hukum tindakannya cepat, tapi kalau oknum TNI, polisi amat lambat, atau takut? Bubarkan geng motor se NKRI!" AG Paulus, Purwokerto.

"Penanganan dengan cara lintas instansi harus dilakukan karena menyangkut rasa solidaritas teman sekesatuan yang tewas dengan cara sia-sia." Redy Hardianto, Trenggalek.

"Geng Motor harus dibedakan dengan klub motor. Ada Klub Vespa, Moge dan lain-lain. Geng motor sudah lama ada, bahkan di setiap kota ada walaupun masih kecil-kecilan dan awalnya anggotanya adalah para pelajar SLTP-SLTA kemudian siswa yang sudah lulus pun masih bergabung. Karena geng ini tidak ada positifnya maka harus ditindak tegas dan hukum harus dijalankan. Walau masih anak-anak SLTP yang di bawah umur, untuk siswa-siswa sekolah, maka kepolisian kerja sama dengan sekolah, orang tua, dan masyarakat." Lartri Utomo, Yogyakarta.

"Ini satu sinyal betapa lemah dan tak berwibawanya hukum kita. Polisi yang menjadi pelindung dan pengayom masyarakat akan sangat tidak berdaya apabila berhadapan dengan yang mempunyai kekuatan." Soleh Ridwan, Tangerang.

"Bertumbuh suburnya geng motor dan geng-geng lain di Indonesia merupakan akibat dari kepemimpinan yang tidak tegas dan tidak mempunyai semangat melayani. Dengan bergabung dalam sebuah geng, seseorang merasa dirinya 'ada' dan kebutuhannya dilayani. Wahai para pemimpin bangsa Indonesia, layanilah rakyatmu maka kamu akan dihargai. Kapolda DKI, layanilah masyarakatmu dan berilah rasa aman yang merupakan haknya. Anggota TNI, sebarkan ke daerah-daerah terluar di negeri ini, galakkan bakti bersama masyarakat." Bonefasius Jehandut, Tangerang.

"Simpel sekali, polisi dilatih dan dibayar untuk menangani hal-hal seperti itu. Yang dibutuhkan hanya sikap tegas dan tegas itu artinya memaksa pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Ketidaktegasan menyebabkan banyak pihak berani melakukan tindakan kriminal di muka umum tampat takut sanksi." Ahmad Bashar, Jakarta.