RSBI bertentangan dengan konstitusi

penggugat rsbi
Image caption Pihak penggugat RSBI dimenangkan oleh Mahkamah Konstitusi.

Mahkamah Konstitusi (MK) menyatakan Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) tidak sesuai dengan amanat UUD dan karena itu keberadaanya di sistem pendidikan Indonesia tidak boleh diteruskan.

Sebagian besar hakim MK yang menangani gugatan ini menegaskan, pemakaian bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di RSBI bisa menggerus kebanggaan berbahasa Indonesia.

Para hakim juga mempersoalkan pungutan biaya tinggi bagi mereka yang ingin menikmati RSBI.

Dengan biaya jauh di atas rata-rata biaya sekolah berstandar nasional, RSBI hampir mustahil dijangkau oleh siswa-siswa dari keluarga miskin

"Pendidikan berkualitas menjadi barang mahal yang hanya dapat dinikmati oleh mereka yang mampu," kata Awar Usman, salah satu hakim MK.

Gugatan atas RSBI diajukan oleh Koalisi Anti-Komersialisasi Pendidikan yang menilai pasal di UU Pendidikan Nasional, yang menjadi dasar hukum pendirian RSBI, melanggar konstitusi.

Pasal tersebut dianggap diskriminatif yang membuat RSBI hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu saja.

Namun Kementerian Pendidikan Nasional mengatakan bahwa RSBI didirikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Komentar Anda

Sangat setuju karena standar internasional tidak jelas, selalu berubah-ubah, terkesan sangat komersil sehingga bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 45, sementara kenyatannya tidak jauh beda dengan sekolah berstandar nasional. SUGENG SULISTIANTO

Setuju, karena konsepnya kacau. Misalnya cuma mengedepankan fasilitas seperti AC dan notebook, bahasa pengantarnya juga mengapa harus bahasa Inggris? Kita orang Indonesia punya bahasa Indonesia, bukan bahasa Inggris. Lihatlah sekarang orang beramai-ramai belajar bahasa Jepang dan Korea. Bukan karena mereka mencontek orang Eropa, tapi karena kemajuan bangsa dan budaya. Makanya bahasanya pun dikagumi di seluruh dunia, termasuk di negara-negara yang berbahasa Inggris. ONI AFFANTI

Dibubarkan saja. Sekolah tidak perlu yang aneh-aneh. Yang penting berkualitas semuanya, baik tenaga pengajar, fasilitas maupun sistemnya. RSBI cuma dimanfaatkan sekelompok orang untuk mencari uang. Dan satu hal lagi, pendidikan kita sudah miskin dengan sejarah. Bahkan anak-anak sekarang tidak tahu latar belakang budaya dan adatnya. LINGGO PETRUCY

RSBI menciptakan diskriminasi antara pelajar "mampu" dan "tidak mampu". Kemampuan tidak didasarkan pada aspek intelektual, tetapi lebih pada kemampuan finansial. Ini terlihat sekali dari fasilitas di dalam kelas, antara kelas bilingual dan kelas regular. Secara tidak langsung RSBI mendidik mental siswa menjadi sombong. Sudahlah, bubarkan saja RSBI. FAJRIYATUL FITRI

Sebaiknya dipakai saja istilah sekolah unggulan, karena bagaimanapun memang harus dibedakan sekolah yang punya prestasi dengan sekolah yang biasa-biasa saja. Supaya ada kebanggaan dari sekolah tersebut untuk terus memacu prestasi para murid. Dalam hal ini pemerintah harus mendukung dan memfasilitasi sekolah-sekolah yang punya prestasi bagus, seperti buku, perangkat IT, laboratorium, dan sebagainya, tentunya dengan tidak membebankan biaya kepada orang tua murid. SYARWANI HARUN

RSBI bagus sebagai sekolah unggulan dan tidak diskriminatif. Kalau mungkin ada kekurangan dalam manajemen dan sumber daya manusia, maka persoalan ini yang harus dibenahi. Apakah ada model sekolah unggulan yang lebih baik? BUDI SUSETYO

Program RSBI harus dievaluasi agar tetap bisa berjalan dengan baik, meskipun RSBI & SBI dihapus. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga harus memikirkan alternatif pengganti RSBI & SBI agar bisa menghasilkan generasi penerus bangsa yang handal dan berkompeten, serta berakhlak mulia. RIZKI FAHREZA

RSBI itu sudah bagus. Anaknya pintar-pintar. Mau maju kok tidak boleh. DONATUS

Berita terkait