Mobil murah: menambah kemacetan atau untuk ekspor?

Kemacetan Jakarta
Image caption Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan mobil murah akan memperparah kemacetan.

Mobil ramah lingkungan yang dijual di bawah Rp100 juta menimbulkan kontroversi karena dianggap akan memperparah kemacetan terutama di kota-kota besar.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan mobil murah seharusnya untuk komoditi ekspor dan tidak digunakan untuk konsumsi dalam negeri.

"Kita punya potensi menjadikan Indonesia sebagai basis produksi otomotif... Kalau kita lengah, industri otomotif nanti pindah ke Thailand. Kesempatan inilah yang harus kita ambil," kata Hatta.

"Sehingga jangan sampai keberadaan mobil murah membanjiri pasar domestik saja. Idealnya mayoritas untuk ekspor," tambahnya.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan tidak setuju dengan penjualan mobil murah karena dianggap akan menambah kemacetan di Jakarta.

Gubernur yang biasa dipanggil Jokowi mengatakan kebijakan itu tidak sesuai dengan 17 langkah penanganan kemacetan lalu lintas Jakarta yang dikeluarkan oleh Wakil Presiden Boediono.

Transporasi nyaman

"Kita sedang mengejar fasilitas dan infrastruktur dengan cepat (untuk mengurangi kemacetan), tapi tiba-tiba kemudian ini datang mobil murah, ya saya surati Wapres," kata Jokowi.

Jokowi juga mengatakan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2013 tentang Regulasi Mobil Murah dan Ramah Lingkungan atau LCGC tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Ia mengatakan yang diperlukan masyarakat adalah transportasi umum yang nyaman, aman, dan murah.

Hingga saat ini tercatat sudah empat jenis mobil murah yang diluncurkan oleh agen tunggal pemegang merek (ATPM), di antaranya Agya dari Toyota Astra Motor, Ayla dari Astra Daihatsu Motor, Datsun Go+ dari Nissan Motor, dan Honda Brio Satya dari Honda Prospect Motor.

Mobil-mobil ini dijual dengan harga di bawah Rp100 juta.

Anda setuju dengan peluncuran mobil murah ini?

Apakah menekan penjualan mobil murah ini dapat mencegah semakin parahnya kemacetan lalu lintas di kota-kota besar?

Apakah penjualan mobil ini harus dibatasi di dalam negeri dan diekspor?

Tulis komentar Anda di kolom yang disediakan. Jangan lupa nama serta asal kota Anda.

BBC akan mengontak Anda bila pendapat Anda terpilih. Bila bersedia, cantumkan nomor kontak Anda.

Komentar terpilih akan disiarkan di Forum BBC Indonesia, pada hari Kamis pukul 18:00 WIB.

Komentar Anda

Irwan Ali, Makasar "Intinya saya setuju dengan keberadaan mobil murah itu. Dengan program ini banyak yang merasa terbantu. Soal kemacetan, mata kita jangan hanya tertuju pada Jakarta. Di Papua, Sulawesi, Kalimantan, dan lain-lain fasilitas jalan ada tapi warganya tidak punya kemampuan beli mobil mahal. Menurut saya, kota yang bersangkutan itulah yang berpikir bagaimana menekan kemacetan. Bukan menghalangi hak warga daerah lain untuk merasakan memiliki mobil."

Kristianus Noeng, Jakarta "Penolakan Pak Jokowi menurut saya sangat beralasan. Pemerintah pusat paling pintar membuat kebijakan (seolah) prorakyat tetapi kenyataan atau dampaknya itu menjadi urusan bawahan. Untuk pemerintah pusat jangan 'bermain' dan membenturkan Pak Jokowi dengan masyarakat seperti ini. Para pemangku jabatan di pemerintahan pusat; jangan pintar membuat kebijakan dan pintar cuci tangan!"

Muhammad IzzulHaq, Bogor "Saya sangat tidak setuju dengan peluncuran mobil murah. Yang kita kejar transportasi massal yang nyaman murah dan praktis! Mau sampai kapan Indonesia begini kalau permasalahan seperti ini tidak diselesaikan."

Sugiyanto, Tangerang "Pak menko orang sudah berfikir susah payah menciptakan inovasi tentang adanya mobil murah, malah disarankan untuk di ekspor. Pak menteri, banyak lho orang yang kepengen punya mobil yang murah. Kalau semua orang berkecukupan mungkin gengsi naik mobil murah. Untuk pak Jokowi jalani aja sebagai gubernur, tidak usah mikir mobil murah."

Nursaid Widi, Madiun "Seharusnya pemakaian mobil dan motor dibatasi. Penduduk yang berpenghasilan minimal Rp 25 juta boleh punxa sepeda motor, dan mobil mereka yang dapat Rp 50 jt perbulan. Kalau setiap orang membeli mobil dan sepeda motor apa jadinya Indonesia pada 2020 mendatang."

Juskardi, Bogor "Saya setuju dengan adanya mobil murah karena akan menggairahkan industri otomotif di Indonesia, menyerap tenaga kerja. Tentang kemacetan akan bertambah, menurut saya belum tentu juga, katakan pengguna sepeda motor akan berpindah ke mobil."

Jony Sutono Hiu, Pangkal Pinang "Saya setuju kalau volume kendaraan pribadi di Jakarta dikurangi, terutama mobil murah. Yang banyak manfaatnya buat kita adalah dengan "memperbanyak fasilitas kendaraan umum" Tapi untuk busway saya kurang setuju..karena jalur busway memakai jalur jalan sebelumnya sehingga semakin sempit. Saya setuju monorail."

Toekiran, Jakarta "Kebijakan yang katanya mobil murah tidak tepat sasaran /gunannya. Masyarakat banyak yang sehari-hari susah untuk makan dan pendididkan, kesehatan. Yang katanya orang kecil yang mana? Saya mendukung kebijakan pak Jokowi. Lebih baik pemerintah menyediakan /membenahi angkutan massal yang sangat murah dari pada mobil murah."

Eva Wijiyanti, Semarang Menurut saya mobil murah tidak efektif dan cenderung kontra dengan program-program pemerintah yang selama ini diusahakan. Untuk konsumsi di dalam negeri, selain menambah kemacetan juga meningkatkan konsumsi BBM, parahnya memperburuk polusi lingkungan. Mungkin harus lebih dipertimbangkan sasaran penjualan dan investasinya.

Andy Chandra, Ketapang Jakarta sudah hampir tidak ada ruas jalan yang plong. Dimana mana tidak ada lagi jalanan yang lancar. Jadi jangan perbanyak lagi kendaraan di jalanan. Mobil mewah ataupun murah sama saja, penambahan kendaraan berarti memperparah masalah kelancaran lalu lintas ibukota. Perbanyak dan perbaiki transportasi umum salah satu solusinya.dan jangan lupa kenyamanan dan keamanan syarat utamanya.

Efendi.M, Jakarta Peraturan pemerintah tentang mobil murah bertabrakan dengan PP penghematan BBM. Yang dipertanyakan oleh rakyat adalah ke depan Indonesia mau dibawa kemana karena sudah tidak berdasarkan GBHN lagi. Kedepan Indonesia mau dibawa kemana, karena sudah tidak ada GBHN lagi?

Andre prasetya, Bogor Untuk kota-kota besar dengan tingkat kemacetan tinggi terutama di pulau Jawa. Regulasi ini mesti dikontrol penuh oleh "para petinggi daerah", sedang di daerah menjadi pasar yang menjanjikan. Orang dengan kemampuan ekonomi menengah dapat memiliki mobil, pemerintah & produsen untung. Siap-siap saja jika pertamax naik lagi tahun depan.

Qomarudin, Paser, Kalimantan Timur "Pemerintah terlalu egois, jika alasan kemacetan seharusnya pemerintah menyediakan moda transportasi massal yang murah, dan tidak melarang masyarakat untuk menikmati mobil murah, rakyat ingin jalanan tidak dikuasai orang kaya saja."

Christian Umbu Riada, Waikabul "Bagusnya mobil murah dipasarkan di Indonesia bagian timur saja yang belum macet. Jakarta sudah macet."

Natan, Bali "Mobil impor saja yang dikurangi, bahkan kalau bisa tidak usah impor. Pakai saja produk sendiri, bahkan kalau perlu produk kita yang diekspor."

Denny Indrawan, Bandung "Kebanggaan orang Indonesia adalah mobil, baik dari kelas ekonomi tinggi sampai rendah. Walaupun belum punya rumah atau cicilan rumah, mobil itu yang utama. Pemuda yang ingin punya istri lebih mudah mendapatkan istri dengan mobil dan berkedok sebagai pebisnis. Jadi tetap mobil murah akan semakin banyak di jalanan macet dan mobil murah menghambat cita-cita mewujudkan industri mobil listrik."

Supar, Semarang "Dulu waktu diluncurkan Avanza dan Zenia dikatakan juga mobil murah dibawah Rp100 juta, tapi kenyataannya tidak demikian. Oleh karena itu jangan percaya adanya mobil murah."

Rakean Agung, Cimone Tangerang "Mobil murah, diantara kepentingan persaingan bisnis otomotif, dan kepentingan layanan umum: Tranportasi massal yang memadai,aman dan nyaman sebagai salah satu solusi dari kemacetan serta kesemrawutan tranportasi di Ibukota, DKI Jakarta.Mana yang lebih kuat, kita lihat saja perkembangan selanjutnya!"

Ansari, Palangkaraya "Banyaknya mobil mahal saja sudah macet pak, apalagi mobil murah akan tambah macet. Bayangkan lima tahun ke depan, ibukota kebanjiran mobil dan motor."

Jhon, Ruteng "Benar apa yg di katakan pak Hatta kita butuh mobil murah untuk diekspor. Tapi mungkin lebih benar apa yang dikatakan Pak Jokowi. Untuk sementara kita lebih baik cari jalan pemecahan untuk atasi kemacetan di kota-kota besar di Indonesia. Pak Jokowi juga sudah ada jalan pemecahannya."

Bowo, Sampit, Sampit "Mobil murah setuju sekali biar rakyat kecil bisa membeli mobil. Mobil jangan dimonopoli orang kaya saja."

Prombang, Bandung "Penduduk kota besar di Indonesia, saat ini memerlukan angkutan massal yang murah. Tetapi Pemerintahan SBY malah mengeluarkan kebijakan Angkutan Perorangan murah alias Mobil Murah. Kelihatannya para menteri, Pak Presiden SBY bekerja sendiri-sendiri, tidak terpadu. Di Cina ada kendaraan pengangkut barang, rodanya tiga, bodinya sebesar truk dan boleh masuk ke jalan tol. Kalau pak SBY memang mau membantu rakyat pedesaan, lebih baik meniru angkutan murah seperti Cina tersebut."

AG Paulus, Purwokerto "Saya setuju mobil murah , asalkan berbasis mobil nasional atau buatan dalam negeri. Selain akan membuka kesempatan lapangan pekerjaan, maka tentu 'cost'-nya akan lebih murah apabila diproduksi di Indonesia dibandingkan ketika masih diproduksi di Jepang atau di negara-negara lain, seperti Malaysia dan Korsel dengan produk Mobnas mereka."

Rudy Us'abatan, Chiayi, Taiwan "Mobil murah kurang cocok di kota besar karena akan menambah macet, lebih cocok di daerah terutama di luar Jawa, bisa dipakai untuk tingkatkan roda ekonomi daerah terpencil."

Your contact details
Disclaimer