Syiah Indonesia merasa tidak dilindungi

Umat Syiah Hak atas foto ijabi
Image caption Umat Syiah Indonesia berpendapat polisi berpihak pada intoleransi.

Komunitas umat Syiah Indonesia, Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia, akan melapor ke Komnas HAM dan Menko Polhukam terkait pembubaran paksa peringatan hari Asyura di beberapa daerah.

Mereka berpendapat bahwa peringatan Asyura sudah lazim diadakan tiap 10 Muharam di beberapa kota Indonesia, antara lain di Jakarta, Makassar, Surabaya dan Bandung.

Namun tahun ini peringatan tersebut mengalami beberapa hambatan. Di Makassar terjadi bentrokan saat upaya pembubaran acara oleh sekelompok warga sehinga seorang cedera.

Sementara di Bandung, polisi menolak memberikan izin penyelenggaraan di Istana Kana dan memindahkannya ke lokasi yang lebih sempit, sehingga polisi dianggap berpihak pada intoleransi dan bukannya menjamin kebebasan melaksanakan ibadah.

"Daerah lain seperti di Jakarta diserbu di saat-saat akhir acara, di Makassar juga diserbu dengan kelompok bersenjata tajam. Polisi datang terlambat walau ancaman sudah diketahui polisi sebelumnya, sehingga jatuh korban luka-luka," tegas Ketua Dewan Syuro Ijabi, Jalaluddin Rahmat.

Menanggapi pemindahan gedung di Bandung, Kabid Humas Polda Jabar AKBP, Martinus Sitompul, mengatakan pemindahan lokasi semata-mata karena masalah izin lokasi saja.

"Kegiatan seperti itu pasti kita bantu, tidak ada dari kami yang melarang, buktinya kegiatan berlangsung, hanya tempatnya saja yang berubah karena memang pemilik gedung tidak mengeluarkan surat izin untuk acara itu," katanya kepada BBC Indonesia.

Bagaimana pendapat Anda?

Sebagian umat Islam Indonesia menentang keberadaan Syiah di Indonesia dan beberapa kali penentangan diwarnai aksi kekerasan atas umat Syiah.

Tapi apakah menurut Anda umat Syiah juga menderita diskriminasi yang dilakukan oleh aparat negara?

Mengingat umat Sunni yang merupakan mayoritas di Indonesia, apakah memang itu bisa menjadi alasan bagi penentangan atas keberadaan Syiah?

Bukankah kebebasan melaksanakan ibadang dijamin oleh UUD 1945?

Seperti biasa pendapat terpilih akan kami siarkan Kamis 21 November Pukul 18.00 WIB.

Ragam pendapat

"Setiap kita melihat ke belakang dan apa yang terjadi di negara-engara lain dan penindasan-penindasan yang di rumah saudara-saudara kita sangatlah menyakitkan dan kami sebagai rakyat Indonesia tidak mau terjadi di negara ini. Saya rasa mungkin ada musyawarah para ulama-ulama Indonesia baik dari Sunni maupun Syiah untuk menentukan cara yang paling baik dalam masalah ini. Untuk menentukan keamanan antara agama Islam di masa akan datang." Zainalyahya, Sabah - Malaysia.

"Islam itu tidak monolitik sejak wafat Rasulullah SAW. Tafsir Islam beragam sejak itu dan orang beragama yang cerdas dan berakhlak mengedepankan dialog, bukan kekerasan. Hujjah bukan pelecehan. Maka Syiah adalah bagian Islam. Dan kejadian akhir-akhir ini bukanlah Ahlussunnah yang sebenarnya, tetapi karena provokasi Wahabi yang menyaru sebagai Sunni. Kondisi Suriah bukanlah perang madzhab agama. Itu hanya provokasi mendiskreditkan Syiah. Dan negara ini NKRI ber-Bhineka Tunggal Ika dan ber-Pancasila." Zaenal, Pontianak.

"Islam tegak dengan mencintai para sahabat, murid-murid Nabi Muhammad, sedangkan agama Syiah tegak dengan membenci para sahabat. Di sini titik msalahnya kedua agama ini tidak bisa berdampingan sebagaimana Islam berdampingan dengan agama lain. Titik itu akan menciptakan konflik horizontal, apalagi kalau jumlahnya sama besar. Majelis Ulama Indonesia sudah mengeluarkan fatwa tentang hal-hal tersebut." Mulyadi, Bekasi.

"Toleransi beragama apalagi sesama Muslim akan tercipta jika saling menghormati, namun yang terjadi bahwa doktrin Syiah yang melecehkan status al-Qur'an dan kemuliaan para sahabat Nabi Muhammad SAW. Jika ingin integrasi bangsa maka hal-hal yang di atas haruslah dihindari dan cukuplah dalam satu agama yaitu Islam tanpa embel-embel Syiah." Mohamad Salim Pitriono, Jakarta.

"Karena kaum Sunni tadak mau Syiah merajalela di Indonesia, khususnya di Madura. Karena hukum Syiah itu tak sesuai dengann nas al-Qur'an dan assunah. Memang di Indonesia, bebas beragama tapi ingat kaum Sunni tidak mau Syiah merajarela, khususnya di Pulau Madura." Lasim, Madura.

"Sekarang anda lihat negara Suriah atau sejarah Syiah. Itu alasan mengapa Syiah tidak di perkenankan di Indonesia." Murphy, Jakarta.

"Saya rasa tidak karena aparat harus netral. Menurut saya bukan itu alasannya, mungkin saja Ahlulbait bermaksud mau mengajak atau memperbanyak pengikutnya sehingga mempengaruhi ummat Sunni. Kalau mereka tidak mengganggu, umat Sunni juga tidak akan mau mengganggu mereka." Riandi, Medan.