Masih ada 'teror' Natal dan Tahun Baru

  • 13 Desember 2013
  • komentar
Polisi Indonesia
Polisi mengatakan informasi tentang teror diperoleh dari beberapa penangkapan terduga teroris.

Kepolisian Indonesia mengatakan mengetahui adanya rencana teror dan gangguan keamanan menjelang akhir tahun

Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Pol Ronny F. Sompie, mengatakan kepada BBC Indonesia bahwa informasi tersebut berasal dari beberapa penangkapan terduga teroris beberapa bulan terakhir.

"Kita berupaya melakukan penangkapan terhadap sindikat daripada tersangka-tersangka yang sudah kita tangkap, dan mudah-mudahan dengan kegiatan yang kita intensifkan ini kita bisa mengajak masyarakat bersama-sama untuk meningkatkan, terutama sistem keamanan lingkungan di setiap komunitas masyarakat," jelasnya.

Sementara pengamat terorisme dari Yayasan Prasasti Perdamaian, Taufik Andrie, berpendapat momen menjelang pemilu merupakan waktu yang 'cocok' untuk aksi teror karena perhatian polisi terbagi antara pengamanan pemilu dan kewaspadaan aksi teror.

Namun Taufik berpendapat ada kecenderungan sasaran teror di Indonesia lebih beralih ke isu-isu global.

"Memang Natal dan perayaan Tahun Baru rawan karena menjadi titik strategis karena identik dengan kaum nasrani yang bagi sebagian dari mereka masih dianggap musuh. Namun dari tahun ke tahun isu ini menurun karena kelompok teroris lebih banyak menyoroti isu global tentang Suriah, misalnya."

Kirim pendapat

Forum BBC Indonesia ingin mengumpulkan berbagai pendapat Anda terkait ancaman teror tersebut.

Apakah ini berarti upaya penanggulangan teror yang ditempuh oleh pemerintah Indonesia selama ini tidak berhasil?

Tapi mungkin harus diakui pula bahwa terorisme di Indonesia sudah jauh berkurang jika dilihat dari skala serangannya.

Atau Anda berpendapat bahwa selama kesenjangan sosial dan ketidakadilan masih terjadi maka aksi terorisme tidak akan pernah bisa diberantas tuntas.

Kami menantikan semua komentar, pendapat, dan saran Anda. Sebagian pendapat yang masuk akan kami siarkan dalam siaran BBC Kamis 19 Desember.

Suara Anda

"Terorisme terjadi karena kurangnya ilmu agama yang tertanam dalam diri mereka." Raudah Nurjanna, Makassar.

"Teroris tidak hanya meresahkan Indonesia tapi meresahkan seluruh dunia. Secara umum Indonesia berhasil menumpas gerakan terorisme tapi pepatah mengatakan patah tumbuh hilang berganti. Contohnya Al Qaida, walaupun Osama bin Laden sudah tidak ada lagi tapi Al Qaida masih ada dan masih berjalan. Jadi jika hari Natal dan Tahun Baru nanti ada ancaman teroris sudah tentu pemerintah Indonesia bisa mengamankannya. Saya kurang setuju jika terorisme dikaitkan dengan agama Islam karena agama Islam tidak mengajarkan kepada pemeluknya untuk menjadi teroris." Agisaiful Zubat, Samarinda.

"Di setiap negara teror pasti ada dan besar kecilnya teror tergantung pada rasa keadilan yang dirasakan masarakat. Teror merupakan respon sekolompok masyarakat terhadap ketidakadilan ekonomi maupun sistem atau regulasi. Untuk mengurangi teror harus ditingkatkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat." Tresna Nano, Cirebon.

"Sudah jelas itu menjadi salah satu target utama mereka tapi saya sebagai umat Kristiani menaruh kepercayaan yang besar kepada institusi kepolisian. Seperti tahun sebelumnya, penjagaanya amat ketat." Tonny, Denpasar.

"Untuk menumpas gerakan teroris diperlukan pemahaman Islam secara kaaffah (totalitas) oleh karena itu diperlukan pemberdayaan para ulama salaf yang mumpuni yang berpedoman kepada Quran, sunnah, sahabat nabi, tabiin dan tabuttabiin. Untuk memberikan pencerahan kepada generasi yang berpotensi untuk terkontaminasi oleh faham teroris. Wallahu'alam." Unang Suparman, Bandung.

"Upaya pemerintah sudah berhasil, terbukti banyaknya anggota teroris yang ditangkap. Tetapi kejahatan dan kebaikan selalu ada di bumi ini, tidak terkecuali di Indonesia. Tinggal kita dan pemerintah harus saling bergandeng tangan membasmi teroris dengan info dari warga dan aparat pemerintah yang membasmi. Jangan kita lengah dan waspada terus." Yoseph Gunarto, Jakarta.

"Masalah kekerasan bermotif agama sampai kapan pun tidak akan lenyap meskipun yang menjadi korban bersikap pasif (tidak membalas) sebab hal itu sudah tertanam di dalam genetika ajaran pelaku kekerasan tersebut." Sucipto.

"Dengan ditangkapnya tiga teroris baru-baru ini, memang ancaman teror masih nyata walau karena dana minim jadi aksi 'sadis' mereka seolah-olah reda. Kelompok radikal ini minoritas dari kaum Muslim tapi gaungnya jadi menguasai mayoritas yang diam karena yang dipakai bom untuk membunuh siapa saja, tidak melulu Kristiani atau kaum kafir lainnya (versi mereka). Teroris akan tetap ada selama pembinaan teroris yang saat ini dipenjara dilakukan setengah hati, tidak komprehensif, sosial ekonomi yang timpang, ulama yang radikal tetapi eksis." AG Paulus, Purwokerto.