Haruskah terduga teroris ditembak mati?

Penggerebekan teroris
Image caption Densus 88 melakukan penggerebakan di berbagai tempat yang diduga sebagai persembunyian teroris.

Dalam satu peristiwa enam orang yang diduga sebagai teroris ditembak mati oleh Detasemen Khusus 88 Polri di Tangerang Selatan, namun tindakan polisi antiteror itu kembali menuai kecaman.

Kecaman antara lain datang dari Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Hajriyanto Thohari. Ia menyatakan tidak setuju dengan cara-cara yang ditempuh Densus 88 karena Densus langsung melakukan penembakan hingga menewaskan orang yang diduga sebagai teroris.

Menurut Hajriyanto Thohari, seharusnya asas praduga tak bersalah harus tetap dikedepankan.

Sebelumnya Mabes Polri menyatakan memiliki alasan kuat menembak mati enam orang yang diduga sebagai teroris di Ciputan.

Alasan Polri, antara lain adalah aparat sudah memberikan peringatan untuk menyerahkan diri tetapi orang-orang yang diduga sebagai teroris justru menembak aparat dari dalam rumah.

Penggerebekan orang-orang yang diduga sebagai teroris yang berakhir tragis tidak hanya terjadi di Tangerang Selatan saja. Pada Juli 2013, dua orang yang diduga sebagai teroris ditembak mati di Tulungagung.

Pada Oktober tahun lalu, polisi menembak mati terduga teroris Suardi (50) setelah menolak ditangkap dan melawan dengan melepaskan tembakan di Bone, Sulawesi Selatan.

Komentar

Sumbangan pendapat Anda kami nantikan untuk Forum BBC Indonesia di radio Kamis, 9 Januari 2014, dan juga di online BBCIndonesia.com.

Bagaimana komentar Anda mengenai cara-cara polisi menangani terduga teroris?

Apakah seharusnya polisi menembak mati mereka karena dianggap membahayakan?

Ataukah aparat keamanan seharusnya cukup melumpuhkan orang-orang yang diduga sebagai teroris sehingga mereka bisa diusut secara hukum?

Mengingat penembakan mati dalam penggerebekan orang-orang yang dicurigai sebagai teroris sudah sering terjadi, hal-hal apa yang perlu dilakukan?

Mohon isi nama dan nomor telepon Anda di kolom bawah untuk kami hubungi guna merekam pendapat Anda.

Komentar juga dapat disampaikan lewat Facebook BBC Indonesia.

Ragam pendapat

"Teroris memang perlu diberantas, tetapi tidak dengan cara tembak mati, cukup dengan melumpuhkan karena azas praduga tak bersalah harus dikedepankan serta informasi-informasi harus digali." R Deden Denny, Denpasar.

"Seharusnya aparat keamanan cukup melumpuhkan orang-orang yang diduga sebagai teroris sehingga mereka bisa diusut secara hukum. Karena kalau ditembak mati akan menyebabkan dendam serta akan ada pengganti." Badlisyah, Balikpapan.

"Teroris ini terus menerus meresahkan masyarakat, jadi kalau mereka ditembak kalau mereka melawan, saya kira wajar saja pihak kepolisian menembak mereka." Nursa, Kutai Barat.

"Haruskah senjata dilawan dengan senjata? Haruskah kebencian dilawan dengan kebencian? Haruskah kekerasan dilawan dengan kekerasan? Menurut saya, satu-satunya cara yang ampuh untuk melumpuhkan kekerasan adalah dengan melawannya dengan gerakan welas asih atau yang disebut Karen Armstrong dengan compassion. Benci hanya bisa dilumpuhkan dengan cinta dan kasih sayang. Begitu pun dengan kekerasan dan terorisme. Caranya? Kita hanya perlu membuka mainstream para teroris tersebut dengan pendekatan cinta kasih, empati, peduli. Karena teroris juga manusia." Lina, Jakarta.

"Densus 88 tidak mungkin menembak para tersangka kalau para teroris tidak menembak Densus 88. Dan kalau dikatakan melanggar HAM, bagaimana dengan para teroris tersebut, apa mereka tidak melanggar HAM, dan kalau para polisi yang meninggal karena ditembak, pernahkah para teroris berpikir tentang HAM? Kapan Indonesia bisa aman kalau para polisi selalu dihadapkan dengan HAM?" Darma Rodriques, Ungaran.

"Teroris harus diberantas habis dan ditembak mati, orang yang menjadi teroris telah dicuci otaknya. Mereka hanya mengganggap dirinya dan kelompoknya saja yang benar. Tugas pemerintah dan para pemimpin agama agar memberi pencerahan kepada umatnya masing-masing untuk menjalankan hidup yang baik dan benar tanpa merusak atau merugikan orang lain." Tony, Banjarbaru.

"Ditembak mati bukannya habis, malah makin banyak, tembak saja terus. Yang berjihad itu punya seribu nyawa, mati satu tumbuh seribu." Imran Aninggili, BBC Indonesia di Facebook.

"Menembak mati para terduga teroris tanpa pengusutan dan bukti yang sah adalah pelanggaran HAM." Cikgu Muka Buk, BBC Indonesia di Facebook.

"Kalau memang negara ini negara hukum ya perdalam saja dulu pasal-pasalnya. Masa baru terduga saja sudah dimatiin? Iya kalau benar teroris. Kalau bukan? Bagaimana kalau yang diduga teroris itu keluarga kalian? Ngomong boleh panjang lebar. Intisarinya juga yang jelas lah." Rezza Agata Priadi, BBC Indonesia di Facebook.

"Teroris jangan disepelekan. Tindakan Densus 88 sudah benar dan tepat. Ketua MPR kita ini tampaknya tidak tahu ideologi para teroris ini. Halo pak MPR, kenapa nggak bapak bilang saja sama para teroris itu, "hei para teroris kalau membunuh jangan pakai bom tapi dengan cara yang lain dong" Bukankah pernyataan ini paralel dengan yang dikatakan pak ketua MPR?" Fatimah, Medan.

Berita terkait