Serba-serbi kasus Jessica: jeans misterius, paranormal, wartawan, dan perkara lainnya

Jessica Kumala Hak atas foto AFP

Dalam 32 kali sidang perkara dugaan pembunuhan Wayan Mirna Salihin dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso, berbagai hal menarik diperdebatkan di ruang sidang dan terkait persidangan.

Berikut adalah beberapa di antaranya.

Kontroversi sianida

Salah satu hal yang tidak dapat ditampik menyita perhatian masyarakat terkait kasus pembunuhan Mirna adalah ketika sianida disebut-sebut sebagai penyebab kematian perempuan 27 tahun itu.

Racun mematikan itu biasa digunakan untuk pestisida atau pembunuh hama.

Image caption Ilustrasi sianida.

Ahli racun versi jaksa, Nursamran Subandi, menyebut "sianida berasal dari kopi es Vietnam," yang diminum Mirna dan dipesan oleh Jessica.

Pihak jaksa menyatakan kadar sianida yang terminum oleh Mirna mencapai 171,42 miligram. "Dalam literatur, dosis sianida terendah yang bisa menewaskan manusia adalah 2,85 miligram," tutur Nursamran dalam persidangan.

Dokter forensik versi jaksa, Slamet Purnomo, juga menegaskan Mirna meninggal karena sianida, sebab "Mirna kejang-kejang dan sulit bernapas, jasad lebam, serta bibir menghitam."

Hak atas foto AFP
Image caption Ruang sidang dengan terdakwa Jessica yang selalu dipenuhi pengunjung.

Namun, itu dibantah oleh ahli racun forensik versi pengacara Jessica, Beng Beng Ong. Dia mempertanyakan "Mengapa sianida tidak ditemukan di hati dan empedu Mirna?"

Pihak Jessica menyebut dokter forensik yang memeriksa cairan lambung Mirna setelah tiga hari kematian, menemukan kandungan sianida 'hanya' 0,2 miligram.

Kandungan sianida itu dinilai "terlalu kecil untuk menyebabkan kematian." Beng Beng Ong bahkan mengklaim 0,2 miligram sianida itu terbentuk secara alamiah seusai kematian Mirna.

Image caption Ilustrasi es kopi Vietnam.

Celana jeans misterius

Celana yang digunakan Jessica saat bertemu Mirna, menjadi salah satu hal yang ramai diperbincangkan. Pasalnya celana tersebut kemudian dibuang oleh pembantu rumah tangga atas perintah Jessica, setelah Mirna tewas.

Dalam persidangan, Jessica menyebut celana jeansnya dibuang karena sobek.

"Seingat saya yang benar-benar bisa saya pikirkan, (celana itu sobek) waktu saya naik ke mobil Arief (suami Mirna), saat ke (rumah sakit) Abdi Waluyo mengantar Mirna," tutur Jessica saat persidangan.

Hak atas foto Thinkstock
Image caption Ilustrasi celana jeans yang sobek.

Jessica bercerita, sehari sesudah kejadian, pembantu rumah tangganya memberi tahu kembali soal sobekan itu. "Saya bilang, oh ya sudah, buang saja. Saya enggak terlalu peduliin," kata Jessica.

Jaksa penuntut sempat bertanya, "Kenapa (celana itu) enggak diperbaiki, dijahit?"

"Celana saya banyak, saya enggak kepikiran ke sana juga," jawab Jessica.

Hingga kini keberadaan celana jeans Jessica itu masih misterius.

Ahli lawan ahli

Salah satu hal yang menarik dari rangkaian persidangan dengan terdakwa Jessica adalah banyaknya pakar atau ahli yang dihadirkan. Pakar dari masing-masing kubu, baik pengacara maupun jaksa, memberikan penafsiran yang berbeda bahkan saling bertolak belakang terhadap suatu topik. Suasananya bahkan terasa seperti perang kredibilitas.

Hak atas foto AFP
Image caption Suasana sidang dengan terdakwa Jessica.

Misalnya yang terjadi antara psikolog klinis yang dihadirkan jaksa, Antonia Ratih Andjayani, dan psikolog yang dihadirkan pengacara Jessica, Dewi Taviana Walida Haroen, terkait kecurigaan mengapa Jessica menaruh tas kertasnya di atas meja di kafe Olivier, seperti menutupi sesuatu.

Antonia Ratih Andjayani yang juga memeriksa kejiwaan Jessica dan menuangkan hasilnya ke dalam berita acara pemeriksaan (BAP), mengungkapkan, berdasar perilaku lazim orang yang bertamu di restoran, umumnya akan meletakkan barang bawaannya di samping tubuhnya, jika masih ada ruang kosong. Saat itu Jessica masih sendiri di mejanya di kafe tersebut.

Hak atas foto TV One
Image caption Tayangan video CCTV dari Kafe Olivier yang diputar di ruang persidangan.

Ini dikritisi psikolog dari sisi pengacara Jessica. Dewi Taviana Walida Haroen yang merupakan psikolog Universitas Indonesia menyatakan apa yang dilakukan Jessica itu wajar. Sebab kebiasaan seseorang tidak bisa disamaratakan dengan orang lain secara umum.

"Contohnya saya pribadi Pak, Bapak lihat, tas saya letakkan di mana? Kenapa saya letakkan di sini kira-kira?" tanya Dewi sambil menunjukkan tasnya yang ditaruh di atas meja dalam persidangan, di PN Jakarta Pusat.

Hak atas foto AFP
Image caption Jessica saat hendak memasuki ruang persidangan.

Dewi menjelaskan, beberapa orang memiliki kebiasaan meletakkan tas atau barangnya di atas meja, sekali pun ada tempat lain. Perilaku itu didasari sejumlah alasan, antara lain, agar bisa dilihat orang lain alias pamer, takut hilang atau diambil orang, dan sebagainya.

Wartawan misterius dan paranormal

"Saya dapat informasi dari salah satu penasihat hukum saya. Seorang bernama Amir Papalia melihat Arief memberikan bungkusan hitam kepada Rangga (barista Kafe Olivier) di parkiran Sarinah sehari sebelum Mirna meninggal, yakni pada 5 Januari 2016 pukul 15.50."

Pernyataan itu disampaikan Jessica dalam sidang dupliknya, 20 Oktober lalu.

Hak atas foto AFP
Image caption Jessica dan pengacaranya, Ottot Hasibuan

Dalam sidang ke-31 itu, penasehat hukum Jessica juga membacakan transkrip pembicaraan dengan Amir. Amir yang mengaku wartawan tabloid Bhayangkara Indonesia (Bharindo) milik Mabes Polri, menyebut sempat datang ke kafe Olivier untuk menanyakan keberadaan Rangga, tetapi dia dilarang masuk.

Salah satu kuasa hukum Jessica, Otto Hasibuan, bahkan mengungkapkan Amir menduga Rangga menerima uang Rp 140 juta dari Arief untuk membunuh Mirna.

Hak atas foto AFP
Image caption Dalam dupliknya Jessica menyebut Amir Papalia menyatakan bahwa suami Mirna bertemu dengan bartender kafe Olivier, sehari sebelum tewasnya Mirna.

Namun, apa yang disampaikan Amir dalam duplik yang dibacakan Jessica, berbeda dengan pengakuan rekan-rekan Amir yang dihadirkan keluarga Mirna. Amir mengaku mendapatkan bukti dari seseorang yang ia sebut "orang tua" yang diketahui merupakan seorang paranormal.

Rekan Amir juga menyebut, dia tidak sepenuhnya bekerja untuk Bharindo, "tetapi punya pekerjaan lainnya, contohnya calo penerimaan pegawai."

'Sirkus' media

Tidak bisa ditampik, sidang dengan terdakwa Jessica sangat menarik perhatian publik lebih dari lima bulan terakhir.

Sejumlah stasiun televisi menayangkan sidang kematian Mirna dalam durasi cukup panjang, bahkan hingga 12 jam. Pembicaraan di media sosial pun selalu tinggi, bahkan tagar #SidangJessica pernah dicuit lebih dari 24.000 ribu kali saat salah satu sidang berlangsung.

Hak atas foto AFP
Image caption Ramainya media yang meliput sidang Jessica.

Tak pelak banyak pihak yang menyebut tayangan itu sebagai 'sirkus' media.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menyebutkan liputan media terkait sidang Jessica dengan dakwaan membunuh rekannya, Mirna, mempengaruhi asas praduga tak bersalah.

Hardly Stefano, koordinator bidang isi siaran KPI, mengatakan durasi penyiaran sidang Jessica serta proporsi ulasan untuk keluarga korban yang lebih banyak "pasti ada pengaruhnya" terhadap asas praduga tak bersalah.

Sementara itu, pengamat dari pusat studi media dan komunikasi, Remotivi, Wisnu Prasetya Utomo, mengatakan banyak liputan media yang tidak berkaitan langsung dengan kasus pembunuhan ini.

Hak atas foto AFP
Image caption Jaksa menuntut Jessica hukuman 20 tahun penjara.

"Yang membuat asas praduga tak bersalah hilang, karena diarahkan, misalnya mencari yang tak berkaitan. Misalnya ada TV yang menyiarkan pendapat tetangga-tetangga Jessica, yang tak berhubungan, tapi itu diulang dan didramatisir," pungkas Wisnu.

Topik terkait

Berita terkait