Sebelas penambang di Jambi masih belum ditemukan

Tambang emas, Pulau Batok
Image caption Penambangan emas liar diperkirakan meningkat di Indonesia karena naiknya harga emas (Gambar: penambangan emas liar Gunung Batok, Pulau Buru, November 2015).

Upaya pencarian 11 penambang emas yang tertimbun tanah longsor di Kapubaten Merangin, Provinsi Jambi, masih terus dilanjutkan, tiga hari setelah bencana tanah longsor.

"Belum ditemukan karena masih banjir. Kita masih berupaya terus. Tempatnya itu terpencil," jelas juru bicara Polda Jambi, AKBP Kuswahyudi Tresnadi kepada wartawan BBC Indonesia, Liston P Siregar.

Lokasi bencana longsor di kawasan perbukitan terpencil memerlukan waktu perjalanan sekitar 12,5 jam dari ibu kota provinsi, Jambi.

Bagaimanapun ada kekhawatiran para korban mungkin sudah meninggal, karena tertimbun di lobang penggalian sejak Senin (24/10) tengah hari.

Para penambang liar tersebut sedang berada di dalam lobang galian sedalam sekitar 50 meter ketika hujan lebat menyebabkan tanah longsor dan menimbun mereka.

Penyedotan air

Jumlah korban yang hilang masih belum bisa dipastikan, namun warga setempat mengatakan 11 orang, yang berusia antara 21 hingga 55 tahun.

"Laporan terakhir akan diupayakan untuk penyedotan air. Para petugas sudah di lokasi, baik dari aparat polisi, TNI, Basarnas, dan Pemda," kata AKBP Kuswahyudi.

"Perlu pula ditegaskan itu adalah lubang galian liar. Jadi nanti polisi akan tetap melaksanakan penegakan hukum karena penambangan emas liar sedang berupaya diberantas," tambahnya.

Penambangan emas liar diperkirakan semakin banyak belakangan ini di beberapa kawasan Indonesia karena harga emas yang meningkat.

Bulan Oktober 2015, 12 orang tewas di Kabupaten Bogor karena tertimbun tanah longsor ketika sedang berupaya menambang emas secara gelap di bekas lokasi tambang PT Antam.

Topik terkait