Diganjar 20 tahun penjara, Jessica ajukan banding

Jessica Kumala Wongso dinyatakan bersalah membunuh Wayan Mirna Salihindan divonis 20 tahun penjara oleh hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (27/10).

Hak atas foto AFP
Image caption Pembacaan vonis atas Jessica Wongso berlangsung sekitar lima jam di PN Jakarta Pusat.

"Terdakwa terbukti melakukan pembunuhan berencana yang menghilangkan nyawa orang," ungkap Ketua Majelis Hakim, Kisworo, seperti dilaporkan wartawan BBC, Rafki Hidayat, dari ruang sidang.

Jessica tampak menitikkan air mata saat mendengarkan vonis, yang menjadi puncak dari sidang sepanjang lima jam itu.

Namun penasehat hukum Jessica, Otto Hasibuan, menyatakan akan banding atas keputusan majelis hakim.

"Terus terang kami kecewa karena majelis hakim bertindak seperti jaksa, tidak mementingkan barang bukti. Secara tegas kami nyatakan banding," pungkas Otto di ruang sidang.

Hak atas foto AFP
Image caption Keluarga Wayan Mirna Salihin memberikan reaksi atas keputusan hakim yang menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara.

Usai vonis, masyarakat tampak riuh di Pengadilan Negeri Jakarta pusat karena memiliki pandangan yang berbeda dan saling berdebat.

Ada yang mengungkapkan keraguan atas keputusan itu dan berujar, "Kalau terbukti, ya wajar dihukum 20 tahun. Tapi kalau lebih berat dari itu, nggak adil."

Sementara warga lain berkomentar, "Nggak ada bukti kok, harusnya bebas."

Vonis sama dengan tuntutan jaksa

Sebelumnya Jaksa Penuntut Umum, menuntut Jessica dengan hukuman 20 tahun penjara karena didakwa melanggar pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana karena dituduh membunuh rekannya Wayan Mirna Salihin, Januari 2016 lalu.

Jessica dituduh membunuh Mirna dengan menggunakan racun sianida yang dimasukkan ke dalam kopi yang diminum Mirna di kafe Olivier, Grand Indonesia, Jakarta Pusat.

Motif pembunuhan, menurut jaksa adalah sakit hati, setelah Mirna disebut-sebut meminta agar Jessica memutus pacarnya yang dianggap 'tidak baik dan tidak modal'.

Hak atas foto AFP
Image caption Pengacara Jessica memutuskan untuk mengajukan banding.

"Ucapan itu membuat terdakwa sakit hati...," menurut jaksa.

Bagaimanapun kuasa hukum Jessica, Otto Hasibuan, di persidangan menilai tuduhan motif itu tidak masuk akal.

"Hanya karena dinasehati sahabatnya, lantas dia datang dari Sydney ke Jakarta untuk melakukan pembunuhan? Sangat tidak masuk akal," pungkas Otto.

Kritik atas persidangan

Persidangan atas Jessica Kumala Wongso ini mendapat perhatian yang meluas di kalangan masyarakat dan menjadi laporan rutin berbagai media.

Banyak juga pihak yang mempertanyakan peliputan media yang dianggap sudah berlebihan sehingga melanggar praduga tak bersalah.

Dan Komisi Penyiaran Indonesia, KPI, pada Agustus 2016, mengatakan beberapa stasiun televisi 'berpotensi mengabaikan prinsip praduga tak bersalah, melakukan penggiringan opini publik, serta penghakiman' terkait penyiaran tentang persidangan kasus pembunuhan Mirna.

Sementara Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia, PBHI, Jakarta, melaporkan hakim serta jaksa dalam sidang Jessica ke Komisi Yudisial karena dianggap menggelar persidangan yang tidak sesuai dengan hukum acara pidana.

Selain itu, PBHI juga melaporkan pengacara Jessica ke Dewan Kehormatan Advokat dengan alasan yang sama.

Topik terkait

Berita terkait