Penurunan patung Buddha di Tanjung Balai dianggap mengancam keberagaman

Tanjung Balai Hak atas foto Lama Karma Zopa Gyatsho
Image caption Penurunan Patung Buddha dilakukan di Vihara Tri Ratna, Tanjung Balai, Sumatera Utara.

Penurunan patung Buddha Amithaba di Vihara Tri Ratna di Tanjung Balai dikhawatirkan akan menjadi preseden dan menunjukkan aparat tunduk pada kelompok intoleran seperti disampaikan oleh Setara Institute.

Wakil Ketua Setara, Bonar Tigor Naipospos mengatakan penurunan Buddha ini dapat mengancam keberagaman dan sebenarnya tak perlu dilakukan karena berada di lokasi rumah ibadah.

Bonar khawatir kejadian serupa dapat terjadi di tempat lain, jika aparat dan pemerintah di daerah 'tunduk' pada kelompok intoleran.

"Bukan hanya preseden, akan selalu muncul kasus semacam ini di tempat lain selama pemerintah tidak memperlihatkan ketegasannya untuk melindungi kelompok minoritas.

"Selalu kita tekankan kalau negara ingin menjaga keberagaman jangan memberikan kelompok-kelompok intoleran ini untuk unjuk gigi, karena konsekuensinya buruk di kemudian hari," jelas Bonar.

Bonar mengatakan pemerintah harus memiliki strategi untuk menangani kelompok ini, karena akan mengancam kebhinekaan.

"Setiap agama, kelompok mempunyai otoritas untuk bukan hanya mempraktikkan agamanya tetapi juga membuat rumah ibadah yang nyaman bagi mereka, seperti yang terjadi di Tanjung Balai," kata Bonar.

Hak atas foto Maskur Abdullah
Image caption Polisi menjaga sebuah vihara di Tanjung Balai pascakerusuhan.

Patung Buddha Amitabha ini diturunkan pada Kamis lalu (27/10), setelah ada desakan dari organisasi masyarakat yang didukung oleh pemerintah kota Tanjung Balai, MUI dan Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKUB).

Protes terhadap patung Buddha setinggi enam meter yang berada di Vihara Tri Ratna ini telah terjadi sejak patung ini dipasang pada 2009 lalu, dan diprotes oleh ormas pada 2010 lalu karena menganggap masyarakat di seberang sungai Asahan secara tak langsung menghadap patung ketika salat.

Anggota FKUB Sumatera Utara Erwan Effendi mengatakan sejak enam tahun lalu sudah ada kesepakatan untuk menurunkan patung Buddha itu karena daerah itu dihuni mayoritas Muslim.

"Dari laporan masyarakat dan pengamatan kita, di sana itu kan mayoritasnya Muslim, kemudian lantas berdiri patung itu, dan kayaknya seperti ikon kota Tanjung Balai, jadi masyarakat Muslim merasa itu tak pantas, dan meminta itu diturunkan," jelas dia.

Erwan menganggap keberadaan patung Buddha itu juga merupakan salah satu yang memperburuk konflik antar umat agama di Tanjung Balai.

Hak atas foto FACEBOOK
Image caption Status Facebook yang viral di media sosial

Umat Buddha 'menerima' demi ketenteraman

Dalam pertemuan dengan pemerintah, MUI dan FKUB, pengurus Vihara Tri Ratna telah menandatangani kesepakatan untuk menurunkan patung Buddha pada 1 September lalu. Patung Buddha itu dipindahkan ke lokasi yang lebih rendah di halaman rumah ibadah yang sama.

Eddy Suyono Setiawan, ketua Majelis Buddhayana Indonesia, cabang Sumatera Utara yang menaungi Vihara Tri Ratna, mengatakan masyarakat Buddha menerima putusan tersebut demi menjaga kerukunan umat beragama.

"Dasar kita memindahkan itu adalah demi untuk melihat hal-hal yang lebih besar lagi yaitu untuk menjaga suasana yang lebih kondusif, suasana yang nyaman dan aman bagi umat Buddha dan Tanjung Balai pada umumnya.

"Dan kalau kita memindahkan ini ternyata bisa memberikan ketenangan, ketenteraman suasana di sana, toh itu kan hanya sebagai simbol representasi ketuhanan yang sebenarnya ada dalam diri kita masing-masing," kata Eddy.

Menanggapi penurunan patung Buddha di Vihara Tri Ratna Tanjung Balai, status Karma Zopa Gyatsho yang menjawab pertanyaan umat Buddha menjadi viral di media sosial.

Beberapa umat Buddha bertanya kepada saya ketika melihat patung Buddha yg terletak di lantai atas sebuah wihara di kota Tanjung Balai, Asahan, Sumatra Utara diturunkan: "Lama, kenapa rupang(arca/patung) di wihara diturunkan"? Saya jawab begini," tidak apa apa rupang Buddha turun, sing penting welas asihmu terhadap semua makhluk tidak ikut turun, semua makhluk hidup mendambakan kebahagiaan. Apabila dengan turun nya patung Buddha bisa memberikan kebahagiaan kepada orang lain, maka bukankah doa khas umat Buddha yaitu "semoga semua makhluk hidup berbahagia" menjadi kenyataan?"

Agustus lalu, sejumlah Vihara di Tanjung Balai dirusak menyusul permintaan seorang perempuan kepada imam untuk mengecilkan pengeras suara di masjid. Menurut catatan Setara Institute kelompok intoleran seringkali menolak atau bahkan merusak rumah ibadah kelompok minoritas.

Selain itu, kelompok yang mengatasnamakan agama juga beberapa kali memprotes pendirian patung di Kabupaten Purwakarta Jawa Barat, dengan pembakaran Patung Arjuna Memanah yang terletak di tempat wisata Situ Wanayasa, Februari 2016 lalu.

Selain itu, patung wayang Gatot Kaca dan Semar juga dirusak. Sementara di Bekasi, Patung Tiga Mojang yang berdiri di dalam kompleks perumahan juga dirobohkan massa.

Topik terkait

Berita terkait