Kasus Supriyanto, nelayan WNI yang tewas di kapal ikan Taiwan, akan dibuka kembali

Supriyanto Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Supriyanto bekerja sebagai kernet bus sebelum menjadi awak kapal ikan asing.

Pemerintah Taiwan akan membuka kembali penyelidikan terhadap kasus kematian Supriyanto setelah Badan Pengawas Pemerintah Taiwan, Control Yuan, melaporkan adanya kesalahan penanganan yang dilakukan Kementerian Perikanan Taiwan.

Laporan Control Yuan yang dikeluarkan 5 Oktober 2016 menyatakan bahwa kontrak Supriyanto penuh dengan persyaratan yang tidak adil, termasuk pengurangan gaji dan klausul yang menyatakan dia dapat dipindahkan ke kapal lain.

Supriyanto mendapat dua kontrak: 'Permohonan Persetujuan' dan 'Implementasi Aktual'. Ada banyak persyaratan yang tidak masuk akal dalam kontrak yang terakhir disebutkan. Misalnya pemotongan gaji sebesar US$100 (Rp 1,3 juta) per bulan sebagai 'jaminan'.

Gaji para nelayan di kapal ikan Taiwan adalah sebesar US$300 - US$400 (Rp 3,9 - 5,2 juta) namun ada nelayan asing yang dibayar hanya sebesar US$50 (Rp650.000) per bulan.

Menurut Control Yuan, Kementerian Perikanan Taiwan harus bertanggung jawab karena tidak mengawasi agen penyuplai tenaga kerja. Dalam kasus Supriyanto, mereka juga tidak melakukan penyelidikan secara layak dan mengawasi pemberian kompensasi yang sesuai.

Kasus Supriyanto menjadi perhatian media dan pemerintah Taiwan setelah sebuah video yang direkam dengan ponsel oleh kawan Supriyanto di kapal ikan asing itu tersebar.

Video itu memperlihatkan kondisi Supriyanto yang menyedihkan: kepalanya bocor, matanya merah akibat berdarah, kakinya lebam hingga susah berjalan.

Empat bulan berlayar, Supriyanto tewas di kapal.

Jaksa penuntut Taiwan mengatakan kepada BBC bahwa Supriyanto meninggal akibat infeksi lutut dan tidak ada yang mencurigakan dalam kasus ini.

Menurut laporan Control Yuan, Supriyanto menuturkan kepada kapten bahwa kondisinya tidak baik pada akhir Agustus, namun kapten tidak mengusahakan perawatan medis apapun yang membuat lukanya infeksi dan akhirnya meninggal dunia.

"Selama penyelidikan dilakukan oleh jaksa dari Pengadilan Negeri Pingtung di Taiwan, akibat penerjemah tidak mengerti bahasa Jawa Tengah, mereka tidak memperhatikan lebam dan perlakuan tidak wajar dari almarhum dan jaksa tidak memperhitungkan penyebab dan waktu kematian, dan apakah kelalaian yang menyebabkan kematian dan apakah ada perbudakan atau kejahatan lain."

"Mereka (jaksa) menutup kasus tersebut dan tidak melakukan tanggung jawab mereka dalam penyelidikan tersebut. Oleh karena itu kami meminta Departemen Kehakiman untuk meminta jaksa membuka kembali penyelidikan, untuk menyatakan kebenaran", demikian isi laporan Control Yuan.

Aktivis pembela nelayan migran di Taiwan, Allison Lee, mengatakan sayangnya penyelidikan dapat berjalan lama.

"Kami akan terus menekan badan legislatif untuk menekan Departemen Kehakiman. Kasus ini cukup besar, media asing banyak yang sudah menaruh perhatian. Mereka punya beban untuk menyelesaikan penyelidikannya", kata Allison.

Allison menambahkan laporan Control Yuan tersebut bukan hanya menggambarkan bagaimana departemen pemerintahan terkait menghiraukan HAM dan martabat pekerja migran di Taiwan, namun juga mengungkapkan kejahatan yang dilakukan kepada nelayan yang dipekerjakan dari luar negeri dan pelanggaran hukum pelaku usaha.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Supriyanto mendaftar di agen penyalur Jangkar Jaya untuk menjadi nelayan migran.
Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Agen-agen penyalur di Pemalang selalu penuh dengan calon pekerja.
Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Nelayan di Jawa Tengah banyak yang menjadi awak kapal asing karena bayarannya dianggap lebih baik.

Supriyanto adalah satu dari sekian banyak nelayan yang mendaftar di agen penyalur agar dapat bekerja di kapal ikan Taiwan.

Saat BBC Indonesia menyambangi beberapa agen penyalur di Pemalang, Jawa Tengah, kantor-kantor agen tersebut selalu penuh dengan calon pekerja.

Mereka berpendapat lebih baik menempuh risiko di negeri asing ketimbang tidak melakukan apa-apa di kampung halaman.

Allison Lee menuturkan salah satu akar permasalahan kekerasan terhadap nelayan migran di kapal ikan Taiwan adalah kontrak dari agen penyalur.

"Hal ini semakin menegaskan permohonan kami agar semua nelayan lokal dan asing dipekerjakan sesuai dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan dan untuk mempekerjakan nelayan asing dilakukan langsung antar pemerintah sehingga pihak-pihak yang mengambil kesempatan dari metode eskploitasi saat ini dapat dihentikan sehingga nelayan dapat terhindar dari nasib tragis seperti ini."

"Namun pemerintah Indonesia tidak menandatangani surat kesepakatan (MoU) atau perjanjian apapun dengan pemerintah Taiwan.

"Jika mereka tidak setuju untuk mempekerjakan langsung nelayan dari Indonesia ke Taiwan, hal itu (mempekerjakan langsung) tidak akan terwujud meski Taiwan memiliki peraturan tersebut". terang Allison.

Keluarga bersyukur

"Seandainya mereka mendapatkan hukuman yang setimpal itu baru kami lega", ungkap Tika, istri dari Setiawan yang adalah sepupu Supriyanto.

Sebelumnya, kepada BBC, Setiawan mengatakan mereka menuntut pelaku penganiayaan diadili.

"Kakak kami kan mungkin meninggalnya secara tidak wajar. Kami ini orang yang tidak mampu, tidak mengerti prosedur hukum. Saya mau orang namanya bertindak kesalahan ya ditindak hukum seadil-adilnya", kata Setiawan.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Dua anak Supriyanto: Moh Subur Makmun (10 tahun) dan Moh Dimas Aman Hakim (12 tahun), mengaku masih sangat kehilangan ayah mereka.

Jika terbukti terjadi pelanggaran, maka perusahaan kapal ikan tempat Supriyanto bersalah harus membayar kompensasi kepada keluarga Supriyanto.

"Kami sangat bersyukur. Itu akan berguna untuk anak-anak dari Mas Supriyanto karena jenjang pendidikan mereka masih cukup lama", ungkap Tika.

Keluarga Supriyanto telah mendapat santunan sebesar Rp4 juta dari agen, asuransi jiwa sebesar Rp41 juta dan gaji enam bulan Supriyanto sebesar Rp19 juta.

Namun, menurut Allison, mereka setidaknya bisa mendapatkan asuransi sebesar NT$500.000 (Rp 200 juta)

"Ini yang akan saya perjuangkan untuk mereka", kata Allison.

Supriyanto meninggalkan tiga anak yang masih kecil-kecil: Moh Dimas Aman Hakim (12 tahun); Moh Subur Makmun (10 tahun); Linda Cintia Praba (7 tahun).

Dua putranya sekarang tinggal bersama Rusmiati. Sedang putri bungsunya tinggal bersama kakak dari mantan istrinya di Indramayu.

Berita terkait