Meski sepi, bisnis masih berjalan normal di Glodok

glodok Hak atas foto Winarto Wongso
Image caption Kondisi pertokoan di kawasan Glodok, Jakarta Barat, sepi

Sebagian toko di daerah pusat perdagangan di daerah Glodok dan Mangga dua tutup akibat unjuk rasa 4 November. Namun masih ada usaha yang berjalan normal.

Winarto Wongso, pemilik usaha di Glodok Jaya, Jakarta Barat, berkata dia tetap menjalankan usaha seperti biasa meski banyak pemilik usaha lain di lingkungan pertokoan tempat dia beroperasi, memutuskan untuk tutup pada 4 November.

Namun dia akan memulangkan pekerjanya lebih cepat agar terhindar dari kemacetan.

Dia berkata banyak toko yang tutup akibat kekhawatiran kejadian 1998 terulang kembali.

"Walaupun secara logika tidak memungkinkan, namun banyak yang mengalami sendiri (kerusuhan 1998)", kata Winarto.

"Lebih dari apapun, (kejadian) hari ini sangat menyayat hati."

"Ketika luka dari '98 mulai sembuh, ketika kami mulai dapat melupakan, kami diingatkan kembali bahwa kami hanya akan terus menjadi warga kelas dua."

"Ahok memang gampang dinilai sebagai orang yang arogan yang terkadang berbicara sembarangan. Jadi biar dia dilabel seperti itu. Bukan sebagai orang kristen cina yang arogan", kata Winarto yang seorang keturunan Cina.

Hak atas foto WINARTO WONGSO
Image caption "Ketika luka dari 98 mulai sembuh, ketika kami mulai dapat melupakan, kami diingatkan kembali bahwa kami hanya akan terus menjadi wagra kelas dua", kata Winarto Wongso
Hak atas foto WINARTO WONGSO
Image caption "Ketika luka dari 98 mulai sembuh, ketika kami mulai dapat melupakan, kami diingatkan kembali bahwa kami hanya akan terus menjadi wagra kelas dua", kata Winarto Wongso

Tidak termakan isu negatif, Marnova Ngai, pemilik salah satu toko di ITC Mangga Dua, Jakarta Utara, berkata juga tetap akan beroperasi seperti biasa

"Kita akan terus buka sampai ada peringatan untuk menutup toko", kata Marnova.

"Saya berpikir ini sudah siaga 1, tidak perlu takut", kata Marnova Ngai.

Meski begitu dia juga akan memulangkan para pekerjanya lebih cepat agar tidak terjebak di kemacetan.

Marnova yang adalah keturunan Cina berkata dia tidak mau termakan isi pesan-pesan berantai yang beredar di aplikasi telepon dan media sosial.

"Saya bilang teman-teman saya tidak usah sharing yang begitu, takut tambah panas. Kalau sudah dikirimin, saya minta tidak usah di-sharing lagi. Tambah bikin panas, belum tentu juga benar," kata Marnova Ngai.

Hak atas foto DINI
Image caption Sebagian toko di ITC Mangga Dua tidak beroperasi mengantisipasi unjuk rasa 4 November
Hak atas foto DINI
Image caption "Harusnya masyarakat Indonesia sudah pintar, tidak mungkin merusak juga", kata Vinna

Salah satu pemilik toko lain di ITC Mangga Dua, Vinna Tjoeng, berkata dia juga tidak khawatir dengan unjuk rasa 4 November ini.

"Harusnya masyarakat Indonesia sudah pintar, tidak mungkin merusak juga", kata Vinna

Namun, dia juga memutuskan untuk menghentikan operasional toko lebih cepat dari biasanya.

"Barusan lihat berita ramai banget (pendemo), pulang sajalah, sepi juga", kata Vinna.

Begitupun bagi Athat, pemilik toko di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Dia berkata tetap membuka toko meski tutup lebih awal.

"Macet. Dan memang gedung (Tanah Abang) tutup cepat juga, jam 11 siang", kata Athat.

Menanggapi unjuk rasa 4 November ini, Athat mengaku tidak khawatir, meski ada isu negatif yang berhembus terhadap warga keturunan Cina dan Kristen.

Menurut Athat yang seorang keturunan Cina, pemerintah sudah siap mengantisipasi isu SARA.

"Kalau menurut saya ini sih lebih ke isu politik saja yah. Di lihat dari dialog-dialog petinggi dengan tokoh-tokoh keagamaan buat meredam isu-isu itu. Tapi yah ada segelintir oknum yang mungkin membawa ke arah sana", kata Athat.

Berita terkait