Pembunuhan dua WNI di Hong Kong: cerita kawan korban

Bankir Inggris Rurik Jutting bersama sejumlah terduga perempuan penghibur, beberapa waktu sebelum pembunuhan terhadap dua WNI. Hak atas foto Facebook / Ariane Guarin
Image caption Bankir Inggris Rurik Jutting bersama sejumlah terduga perempuan penghibur, beberapa waktu sebelum pembunuhan terhadap dua WNI.

Hari Selasa (8/11) ini, pengadilan Hong Kong menjatuhkan putusan terhadap Rurik Jutting, bekas bankir Inggris yang didakwa menyiksa dan membunuh dua perempuan warga Indonesia.

Bukti-bukti dan pernyataan serta pengakuan Rurik Jutting di persidangan dengan penyiksaan yang dilakukannya terhadap Seneng Mujiasih dan Sumarti Ningsih, mengguncangkan publik, khususnya keluarga korban dan masyarakat Indonesia di Hong Kong.

Keluarga Sumarti Ningsih memahami bahwa di Hong Kong tak ada hukuman mati, karenanya mereka hanya berharap hukuman terberat yang dimungkinkan, serta kewajiban membiayai anak Sumarti.

Di Hong Kong, Lydia (bukan nama sebenarnya) seorang warga Indonesia yang telah lama jadi pekerja illegal di Hong Kong, menyatakan hal serupa.

Hak atas foto Unknown
Image caption Jenazah Sumarti Ningsih ditemukan di dalam koper, membusuk pada November 2014
Hak atas foto LILIEK DHARMAWAN / BBC INDONESIA
Image caption Foto Sumarti Ningsih, WNI korban pembunuhan di Hong Kong, dan keluarga yang ditinggalkannya.

Lydia, sekitar 30an tahun, mengenal secara pribadi Sumarti Ningsih yang dikenal di Hong Kong sebagai sebagai Alice, dan Seneng Mujiasih yang di pekerjaannya sebagai penghibur menggunakan nama Jesse Lorena.

Lydia telah lama mengenal keduanya saat mereka masih hidup dan bekerja illegal di daerah lampu merah Wan Chai.

Sama seperti kebanyakan warga Indonesia pekerja ilegal di Hong Kong, mereka tinggal di kamar kos bersewa murah di gedung-gedung tua. Saling tahu, tapi tidak mau kenal dekat. Malah kadang saling curiga. Mereka tak pernah mau saling memberitahu siapa nama asli sebenarnya, katanya.

"Masalahnya banyak anak Indonesia yang mulai kerja di luar (secara ilegal). Jadi banyak saingan, bisa saling poking (lapor polisi)," kata Lydia kepada wartawan di Hong Kong, Valentina Djaslim, yang melaporkan untuk BBC Indonesia

"Kalau nama Ningsih atau Seneng, saya tak tahu. Saya hanya tahu nama panggilan mereka: Alice, yang bekerja sebagai 'escort,' lalu juga Jesse Lorena, yang jadi pelayan di New Makati Pub di Wan Chai. Tapi saya jarang berpapasan, karena saya kerja kasar sebagai tukang masak di beberapa restoran di Tsim Sha Tsui."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kawasan lampu merah Wan Chai, tempat banyak pendatang bekerja sebagai perempuan penghibur, termasuk dari Indonesia.

Lydia pindah kos, dan lama tak berjumpa keduanya, "dan saya kaget saat membaca berita bahwa Alice dan Jesse Lorena jadi korban pembunuhan sadis."

Yang juga mengagetkan dia, "Mengapa sesudah pembunuhan itu, justru yang banyak dibicarakan oleh warga Indonesia di Hong Kong, adalah profesi mereka sebagai perempuan penghibur, dan mereka dicibir, padahal mereka itu korban," katanya.

Disebutkan Lydia, profesi ini memang sering jadi jalan pintas bagi warga pendatang yang sudah berada di Hong Kong sebagai pekerja rumah tangga dan mendapat masalah dengan majikan mereka. Juga sebagai cara mendapat uang besar dengan mudah bagi pekerja rumah tangga di luar jam kerja rutin mereka.

Upah pembantu rumah tangga migran di Hong Kong per 1 Oktober 2016 adalah HK$ 4320 atau sekitar Rp. 7,2 juta per bulan. Mereka pun tak bebas berkeliaran karena diwajibkan tinggal di rumah majikan.

Sementara upah minimum buruh kasar untuk warga Hong Kong bisa mencapai HK$ 55 atau sekitar Rp.238.000 per jam, dan mereka bebas tinggal di mana saja.

Lebih lagi honor penjaja jasa escort atau pelayan di berbagai pub di Wan Chai, yang sering juga berarti pekerja seks komersial, yang bisa melangit hingga belasan ribu dolar hanya untuk semalam berpesta.

Hak atas foto EPA/ALEX HOFFORD
Image caption Rurik Jutting terdakwa yang mengaku menyiksa dua warga Indonesia itu terlebih dahulu sebelum membunuhnya.

Endang, 23 tahun, mengaku dirinya sering ditawari untuk 'bekerja sambilan' di Wan Chai oleh beberapa temannya. Namun janda satu anak asal Cirebon ini mengatakan dia tak berani nekat meski ditawari uang banyak.

"Sekarang saja, saya sudah berapa kali kena razia polisi, diminta tunjukkin Hong Kong ID (kartu identitas diri), lalu majikan saya ditelepon untuk dicek, benar nggak kalau saya ini punya majikan," kata Endang.

Di rekaman interogasi polisi Hong Kong pada 2 November 2014, Jutting mengaku Alice alias Sumarti Ningsih awalnya enggan mengikutinya ke apartemen Rurik Jutting karena tahu bahwa bankir asal Inggris itu penyuka seks yang sadistik. Namun Alice akhirnya tergoda, saat Jutting mengiming-imingi honor HK$ 12.000 atau Rp20 juta semalam.

"Saya memang nggak bisa nyalahin (Sumarti). Saya nggak bisa nyalahin mereka yang pilih jalan itu, karena ada teman saya yang semalam bahkan bisa dapat HK$ 15-17 ribu dolar (sekitar Rp25 juta-28,4 juta), walaupun mereka tahu resikonya tinggi," kata Lydia, berulang-ulang.

Ia menyesalkan mereka yang menghakimi orang-orang seperti Sumarti Ningsih dan Seneng Mujiasih terkait profesinya.

"Mereka itu tak punya banyak pilihan. dan hidup mereka sudah berat. JAdi jangan dihakimi," tandasnya.

Lydia menggambarkan, bahkan ada yang memperolok korban, seperti dalam sebuah acara bincang di sebuah radio berbahasa Kanton di Hong Kong yang bercanda bahwa peristiwa penggorokan leher kedua korban itu tak ubahnya seperti 'ayam Indonesia yang hendak dimasak.'

Hak atas foto Lilik Darmawan / BBC INDONESIA
Image caption Ahmad Kaliman mengatakan, ia marah mengetahui bahwa Sumarti Ningsih disiksa sebelum dibunuh.

Di Cilacap, Ahmad Kaliman, ayah Sumarti, mengatakan, apa pun yang dikatakan orang tentang kehidupan yang dijalani anaknya di akhir-akhir masa hidupnya, Sumarti Ningsih adalah anak yang baik, yang bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga yang pas-pasan.

"Almarhum berangkat ke Hong Kong, bekerja untuk membahagiakan keluarga dan menuntaskan pendidikan anaknya."

Oleh karena itu, selain meminta agar pembunuhnya dihukum berat sesuai dengan hukum di Hong Kong, keluarga juga mengharap anak Sumarti Ningsih yakni Muhamad Hafiz Arnovan juga diperhatikan.

"Kami meminta agar pembunuhnya diharuskan bertanggung jawab terhadap hidup anaknya Sumarti Ningsih. Kami minta agar dia dibiayai pendidikannya sampai selesai kuliah." tandasnya.

Berita terkait