Seumur hidup bagi pembunuh dua warga Indonesia

Rurik Jutting Hak atas foto ALEX HOFFORD
Image caption Rurik Jutting digambarkan menyiapkan pembunuhan kedua warga Indonesia itu 'dengan riang.'

Pengadilan Tinggi Hong Kong menyatakan bankir Inggris Rurik Jutting bersalah melakukan pembunuhan berencana terhadap dua perempuan Indonesia setelah serangkaian persidangan yang mencekam.

Keputusan juri yang diambil setelah pertemuan empat jam itu dibacakan kepada Rurik Jutting yang tampil datar tanpa ekspresi.

Dengan keputusan itu, hakim Michael Stuart-Moore menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup, yang merupakan hukuman baku bagi pembunuhan berencana.

Rurik Jutting sebelumnya menyangkal pembunuhan berencana, namun mengaku melakukan pembunuhan tidak berencana.

Hak atas foto JEROME FAVRE / EPA
Image caption Sumarti Ningsih dan Seneng Mujiasih dibunuh setelah terlebih dahulu disiksa.

Suratmi, ibunda dari Sumarti Ningsih mengatakan kepada BBC Indonesia, bahwa "itu keputusan yang memang tepat."

"Dia menyiksa anak saya. Saya kehilangan anak saya dan kami tak akan bisa bertemu dia lagi. Kesedihan dan rasa sakit atas meninggalnya Sumarti tidak akan pernah bisa hilang," kata Suratmi kepada Liliek Darmawan yang melaporkan untuk BBC Indonesia.

"Dia orang yang sungguh jahat, dan saya ingin dia bertanggung jawab atas perbuatannya."

"Dia juga harus bertanggung jawab atas biaya hidup anak Sumarti dan keluarga kami yang selama ini ditanggung oleh Sumarti. Dia harus membayar ganti rugi kepada keluarga agar bisa menjamin hidup anak dari perempuan yang dia renggut hidupnya dari kami," tandas Suratmi.

Hak atas foto Liliek Darmawan / BBC INDONESIA
Image caption Suratmi, dengan surat kematian anak tercinta yang diterbitkan otoritas Hong Kong

Kekejaman tak terperi

Hakim Michael Moore saat menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Rurik Jutting mengatakan bahwa dia menolak permintaan maaf Jutting:

"Mempertimbangkan kondisi kepribadian, sejarah keluarga, pendidikan, apalagi terdakwa juga tidak menunjukkan penyesalan apapun, maka hukuman yang jelas untuk pembunuhan berencana, Anda sebenarnya cuma mendapat satu hukuman atas dua pembunuhan berencana," kata Hakim Moore sambil melirik kepada Jutting.

"Yaitu hukuman penjara seumur hidup. Anda akan mulai masuk penjara malam ini," tandasnya seperti dilaporkan oleh wartawan di Hong Kong, Valentina Djaslim.

Hakim Moore menyatakan bahwa Jutting berbahaya untuk dibiarkan berkeliaran bebas terutama bagi perempuan dan anak-anak perempuan. Ini berdasarkan bukti-bukti serta pendapat ahli yang menyimpulkan bahwa Jutting memiliki kepribadian narsis, penyuka seks sadis, dan juga penyalah-guna alkohol serta narkoba.

Hakim Moore juga setuju dengan pendapat para pakar kejiwaan bahwa rekaman-rekaman video yang dibuat Jutting sebelum, saat, dan sesudah membunuh, serta interogasinya di polisi Hong Kong, tidaklah menunjukkan tanda penyesalan namun lebih berupa cara membanggakan penyiksaan dan pembunuhan dia lakukan.

"Ini adalah kasus langka, yang sangat mungkin diulangi, sehingga kemungkinan memberikan pengurangan hukuman di masa depan, sangatlah tidak mungkin," kata Hakim Moore.

Sementara Jutting semula tertunduk saat mendengar vonisnya itu, kemudian bangkit sambil menghembuskan nafas dan mengangkat bahu seakan tanda menyerah kepada petugas penjara Lo Wu yang langung menggiringnya. Tak lama terdengar denting suara rantai yang biasa dikenakan petugas ke tangan dan kaki narapidana.

Hak atas foto Liliek Darmawan / BBC INDONESIA
Image caption Sumarti Ningsih tinggal gambar dan kenangan bagi ayah dan ibunya -Kaliman dan Suratmi, dan anaknya, Muhammad Hafiz Arnovan.

Kejahatan yang menghantui

Pembela Tim Owen kepada Hakim Moore, lantas menyatakan Jutting menerima vonis tersebut dan meminta maaf atas akibat yang dia timbulkan, terutama kepada keluarga Sumarti Ningsih dan Seneng Mujiasih.

Pengacaranya mengungkapkan penyesalan atas pembunuhan itu dan mengakui bahwa tindakannya 'sangat mengerikan.'

"Perbuatan saya terhadap Sumarti Ningsih dan Seneng Mujiasih masih terus menghantui saya dan mengakibatkan perasaan sakit dan getir terhadap keluarga yang ditinggalkan, khususnya anak Ningsih."

"Kejahatan pada diri saya tidak bisa saya diatasi dengan kata-kata maupun tindakan. Betapa pun, seberapa tak berarti pun ini untuk sanak saudara Mujiasih dan Ningsih, saya minta maaf. Saya memohon maaf lebih dari yang bisa saya katakan.

Jenazah dua perempuan Indonesia, Sumarti Ningsih dan Seneng Mujiasih, ditemukan di apartemen Jutting di kawasan Wan Chai, Hong Kong, November 2014.

Bukti-bukti dan pernyataan serta pengakuan Rurik Jutting di persidangan dengan penyiksaan yang dilakukannya terhadap Seneng Mujiasih dan Sumarti Ningsih, mengguncangkan publik, khususnya keluarga korban dan masyarakat Indonesia di Hong Kong.

Keluarga para korban, dan lembaga-lembaga pembelaan buruh migran, sebelumnya menyerukan hukuman maksimal dan konpensasi bagi keluarga yang ditinggalkan.

Berita terkait