Hubungan Amerika Serikat-Indonesia 'mungkin tak berubah' di bawah presiden baru

Pemilih Hak atas foto EPA
Image caption Pemilih di 50 negara bagian Amerika Serikat memberikan suara untuk memilih presiden pengganti Obama.

Jika Hillary Clinton terpilih sebagai presiden, kebijakan luar negeri Amerika Serikat kemungkinan tak mengalami perubahan, sedangkan Donald Trump mungkin tak akan mewujudkan jargon-jargon kerasnya.

Pendapat itu disampaikan oleh Direktur Pusat Kajian Wilayah Amerika di Universitas Indonesia, Suzie Sudarman dan anggota Komisi I DPR, Effendi Simbolon.

Menurut Suzie Sudarman, di bawah Hillary Clinton Amerika Serikat akan menempuh kebijakan luar negeri yang selama ini dijalankan oleh pendahulunya, Presiden Barack Obama.

"Hanya mungkin dibawa oleh Bernie Sanders (tokoh penting Demokrat) untuk lebih memperhatikan rakyat Amerika," jelasnya.

Hak atas foto EPA
Image caption Hillary Clinton diperkirakan tidak akan mengubah kebijakan luar negeri Amerika jika terpilih sebagai presiden.

Namun jika yang menang adalah calon Republik Donald Trump maka kebijakan luar negeri Amerika Serikat, termasuk terhadap Indonesia, mungkin akan berubah.

"Kalau saya melihat Trump antiglobalisasi. Jadi mungkin arahnya ke arah semakin isolasi," kata Suzie Sudarman.

Dampaknya bagi Indonesia, menurutnya, adalah pengurangan penanaman modal perusahaan-perusahaan Amerika di negara-negara yang upah buruhnya murah sebagai upaya untuk lebih banyak menyerap tenaga kerja di dalam negeri Amerika.

Hak atas foto EPA
Image caption Donald Trump mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang dianggap untuk menarik perhatian pemilih.

Sebagian pemilih Trump adalah golongan pekerja manual yang mengandalkan kemampuan fisik "yang tidak terlalu diuntungkan oleh proyek-proyek global Amerika Serikat", jelas Suzie Sudarman.

Anggota Komisi I DPR, Effendi Simbolon mengatakan siapapun yang menang dalam pemilihan presiden Amerika Serikat yang digelar pada Selasa (08/11), kebijkan luar negeri negara tersebut tidak akan berubah mengingat politik luar negeri negara adidaya itu sepanjang sejarah kuat.

"Mereka dalam melaksanakan politik luar negerinya antara pemerintahan demi pemerintahan, Senat dan Kongresnya relatif padu. Jadi mereka lebih mementingkan kepentingan negara di atas kepentingan yang lainnya," ujar Effendi Simbolon dari Komisi I DPR yang antara lain membidangi urusan luar negeri.

"Berdasarkan empiris itu maka kita tidak melihat ada lonjakan yang berarti bilamana akhirnya Donald Trump yang akan memenangi," tambahnya.

Dikatakannya, jargon-jargon keras yang selama ini pernah dikeluarkan oleh Trump, misalnya pernyataannya yang dinilai anti-Muslim dan antiimigran, merupakan strategi dalam pemenangan pemilihan.

"Terakhir kita melihat semuanya itu akhirnya dianulir sendiri oleh Donald Trump, jadi tidak seperti yang dibayangkan orang bahwa fobia terhadap keberadaan pendatang dan Islam di Amerika itu menjadi agenda utama," kata Effendi Simbolon dalam wawancara dengan wartawan BBC Indonesia, Rohmatin Bonasir.

Jika melihat perubahan sikap Donald Trump terhadap isu-isu peka seperti keinginannya untuk melarang sementara Muslim masuk ke Amerika, Direktur Pusat Kajian Wilayah Amerika di Universitas Indonesia, Suzie Sudarman, mengatakan akan sulit menebak apakah Trump akan menjalankan apa yang telah digembar-gemborkannya jika ia menang.

"Karena dia begitu berubah-ubahnya ya. Jadi saya tidak yakin dia mempunyai satu filosofi yang bisa kita pastikan akan demikian."

Berita terkait