NU ingin Trump tidak arogan dengan negara muslim

Trump Hak atas foto Reuters
Image caption Trump membalikkan analisis dengan menjadi capres Republik dan akhirnya memenangkan pilpres AS, mengalahkan calon Demokrat, Hillary Clinton.

Amerika Serikat di bawah Donald Trump bisa mengalami masalah komunikasi politik dengan dunia Islam. Untuk menghindari konflik, Trump harus melihat realita di dunia Islam tersebut.

Hal ini disampaikan Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Helmy Faishal Zaini, dan Sekretaris Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Abdul Mu'ti, mengomentari terpilihnya Trump sebagai presiden Amerika Serikat.

"Akan ada kendala komunikasi, baik dalam konteks hubungan antarnegara maupun people to people," kata Helmy.

Ini akan terjadi jika Trump menerapkan kebijakan yang tak bersahabat dengan dunia Islam, seperti disinggung Trump saat berkampanye menjadi presiden.

Trump pernah mengusulkan pelarangan orang-orang Islam masuk ke Amerika untuk meningkatakan keamanana dalam negeri, meski belakangan ia melunakkan sikap setelah mendapat kecaman baik di dalam maupun di luar negeri.

"Idealnya Trump menerapkan diplomasi politik yang universal dan humble (tidak arogan), terutama ke negara-negara Muslim," kata Helmy.

"Kalau nanti Trump mengeluarkan kebijakan yang sektrian, ini akan mengundang negara-negara lain melakukan hal yang sama ... tapi saya yakin kalau nanti ada masalah dalam komunikasi, saya kira ia akan melakukan koreksi," katanya.

Negara yang bersahabat

Sekretaris Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Abdul Mu'ti sementara itu mengatakan Trump harus melihat realita bahwa setidaknya 1,6 miliar penduduk dunia adalah Muslim dan warga Muslim di AS lebih dari 10 juta.

"Keberhasilan Trump sebagai presiden juga ditentukan oleh komunitas Muslim baik di AS sendiri maupun yang ada di berbagai belahan dunia," kata Abdul Mu'ti.

"Makanya, meski dalam kampanye ia berbicara soal kebijakan yang tegas terhadap Muslim, ia harus melihat realitas bahwa tata dunia tak bisa dilepaskan dari kaum Muslim."

Hak atas foto AP
Image caption Kebijakan AS yang partisan dengan negara-negara lain akan 'mengundang negara lain melakukan kebijakan yang sama'.

"Kami tentu berharap Trump bisa mewujudkan tata dunia yang lebih baik dan memiliki hubungan yang baik dengan dunia Islam," kata Abdul Mu'ti.

Soal perubahan orientasi politik luar negeri Amerika di bawah Trump, Mu'ti mengatakan kemungkinan itu selalu terbuka.

Bisa jadi Amerika tidak memberikan perhatian besar atas masalah-masalah di Timur Tengah atau dunia Islam secara umum.

"Namun saya yakin kepentingan negara lebih besar dari kepentingan atau program orang per orang. Dalam konteks ini, Trump harus menjadi presiden semua rakyat Amerika."

"Kita tahu rakyat Amerika sangat bersahabat kepada bangsa mana pun termasuk kepada negara-negara berpenduduk Muslim," kata Mu'ti.

Berita terkait