Pemerintah Indonesia targetkan 1.000 bisnis perintis pada 2020

startup Hak atas foto ADEK BERRY
Image caption Gojek adalah aplikasi transportasi online terbesar di Indonesia.

Dengan visi menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kapasitas digital ekonomi terbesar di Asia Tenggara pada 2020, pemerintah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi ke-14 yang dinamakan 'peta jalan e-commerce'.

Paket yang diluncurkan pada Kamis (10/11) bertujuan untuk mendukung pelaku usaha mikro, kecil dan menengah serta pelaku usaha perintis (startup). Selain itu, juga mengupayakan peningkatan keahlian sumber daya manusia pelaku e-commerce (perdagangan elektronik).

"Selama ini kita memang belum memiliki peta jalan pengembangan e-commerce nasional yang menjadi acuan pemangku kepentingan, di samping adanya berbagai peraturan/ketentuan yang tidak mendorong tumbuh kembangnya e-commerce," kata Darmin Nasution, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Ada delapan aspek yang akan dicakup oleh peta ini: pendanaan, perpajakan, perlindungan konsumen, SDM, logistik, infrastruktur komunikasi, keamanan siber dan monitoring.

Paket kebijakan terbaru ini memang difokuskan pada pengembangan perusahaan startup dengan sasaran menyiapkan 1.000 startup pada 2020.

Hak atas foto KEMENKOEKUIN
Image caption Peta jalan e-commerce mencakup delapan aspek: pendanaan, perpajakan, perlindungan konsumen, SDM, logistik, infrastruktur komunikasi, keamanan siber dan monitoring.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong mengatakan Indonesia sudah terlambat jika ingin menjadi negara produsen perangkat teknologi, sehingga harus mencari alternatif lain.

"Kita berusaha memprediksi masa depan, apa yang menjadi siklus berikutnya", kata Thomas Lembong.

"Perangkat elektronik semakin murah setiap tahunnya dan prediksi saya, dalam waktu kurang dari 10 tahun, alat ini (menunjuk ke sebuah telepon seluler) akan dirangkai seluruhnya oleh robot."

"Saya kira nilai sebenarnya dalam perangkat ini adalah aplikasinya."

Nadiem Makarim, pendiri sekaligus CEO Gojek -aplikasi transportasi online terbesar di Indonesia- mengakui bahwa pemerintah sangat mendukung perusahaan perintis dan teknologi di Indonesia.

"Belum pernah ada kabinet yang begitu suportif terhadap perusahaan teknologi. Kami sangat beruntung berada di industri teknologi pada saat pak presiden dan menteri-menterinya benar-benar mengerti potensi dari peran teknologi dalam mengembangkan UMKM di Indonesia", kata Nadiem.

Bentuk dukungan pemerintah, menurut Nadiem, adalah dengan menenangkan investor dan meningkatkan visibilitas perusahaan perintis.

"Investor kan kebanyakan dari luar negeri, pemerintah menenangkan bahwa investasi mereka aman dan mereka (perusahaan perintis) proinovasi", terang Nadiem.

"Regulasi-regulasi yang sekarang agak ketinggalan itupun akan di-update (diperbarui) karena pemerintah sadar inovasi itu selalu di depannya regulasi. Karena kesadaran itu, sehingga lebih fleksibel sehingga investor merasa aman."

"Pemerintah juga meningkatkan visibilitas startup. Seperti waktu itu kita diajak ke Silicon Valley (pusat perusahaan teknologi di dunia) bertemu dengan investor dan lain-lain. Ini merupakan peran yang sangat penting."

'Bepotensi'jadi pusat di Asia

Para pelaku usaha startup dan perusahaan pendanaan memang melihat Indonesia berpotensi sebagai pusat startup Asia.

Salah satu perusahaan startup Indonesia, ahlijasa.com bahkan mewakili Asia Tenggara di Startup World Cup 2017 yang akan diadakan di Silicon Valley.

Ahlijasa.com berkesempatan mendapatkan US1 juta apabila model bisnis mereka dianggap lebih baik dari perwakilan regional lain Maret tahun depan.

Pendiri ahlijasa.com, Jay Jayawijayaningtiyas dan Dimas Wijaya, dulunya bekerja sebagai bankir investasi di Merrill Lynch Singapura. Akhir tahun lalu mereka memutuskan meninggalkan pekerjaan mapan mereka, kembali ke Jakarta untuk membangun perusahaan perintis di bidang laundry (binatu) dan servis AC.

Jay menuturkan mereka memutuskan untuk mendirikan startup di negara asal Indonesia dibandingkan Singapura karena menurut mereka Indonesia memiliki potensi terbesar di antara negara-negara Asia Tenggara lain dalam hal besar pasar dan jumlah populasi negara ini.

"Kita mulai di Indonesia itu sebenarnya keuntungan. Kayak gojek, gojek mulai di Jakarta, yang penting dia memenangkan Indonesia dulu, dia tidak terlalu harus expand (mengembangkan usaha) ke luar negeri.

"Tapi kalau Grab, dia mulai di Singapura, di Malaysia, market-nya kecil. Dia bisa raja di sana. Tapi kalau dia tidak memenangkan Indonesia, dia belum bisa memenangkan Asia Tenggara."

Happyfresh, startup yang bergerak di pesan antar belanja bulanan, juga memilih Indonesia sebagai basis usaha mereka.

Happyfresh yang juga beroperasi di Malaysia dan Thailand, awalnya memilih Indonesia karena kondisi Jakarta yang macet cocok dengan model bisnis mereka.

Namun menurut Guillem Segarra, Direktur Operasional Happyfresh, berbasis di Indonesia adalah keputusan tepat.

"Dibandingkan dengan negara lain, Indonesia jauh lebih aktif. Saya pikir semua perusahaan, semua startup yang ada di wilayah regional, Indonesia adalah pusat massanya, Indonesia adalah salah satu pasar dengan potensi terbesar", kata Guillem Segarra.

"Banyak hal yang sedang dibuat di negara-negara lain. Namun angka keseluruhan mengatakan bahwa Indonesia kemungkinan adalah negara di Asia Tenggara denggan banyak startup baru bermunculan. Dan juga yang paling berkualitas."

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption "Kalau tidak memenangkan Indonesia, belum bisa memenangkan Asia Tenggara", kata Jay Jayawijayaningtiyas, pendiri ahlijasa.com

Pekerjaan rumah pemerintah

Penyelenggara kompetisi Startup World Cup di Jakarta akhir Agustus lalu adalah perusahaan pendanaan ventura (Venture Capital) Fenox.

Fenox juga memilih Indonesia sebagai basis perwakilan mereka di Indonesia. Selain pasar yang besar, penetrasi telepon seluler dan internet yang luas juga mendukung bisnis startup di Indonesia.

Indonesia adalah salah satu pengguna internet terbesar di dunia, mencapai 93,4 juta orang dan pengguna telepon pintar (smartphone) mencapai 71 juta orang.

Dua tahun beroperasi, Fenox telah mendanai sedikitnya 18 startup. Di antara mereka adalah bukalapak, bridestory dan hijup.

Analis Investasi Fenox Nazier Ariffin, berkata mereka ingin berkontribusi mendanai 10% dari total 1000 startup yang ditargetkan pemerintah.

Menurut Nazier, investor di Indonesia cukup puas. Sehingga dalam dua tahun terakhir ini dia melihat jumlah perusahaan pendanaan untuk startup di Indonesia naik setidaknya tiga kali lipat.

Pasar uang di negara-negara maju memang sudah di titik jenuh. Mereka mencari 'lahan' baru untuk berinvestasi.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Nadiem Makarim, pendiri sekaligus CEO Gojek mengakui bahwa pemerintah sangat mendukung perusahaan perintis dan teknologi di Indonesia.

Meski startup dianggap ranah yang subur, pekerjaan rumah pemerintah adalah menyiapkan pasar untuk penjualan saham perdana atau IPO.

"Ekosistem startup di sini masih belum holistik pendekatannya oleh pemerintah dan juga stakeholders lain.

Ia memberikan contoh di antaranya pendanaan bagi perusahaan perintis pada tahap awal, peta jalan menyeluruh seperti rencana keluar berupa masuk ke bursa saham atau merger dan akuisisi.

"Jadi memang sebuah high risk investment (investasi berisiko tinggi) di Indonesia, namun kami lakukan untuk menaruh kepercayaan diri pada investor regional dan internasional untuk investasi ke Indonesia."

Namun menurut Nadiem Makarim, exit market seperti bursa saham atau akuisisi oleh perusahaan besar bukanlah tugas pemerintah. Baginya, lebih penting pemerintah menyiapkan kebijakan seperti mempermudah perpajakan atau kebijakan lain yang membuat perusahaan stratup Indonesia semakin atraktif.

Perusahaan pendanaan berlomba-lomba berinvestasi di awal agar nantinya mereka dapat meraup tingkat pengembalian yang tinggi pada saat saham perusahaan-perusahaan perintis ini dijual ke publik.

Penjualan saham perdana atau IPO perusahaan teknologi sendiri diprediksi baru akan mulai menarik dalam waktu tiga hingga lima tahun lagi.

Berita terkait