Ahok beraktivitas biasa dan siap 'jalani proses hukum' terkait kasusnya

ahok Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Ahok akan tetap berkampanye meski berisiko ditolak oleh warga.

Ahok memutuskan untuk tidak datang ke Mabes Polri terkait gelar perkara laporan dugaan penistaan agama yang dituduhkan kepadanya, dengan alasan 'tidak wajib hadir,' dan tak merasa khawatir atas hasilnya.

"Tidak ada kewajiban kan. Apalagi kemarin malam Prof. Ito (Sarlito Wiryawan) kan meninggal. Saya pikir bakal gak keburu nih. Melayat saja," kata Ahok kepada para wartawan di Rumah Lembang.

Gubernur Jakarta ini memutuskan tetap menemui warga dalam program Open House yang sudah dimulainya sejak Senin (14/11) dan melanjutkan kampanye dengan blusukan ke Cakung, Jakarta Timur.

Ahok mengaku tidak kuatir dan akan tetap berkegiatan normal meski sedang dilanda kasus yang begitu pelik.

"Kan putusannya dua hari lagi. Kita tunggu saja. Kekuatiran sehari cukup sehari, tak usah pikir kekuatiran besok atau lusa. Berat."

Ditanyakan, jika kasus ini membuatnya tidak terpilih lagi menjadi Gubernur DKI, Ahok menjawab dengan santai: "Tidak usah khawatir. Dunia ini tidak ada Ahok juga jalan jalan terus kok."

Dia menambahkan akan mempercayakan kasus ini ke polisi dan akan mengikuti apapun keputusan polisi terkait laporan dari Rizieq Shihab dkk.

"Kalau saya memang ditetapkan sebagai tersangka, saya akan jalani proses hukum. Tapi saya yakin saya tidak salah. Gak niat saya kok."

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Ahok menemui warga di Rumah Lembang, Jakarta, saat di Mabes Polri perkaranya digelar.

Rumah Lembang, strategi baru Ahok

Hari Selasa ini (15/11) adalah hari kedua Ahok menjalankan kegiatan di Rumah Lembang, Menteng, Jakarta Pusat.

Kegiatan menerima warga di Rumah Lembang dibuat karena Ahok dihadapkan pada berbagai aksi penolakan ketika kampanye ke kampung-kampung.

Saat dibuka di hari pertama Senin (14/11), cukup banyak warga menyambangi Rumah Lembang untuk bertemu langsung dengan Ahok sekaligus menyampaikan aspirasi kepada gubernur petahana yang sedang cuti tersebut.

Nur Tanjung, seorang warga Kalipasir, Jakarta Pusat mengatakan dia menyadari apa yang sedang dihadapi Ahok.

"Saya tahu Al Maidah 51 (yang menyebutkan larangan Muslim memilih pemimpin non Islam) itu, tapi ada lagi ayatnya: akan aku berikan kedudukan kepada siapa yang aku kehendaki. Aku tarik daripada siapa yang aku kehendaki," kata Nur.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Nur Tanjung dan Dewi, warga Kalipasir, Jakarta Pusat, datang untuk menyatakan dukungan kepada Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta.

Sementara sekelompok ibu dari Galur, Johor baru, Jakarta Pusat, mengatakan ingin bertemu dengan Ahok karena sebelumnya hanya Djarot yang mendatangi perkampungan mereka.

Setelah kasus penistaan agama dan demo 4 November, memang hanya Djarot sendiri yang berkampanye. Timses Ahok-Djarot menjelaskan kampanye tunggal oleh wakil gubernur petahana itu ke sejumlah lokasi di Jakarta ditempuh dengan alasan keamanan Ahok.

Terkait aksi-aksi penolakan pada kampanyenya, Ahok sendiri meyakini bahwa semua itu tidak murni.

"Kita sudah pelajari, yang ngusir-ngusir, tempel-tempel spanduk itu rata-rata bukan orang dari tempat itu," kata Ahok kepada para wartawan saat pembukaan Rumah Lembang.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Menurut tim sukses Ahok, Rumah Lembang adalah bagian dari kampanye dan dibuat untuk bertemu dan menampung aspirasi warga Jakarta.

Betapa pun, Ahok menegaskan akan tetap berkampanye secara langsung dan bertemu dengan warga meski berisiko adanya penolakan dari sekelompok orang.

"Kita akan 'turun' (ke kampung-kampung) . Mulai dari sini, ketemu orang, kayak di kantor lah. Mungkin sampai jam 9.30 baru kita akan mulai blusukan ke beberapa lokasi," kata Ahok.

"Kalau ada penolakan kita akan lihat saja, ini yang menolak orang luar atau orang dalam. Kita juga bisa lapor polisi, karena menghalangi kita kampanye."

Strategi 'tunggu bola'

Ahok menambahkan, selain untuk kampanye, maka Rumah Lembang juga ditujukan sebagai forum untuk mendengar langsung aspirasi warga yang kemudian akan diusulkan ke PLT Gubernur DKI Sumarsono.

Bagaimanapun beberapa peneliti lembaga survei menganggap strategi baru Ahok yang didijuluki sebagai 'tunggu bola' itu tidak efektif untuk mensosialisasikan program.

Nona Evita dari Populi Center menegaskan bahwa sosialisasi program akan tetap lebih efektif jika para calon datang langsung ke rumah warga.

"Lebih efektif kalau datang ke rumah warga. Mensosialisasikan program secara langsung ke warga. Warga di Jakarta memang rasional tapi sibuk. Tingkat partisipasi terhadap pemilihan gubernur masih belum tinggi," kata None Evita.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Warga Galur, Jakarta Pusat, yang ikut meramaikan peresmian Rumah Lembang.

Ahok-Djarot sebagai petahana dianggap sudah memiliki 'tabungan modal dasar elektoral' yaitu tingkat popularitas, elektabilitas dan akseptabilitas yang cukup tinggi. Ditambah, menurut Populi Center, hampir 80% masyarakat Jakarta puas dengan kinerja pasangan ini.

Meski demikian, pada awal Oktober, Populi Center memperkirakan elektabilitas Ahok-Djarot yang merupakan pasangan petahana mencapai 45,5%.

Namun menurut Lembaga Survei Indonesia, kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok, membuat elektabilitas mereka menurun sebesar 6,8% dari Oktober lalu.

Berita terkait