Bom molotov di Vihara Singkawang 'ingin perkeruh suasana'

vihara kwan im kiung Hak atas foto Tribunnews
Image caption Pembina Vihara Kwan Im Kiung di Singkawang, Kalbar, Kim Liong menunjukkan lokasi bom Molotov yang dilempar orang tidak dikenal, Senin (14/11) dini hari.

Aksi pelemparan bom molotov oleh orang tidak dikenal ke dinding luar Vihara Budi Dharma alias Kwan Im Kiung di kota Singkawang, Kalimantan Barat, Senin (14/11) dini hari, diduga untuk 'memperkeruh suasana'.

"Saya kira itu perbuatan orang yang ingin memperkeruh suasana," kata Wakil Ketua Forum Komunikasi Etnik Tionghoa di Singkawang, Iwan Gunawan, kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Senin (14/11).

Namun demikian, Iwan meyakini upaya seperti itu tidak akan berhasil di kota Singkawang. "Kota kami itu unik, pembauran di masyarakat di Singkawang sudah berjalan selama ini," kata Iwan.

Dia juga menekankan bahwa sejauh ini kotanya tidak pernah dilanda kerusuhan etnik atau agama. "Kerusuhan boleh terjadi di luar, tetapi Singkawang tetap aman," tandasnya.

Iwan meminta agar warga Indonesia peranakan Tionghoa di Singkawang tidak berasumsi macam-macam terkait pelemparan molotov tersebut. "Kita serahkan kepada aparat kepolisian untuk menyelidikinya," ujarnya.

Kepada warga Indonesia peranakan Tionghoa, dia meminta agar tetap bersikap hati-hati dan terus memantau lingkungan sekitarnya. Iwan juga meminta aparat keamanan untuk memaksimalkan pengamanannya.

Memanfaatkan situasi

Tidak ada korban luka atau tewas akibat ledakan bom molotov yang dilemparkan sekitar pukul 02.00 waktu setempat, Senin (14/11), kata kepolisian setempat.

Di lokasi kejadian, polisi menemukan alat bukti botol kaca seukuran minuman suplemen, sumbu, dan sisa cairan minyak tanah.

Pelaku diduga berjumlah dua orang dengan menggunakan sepeda motor, kata Kapolda Kalimantan Barat, Inspektur Jenderal Musyafak, seperti dikutip Tempo, Senin (14/11).

Kapolda mengatakan serangan bom molotov ke vihara tidak berkait dengan kasus bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda, Kaltim. "Saya mengira ini orang iseng yang memanfaatkan situasi. Soalnya, menjelang pemilihan wali kota," katanya.

Dia mengimbau semua pihak agar tidak terpancing oleh kejadian ini. "Warga Kalimantan Barat diminta untuk tidak mengaitkan kejadian ini dengan peristiwa di tempat lain," kata Musyafak.

Kepada media, penjaga vihara, Agung Maalim, 51 tahun, dan Bong Lie Fen, 49 tahun, mengaku mendengar suara pecahan kaca pada Senin dini hari. Mereka menambahkan melihat percikan api di halaman dan segera memadamkannya.

Pembina Vihara Kwan Im Kiung, Kim Liong, mengatakan, setelah pelemparan bom molotov itu, masyarakat tetap berkunjung untuk melakukan ibadah ke vihara tersebut.

"Kami minta sekitar vihara dijaga kepada kepolisian untuk membantu mengamankan. Semoga hal sepeti ini tidak lagi terulang," kata Kim Liong kepada wartawan.

Topik terkait

Berita terkait