Gelar perkara di Mabes Polri 'terbuka terbatas,' Ahok tetap gelar 'open house'

Ahok mengaku tidak terlalu memikirkan gelar perkara di Mabes Polri, dan memilih untuk melakukan kegiatan rutin menerima warga. Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Ahok mengaku tidak terlalu memikirkan gelar perkara di Mabes Polri, dan memilih untuk melakukan kegiatan rutin menerima warga.

Gelar perkara Ahok dilakukan 'terbuka terbatas,' dihadiri pendiri FPI, Ahok gelar 'open house' setelah melayat ke rumah duka Sarlito Wiryawan.

Gelar perkara laporan dugaan penistaan agama oleh Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Poernama alias Ahok itu berlangsung di Ruang Rapat Utama (Rupatama), Mabes Polri.

Apa yang semula dibayangkan sebagai 'gelar perkara terbuka,' ternyata dilakukan dengan 'terbuka terbatas,' yakni dihadiri oleh beberapa pihak yang diundang: sebagian pihak pelapor, terlapor, dan lembaga seperti Komisi III DPR dan Kompolnas.

Tampak masuk ruangan, sejumlah saksi ahli agama dan ahli bahasa, tim kuasa hukum Ahok, dan lima pihak pelapor.

Dilaporkan wartawan BBC Indonesia Pijar Anugerah, suasana di luar ruangan rapat sempat sedikit ricuh karena protes beberapa orang yang tidak diizinkan masuk.

Diantaranya, sekelompok orang berjas-berdasi yang mengaku pengacara dari Advokat Cinta Tanah Air (Acta) dan mewakili salah satu pelapor, Habieb Novel.

Mereka mengeluh karena tidak diizinkan masuk mendampingi kliennya."Sudah ada pemberitaan bahwa gelar perkara terbuka. Artinya ada pelapor dan ada pendampingnya. Bagaimana mungkin pelapor masuk tanpa didampingi pengacara. Penistaan ini kan perkara hukum," kata Jama Yamani dari Acta.

Adapun Muh. Burhanuddin, mengaku sebagai pelapor dugaan penistaan agama Ahok atas nama pribadi.

Dia menunjukkan surat dengan kop Kepolisian Republik Indonesia, menyatakan bahwa ia diundang untuk penyelidikan laporan polisi pada 8 November. "Pak Kapolri mengatakan semua pelapor diundang, sementara kita tunggu-tunggu tidak ada undangan."

Sebelumnya, pendiri Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab, sebagai pelapor, sudah datang terlebih dahulu, dan langsung masuk ruangan kendati dikerumuni para wartawan.

Ia hanya mengatakan keyakinannya bahwa pemeriksaan di kepolisian akan sesuai dengan argumentasi, laporan, dan bukti-bukti yang diajukan pihaknya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Jama Yamani dari Advokat Cinta Tanah Air yang mengaku sebagai pengacara yang mewakili salah satu pelapor.
Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Andi Analta, kakak angkat Ahok yang tak diizinkan masuk dan mengaku datang "karena ada empati dari saya, (bahwa) adik saya dizalimi."

Dari pihak terlapor, datang Andi Analta, kakak angkat Ahok mengaku datang "karena ada empati dari saya, (bahwa) adik saya dizalimi." Dia juga tidak diizinkan masuk.

Ahok sendiri, sebagai yang dilaporkan, tidak datang dan memilih untuk melanjutkan kegiatannya menerima warga di Rumah Lembang -kegiatan yang dimulai sejak Senin (14/11) kemarin.

"Open House" kali ini digelar seikit telambat, karena Ahok terlebih dahulu melayat ke rumah duka psikolog sosial terkemuka Sarlito Wiryawan, yang wafat Senin malam.

Ahok mengaku tidak resah atau pu kuatir dengan gelar perkara yang berlangsung di Mabes Polri.

"Saya tak ingin memikirkan hal itu, saya hanya berpikir sehari untuk sehari aja," katanya dengan kalimat bersayap, seperti dilaporkan Mehulika Sitepu dari BBC Indonesia.

"Toh hasilnya masih dua hari lagi," tambahnya -kali ini dengan kalimat lugas.

Sebelumnya, kepolisian memang mengatakan, hasil gelar perkara akan diumumkan Rabu besok atau Kamis lusa.

Berita terkait