Masih saksi, status 15 orang terduga jaringan pelaku bom Samarinda

polisi samarinda Hak atas foto FIRMAN / AFP
Image caption Polisi berjaga di depan Gereja Oikumene Samarinda, Kaltim, beberapa saat setelah ledakan.

Seluruh 15 orang yang ditangkap dengan dugaan sebagai anggota 'jaringan' Juhanda tersangka pelaku bom molotov di Gereja Oikumene Samarinda Kalimantan Timur, masih berstatus saksi seperti disampaikan mabes Polri.

Serangan itu mengakibatkan seorang anak berusia 2,5 tahun, tewas, dan tiga anak lain menderita luka bakar,

Juru bicara Mabes Polri Brigjen Pol Agus Rianto mengatakan 15 orang itu merupakan bagian 'orang dekat' Juhanda dan meski sudah ditangkap tetapi belum menjadi tersangka.

"Kita masih dalami... Kita punya 7x24 jam sejak kemarin. Nanti kita lihat perkembangannya seperti apa," jelas Agus.

Polisi juga masih mencari tahu motif serangan Juhanda.

"Penjelasan yang kita dapat, ya memang yang bersangkutan ingin melakukan peledakan... Yang jelas membikin kekhawatiran, membuat rasa takut, tapi motif (lebih jauh) sebenarnya masih kita telusuri," jelas Agus.

Sementara itu, Polda Kaltim mengatakan telah memeriksa 19 saksi terkait dengan bom di Gereja Oikumene di Samarinda, Kalimantan Timur, dan menetapkan Juhanda sebagai tersangka pelaku.

Kabid Humas Polda Kaltim, Fajar Setiawan, mengatakan tersangka Juhanda pernah divonis penjara untuk tindak pidana terorisme, dan polisi masih mencari kemungkinan adanya keterlibatan yang lain.

"Dulu pernah melakukan tindak pidana yang sama yaitu bom buku, kemudian di sudah mendapatkan vonis pada Mei 2011, kemudian dia bebas pada 2014, setelah itu keliling (ke berbagai kota) dan menetap di Samarinda," jelas Fajar.

Dia menjelaskan Juhanda tinggal di Samarinda sejak setahun terakhir dan tinggal di rumah seorang Ustad yang terletak di belakang masjid yang terletak tak jauh dari gereja.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Duka bagi Olivia Marbun, bocah yang meninggal setelah menderita luka bakar parah akibat serangan di Gereja Samarinda.

Terkait kelompok bom buku

Juhanda ditangkap warga setelah melempar bom ke halaman parkir Gereja Oikumene dan dia sempat dipukuli sebelum diserahkan kepada polisi. Bom berdaya ledak rendah itu mengenai empat anak balita yang tengah bermain di halaman gereja usai mengikuti sekolah Minggu.

Salah seorang anak Intan Olivia Marbun meninggal akibat luka bakar di tubuhnya yang mencapai 80%.

Menurut Fajar, kondisi tiga korban lainnya cukup stabil, ketiganya mengalami luka bakar 20-25% pada bagian tubuhnya.

Dalam keterangan kepada wartawan, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan Juhanda merupakan bagian dari jaringan kelompok Pepi Fernando yang diduga bergabung dengan Jamaah Ansharut Daulah JAD.

Pepi Fernando adalah orang yang membuat bom roket di Aceh, serta pernah dipenjara terkait kasus bom di Puspitek Tangerang dan bom buku yang meledak di Utan Kayu pada 2011 lalu.

Bom buku itu -yang ditujukan untuk cendekiawan Islam, Ulil Abshar Abdalla, yang berkantor di Utan Kayu- meledak ketika diperiksa oleh polisi, dan seorang polisi terluka parah di bagian lengan.

Selain itu, bom buku juga sempat dikirimkan ke Kepala Badan Narkotika Nasional, Komjen Gories Mere, penyanyi Ahmad Dhani dan tokoh Pemuda Pancasila, Yapto S Soerjosumarno.

Topik terkait

Berita terkait