Mengapa hanya tiga daerah wisata Indonesia yang terkenal?

Danau Toba Hak atas foto Wonderful Indonesia
Image caption Danau Toba, salah satu yang diprioritaskan sebagai 10 Bali Baru oleh pemerintah Indonesia.

Indonesia tidak hanya Bali dan dari sisi pariwisata masa depan Indonesia cerah, namun sayang promosi masih kurang gencar, begitu komentar dua pelaku wisata di Inggris.

Komentar ini mereka lontarkan selama World Travel Market, salah satu pameran tahunan wisata terbesar dunia yang diselenggarakan di London pada minggu pertama November.

Indonesia, bersama banyak negara lain, juga ikut serta dalam WTM dengan lebih dari 25 agen perjalanan yang ikut memamerkan berbagai daerah-daerah tujuan wisata Indonesia ini.

Lebih dari 5.000 pelaku wisata dari berbagai sudut dunia lain ikut serta dalam pameran ini untuk menjajakan berbagai hal guna menarik turis.

Image caption Paviliun Indonesia berbentuk phinisi di World Travel Market, London.

Pelaku pameran, termasuk agen perjalanan Shanghai misalnya yang menawarkan paket jalan-jalan mulai dari penjemputan di bandara sampai paket konferensi di berbagai lokasi di Cina, dan ada juga tawaran dari India yang menjanjikan pengalaman menikmati paket budaya, seni, kerajinan dan kuliner.

Inilah sejumlah tantangan dan persaingan yang dihadapi Indonesia dalam ikut merebut turis mancanegara.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengakui bahwa dari 222 daerah yang masuk dalam Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional, yang terkenal hanya tiga, Bali, Jakarta dan Kepulauan Riau.

Image caption Tawaran campuran minuman di paviliun Indonesia.

Tiga kawasan ini menyumbangkan sekitar 90% daerah yang dikunjungi turis mancanegara, yang berjumlah lebih dari 10 juta pada tahun 2015.

Target pemerintah Indonesia adalah melipatgandakan kunjungan turis ini menjadi 20 juta dalam tiga tahun mendatang, pada 2019. Jumlah turis asing yang mengunjungi Thailand sekitar 27 juta setahun, sementara Malaysia 24 juta.

Marcus Leach, manajer penjualan Select Representation di Inggris -yang menulis dalam situs perusahaannya ingin mengunjungi Pulau Komodo- merasa promosi Indonesia masih perlu ditingkatkan karena kurangnya pengetahuan orang tentang Indonesia.

"Di sini (Inggris) ada lembaga yang mempromosikan turisme Indonesia namun dibandingkan negara-negara lain, organisasi itu kurang menonjol. Tapi memang dalam beberapa waktu terakhir makin banyak warga di Inggris yang tahu Indonesia," kata Leach kepada wartawan BBC Indonesia, Mohamad Susilo.

'Memalukan'

"Ada acara BBC (Planet Earth II) yang menampilkan Pulau Komodo dan saya yakin banyak orang yang ingin ke sana. Di luar itu, Indonesia harus lebih banyak menggandeng operator wisata untuk mengenalkan tujuan wisata seperti Labuan Bajo dan Flores. Indonesia tidak hanya Bali, Indonesia punya masa depan yang cerah," tambahnya.

Sam Collins, dari Ethos Travel menyatakan hal senada.

"Mengeluarkan dana promosi itu penting, namun yang juga penting adalah membelanjakan dana promosi secara cerdas.," katanya.

Dari sisi pengenalan tempat wisata lain, pemerintah Indonesia meluncurkan apa yang disebut 10 Bali Baru, yang mencakup Danau Toba (Sumatera Utara), Belitung (Bangka Belitung) Tanjung Lesung (Banten), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Candi Borobudur (Jawa Tengah), Gunung Bromo (Jawa Timur), Mandalika Lombok (Nusa Tenggara Barat), Pulau Komodo (Nusa Tenggara Timur), Taman Nasional Wakatobi (Sulawesi Tenggara), dan Morotai (Maluku Utara).

Tantangannya tak hanya mengangkat 10 tempat wisata itu saja namun juga menjaga keberimbangan wisata yang berkelanjutan dengan mengikuti standar international terkait menjaga lingkungan alam, budaya dan nilai ekonomi, dalam hal ini fasilitas dan kebersihannya.

Peringkat Indonesia dalam menjaga wisata yang berkelanjutan ini masih dalam tingkatan yang menurut Arief Yahya, "memalukan."

"Mohon maaf, kita dinilai tidak peka terhadap lingkungan. Peringkat kita dalam menjaga lingkungan yang berkelanjutan adalah 134 dari 141, artinya memalukan. Bangsa Indonesia dianggap sebagai tak beradab, padahal sangat beradab," kata Arief kepada wartawan BBC Indonesia, Endang Nurdin.

Mengembangkan Borobudur sesuai standar wisata dunia

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Henna bermotif traditional Indonesia termasuk batik ditawarkan di paviliun Indonesia.

"Untuk (pengembangan 10 Bali Baru) tiga topnya yang diprioritaskan Danau toba, Borobudur, Mandalika, kita langsung didampingi oleh World Bank, langsung menggunakan global standard, (kriteria pembangunan ramah lingkungan, termasuk infrastuktur, kebersihan fasilitas seperti toilet)," tambah Arief.

Arief juga mengatakan penilaian daerah ini akan dilakukan pada tahun baru mendatang.

Image caption Taksi-taksi London dengan kawasan tujuan wisata Indonesia, termasuk Pulau Komodo.

Dari sisi tingkat persaingan dunia, Tourism Competitiveness Index, berdasarkan peringkat yang dibuat World Economic Forum, Indonesia saat ini berada di posisi ke-50, peningkatan 20 tempat dari dua tahun sebelumnya karena "prioritas industri pariwisata".

"Semula peringkat 70 dari 140 negara dan berkat kerja keras lompat ke-50. Poinnya adalah kita harus pakai standar global yang ditetapkan World Tourism Organisation (UNWTO) dan World Economic Forum," kata Arief.

Tempat teratas adalah Spanyol, diikuti oleh Prancis, Jerman, AS, Inggris, sementara negara-negara Asia Tenggara lain, seperti Singapura berada di tempat ke-11, Malaysia di tempat 25 dan Thailand di-35.

Laporan selengkapnya tentang upaya Indonesia mendongkrak kunjungan wisatawan asing bisa Anda simak di acara Dunia Bisnis BBC Indonesia, bersama Mohamad Susilo, hari Senin, 21 November pukul 05.00 WIB.

Topik terkait

Berita terkait