Prabowo temui Jokowi di Istana: 'Saya tidak akan jegal Jokowi'

Jokowi dan Prabowo Hak atas foto Kris - Biro Pers Setpres
Image caption Presiden Joko Widodo bertemu kembali dengan Ketua umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Kamis (17/11) siang.

Presiden Joko Widodo dan Ketua umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, dalam pertemuannya di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/11) siang, menyatakan bahwa perbedaan politik yang muncul di masyarakat tidak boleh menyebabkan perpecahan bangsa.

"Kita tidak menginginkan kita terpecah-belah gara-gara perbedaan politik, karena sangat mahal harganya bagi negara kesatuan republik Indonesia (NKRI)," tegas Presiden Joko Widodo kepada wartawan di teras dalam Istana Merdeka, usai pertemuan.

Sementara Prabowo Subianto mengatakan walaupun mereka bersaing secara politik dan dia terus mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggap tidak tepat namun sejak awal berkomitmen tidak akan bersikap destruktif.

"Saya tidak akan menjegal bapak (Jokowi), karena bapak merah putih. Jadi, kritik itu bagus asal tidak destruktif dan tidak mengarah kepada kekerasan," ungkap Prabowo.

Duduk di atas sofa, Presiden mengenakan kemeja batik lengan panjang, sementara Prabowo mengenakan kemeja putih, celana krem dan kopiah hitam. Di hadapan mereka, duduk para wartawan.

Kepada para wartawan, Prabowo mengaku dijamu makan siang dengan menu utama ikan bakar. "Kalau di Hambalang (di rumah Prabowo), nasi goreng," kata Prabowo, seraya tertawa.

Jaga kemajemukan

Presiden Jokowi mengatakan pertemuannya dengan Prabowo merupakan kunjungan balasan setelah dirinya mengunjungi kediaman Prabowo di Hambalang, Bogor, akhir Oktober lalu.

Presiden juga menyebut silaturrahmi itu sebagai tradisi yang sangat baik. "Dan saya berharap budaya seperti ini juga sampai ke tengah sampai ke bawah," kata Jokowi.

Menurutnya, ada beberapa hal yang dibicarakan dalam pertemuan antara lain kesamaan keduanya dalam berkomitmen untuk menjaga kemajemukan Indonesia.

Hak atas foto Kris - Biro Pers Setpres
Image caption Prabowo Subianto dan Presiden Joko Widodo sepakat bahwa perbedaan politik tidak mengakibatkan perpecahan bangsa.

"Dan saya dengan Pak Prabowo juga berkomitmen bersama-sama menjaga Indonesia yang majemuk ini," kata Presiden.

Hal ini juga diamini Prabowo: "Perbedaan politik itu hal biasa, tidak boleh jadi masalah dan perpecahan (yang) berkelanjutan."

'Saya tidak membeo'

Sebagian wartawan kemudian mengajukan pertanyaan. Kepada Prabowo, seorang wartawan menanyakan apakah pertemuan ini akan berujung dukungan Prabowo kepada pemerintahan Jokowi.

"Oh, tidak. Demokrasi membutuhkan kritik. Pak Jokowi tidak pernah meminta Gerindra tidak mengkritik," tegas Prabowo.

Dia juga mengatakan bahwa Jokowi tidak takut dengan kritik. "Beliau tidak minta kami mbeo. Demokrasi yang modern bukan mbebek."

Walaupun tidak menyinggung secara eksplisit soal status tersangka Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama terkait dugaan penistaan agama, Prabowo mengatakan:

Hak atas foto Getty Images
Image caption Prabowo Subianto mengatakan dirinya tetap bersikap kritis terhadap pemeritahan Jokowi. "Tapi tidak destruktif," katanya.

"Saya sampaikan apresiasi kami dengan perkembangan terakhir. Saya lihat kita bisalah melalui proses cobaan yang kita hadapi bersama dengan ketenangan dan kesejukan."

"Kongkretnya adalah mendorong selalu ke arah penyelesaian yang tanpa gaduh, tanpa ketegangan, (dan) kita mencegah kekerasan," tambah Prabowo

Menurutnya, dirinya dan Jokowi tidak menghendaki adanya perpecahan dan berusaha untuk menghindarinya, walaupun ada perbedaan politik diantara mereka.

Isu demo 25 November

Ditanya bagaimana sikapnya tentang aksi penolakan terhadap kampanye Ahok-Djarot di beberapa tempat, Prabowo tidak menjawabnya secara langsung.

Dia hanya mengatakan bahwa masyarakat Indonesia itu majemuk dan sebagian masih butuh pendidikan memadai dan kesempatan hidup yang lebih baik. "Ini realitas, tidak bisa dihindari".

Karena itulah, menurutnya, setiap tokoh mesti benar-benar bisa menjaga kesejukan, ketenangan, dalam tutur kata.

Hak atas foto AFP
Image caption Unjuk rasa FPI menolak kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

"Supaya masyarakat tidak emosional. Bangsa kita emosional, gampang terbawa perasaan, terbawa sakit hati. Kalau tersakiti, lama sembuhnya. Itu masalahnya," kata Prabowo, kemudian terkekeh.

Wartawan kemudian menanyakan soal isu unjuk rasa tanggal 25 November terkait proses hukum Ahok, yang dijawab Prabowo dengan mengatakan dirinya tidak segan-segan untuk berupaya mengurangi ketegangan politik.

"Jadi, bukan untuk hadapi (isu demo tanggal) 25 (November), setiap saat ada ketegangan, kita bekerja keras untuk menyejukkan," katanya.

Berita terkait