'Rush money' merusak kepentingan masyarakat dan akan dilacak polisi

perbankan Hak atas foto Getty Images
Image caption Aksi menarik uang secara massal biasa dilandasi ketidakpercayaan atas kondisi perbankan dan stabilitas ekonomi

Saat ini muncul isu yang mengajak masyarakat Indonesia agar menarik uang dalam jumlah besar dari bank atau yang dikenal dengan 'rush'.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian usai bertemu dengan MUI di Menteng, Jakarta Pusat pada Jumat (18/11).

Kapolri menegaskan bahwa isu yang marak di media sosial tersebut palsu belaka dan penyebarnya akan ditangkap.

"Ajakan untuk rush mengambil uang di bank itu tidak benar dan itu provokatif", kata Tito

"Kami dari kepolisian akan melacaknya dan akan melakukan penangkapan. Saya sudah memerintahkan Bareskrim (Badan Reserse Kriminal), Polda Metro, semua jaringan kelompok siber, dan investigasi untuk melakukan pelacakan."

Merusak kepentingan masyarakat sendiri

Sementara itu Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan bahwa ajakan rush akan merusak perbankan dan kepentingan masyarakat.

"Kalau merusak, pasti yang akan terkena dan menderita dulu adalah masyarakat paling kecil dan masyarakat miskin. Oleh karena itu hati-hati dalam melakukan tindakan yang bisa saja melukai dan memengaruhi kepentingan masyarakat sendiri," jelasnya kepada para wartawan, Jumat (18/11).

Hak atas foto AFP/ZACH GIBSON
Image caption Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengingatkan bahwa isu rush akan membuat masyarakat yang lebih dulu menderita.

"Kalau merusak dan terutama merusak kepentingan masyarakat miskin, tentu sangat bertentangan erat dengan yang mereka mau tuju kan?" tambahnya.

Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, juga sudah meminta masyarakat tidak terpengaruh dengan isu rush yang beredar.

Agus -seperti dikutip kantor berita Antara- mengatakan bahwa kondisi perbankan Indonesia saat ini dalam keadaan sehat sehingga tidak perlu melakukan rush.

"Sistem keuangan, sistem perbankan sehat, jadi tidak ada dasar untuk ada kegiatan yang disebut rush," kata.

Rush biasa dilakukan masyarakat ketika terjadi ketidakstabilan ekonomi atau kondisi perbankan yang tidak sehat, yang mengakibatkan masyarakat khawatir menyimpan uangnya di bank sehingga memutuskan untuk menarik simpanan mereka dari bank.

Indonesia pernah mengalami rush pada 1997 saat banyak bank di Indonesia terpaksa ditutup setelah dinyatakan bangkrut, yang mengakibatkan kepanikan di masyarakat.

Agus Martowardoyo pun menghimbau masyarakat dan media massa tidak terpengaruh isu rush.

"Mohon jangan memberitakan yang membuat masyarakat menjadi tidak tenang. Kami ingin menyampaikan bahwa bersama otoritas yang lain, kita konfirmasikan kondisi stabilitas ekonomi Indonesia terjaga baik," kata Agus.

Berita terkait