Lanjutkan 'konsolidasi kebangsaan,' presiden Jokowi kecam pemaksaan kehendak lewat aksi massa.

Jokowi Hak atas foto Reuters
Image caption Presiden Jokowi menyebut bahwa Indonesia akan selalu menghadapi perbedaan.

Sesudah makan siang dengan Ketua Umum PDIP Megawati, Presiden menjamu Ketua Umum PPP Muhammad Romahurmuziy, dalam rangkaian apa yang disebutnya sebagai 'konsolidasi kebangsaan.'

Sebagaimana pertemuan dengan para ketua umum partai sebelumnya, pertemuan ini terkait dengan upaya pemerintah memperoleh kesamaan sikap menghadapi panasnya situasi politik belakangan ini menyusul aksi ratusan ribu orang, 4 November lalu yang ditengarai berbau prasangka rasial dan agama.

"Ini merupakan konsolidasi kebangsaan," tandas presiden.

"Dan ini juga mengingatkan kita semuanya, betapa pentingnya ideologi Pancasila, betapa pentingnya Bhineka Tunggal Ika, betapa pentingnya UUD 1945. Dan mengingatkan semua bahwa kita berbeda-beda. Faktanya seperti itu," kata Presiden Jokowi dalam jumpa pers di Istana Negara.

Sebelumnya, Presiden sudah mengunjungi dan menjamu Ketua Umum PDIP Megawati, Ketum dan Pendiri Partai Gerindra yang juga merupakan seterunya di Pemilihan Presiden 2014, Prabowo Subianto Ketum Partai Nasdem Surya Paloh dan Ketum Partai Golkar Setya Novanto.

Presiden sudah pula mengunjungi atau menerima para tokoh agama, serta melakukan safari ke berbagai satuan elit militer dan polisi.

Ditegaskan presiden, "Kita adalah bangsa majemuk, yang akan terus menghadapi perbedaan-perbedaan. Solusinya adalah kembali pada konsep negara hukum. Pegangan kita adalah apa yang tercantum dalam konstitusi bahwa negara kita, Indonesia, adalah negara hukum."

"Sebagai negara hukum, semua harus berjaan berdasarkan atas hukum, bukan atas dasar pemaksaan kehendak, apalagi dengan menggunakan kekuatan massa. Hukum harus menjadi panglima," tandas presiden.

Menanggapi presiden, Ketua Umum PPP Muhammad Romahurmuziy mengatakan, "keanekaragaman itu adalah kekayaan kita dan faktor perekat kita, bukan sebagai faktor pembeda. Itu yang paling prinsip: kita adalah negara yang ber-Bhinekka Tunggal Ika."

Ia megegaskan pula bahwa sejak awal Islam di Indonesia "adalah faktor perekat, faktor pemersatu, faktor pengayom."

"Maka wajah Islam yang dikembangkan di Indonesia adalah wajah Islam yang ramah, wajah Islam yang menarik, wajah Islam yang merangkul. Bukan wajah islam yang garang, bukan wajah Islam yang membawakan kekerasan, dan bukan wajah Islam yang terus menerus menimbulkan ketegangan."

Ia mengingatkan, kita harus belajar dari berbagai perpecahan di Timur Tengah, yang tak berhenti berperang karena perbedaan mazhab, sengketa hasil pemilu, dan perbedaan tafsir agama.

"Kita harus menjaga Islam sebagai perekat," tegas Muhammad Romahurmuziy.

Topik terkait

Berita terkait