Wilmar klaim telah lakukan investigasi masalah buruh di perkebunan kelapa sawit

kelapa sawit Hak atas foto EPA
Image caption Indonesia merupakan salah satu negara terbesar pemasok kelapa sawit.

Perusahaan kelapa sawit yang berbasis di Singapura, Wilmar International, menyambut baik laporan Amnesty International mengenai penggunaan buruh anak dalam perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Sumatra Utara.

Dalam keterangan pers yang diterima BBC, merespons laporan Amnesty International, Wilmar mengatakan telah membuat investigasi internal yang dilakukan sejak Agustus 2016 lalu, yang berkaitan dengan tuduhan yang disebutkan oleh Amnesty International yang berkaitan dengan dua perusahaan - PT Daya Labuhan Indah dan PT Perkebunan Milano - di Sumatra Utara.

Dalam laporannya Amnesty International menyebutkan perusahaan kelapa sawit yang berbasis di Singapura, Wilmar disebutkan menggunakan buruh anak dengan usia mulai delapan tahun, dan melakukan pelanggaran terhadap hak pekerja perempuan dengan jam kerja yang panjang dan upah kurang dari standar internasional yaitu US$2,5 atau sekitar Rp33.000 per hari.

Amnesty juga menyebutkan para pekerja berada dalam lingkungan kerja yang buruk dan terpapar zat kimia beracun yang digunakan dalam perkebunan.

Wilmar juga mengatakan bahwa pihaknya mengetahui laporan Amnesty International akan memfokuskan pada masalah hak pekerja dalam industri kepala sawit.

"Kami menyambut laporan ini, untuk membantu memperhatikan masalah buruh dalam industri kelapa sawit dan khususnya Indonesia. Wilmar telah menerapkan sejumlah upaya dan sistem untuk berhubungan dengan masalah buruh dan sosial di dalam operasi dan rantai pasokan."

Wilmar juga mengatakan telah mempublikasikan masalah ini dan tindakan internal yang dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas.

Keterangan tertulisnya menyebutkan Wilmar memahami dan menghormati seluruh hak pekerja, termasuk pekerja kontrak, pekerja sementara dan buruh migran.

"Prinsip keberlanjutan ini juga termasuk tidak dilakukannya deforestasi, tidak menggunakan lahan gambut dan eksploitasi, yang diluncurkan pada Desember 2013, sebagai salah satu komitmen utama kami."

Sementara itu, Gabungan pengusaha kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) membantah adanya penggunaan buruh anak dan juga pelanggaran terhadap hak pekerja perempuan seperti yang dilaporkan oleh organisasi pemantau HAM, Amnesty International.

Juru bicara GAPKI Topan Mahdi mengatakan seluruh perusahaan kelapa sawit yang beroperasi di Indonesia mematuhi aturan ketenagakerjaan.

"Kalau kita merujuk pada aturan itu jelas tidak mungkin bahwa ada perusahaan sawit yang nekat mempekerjakan anak di bawah umur sebagai pekerja, karena itu melanggar hukum dan itu akan membawa konsekuensi yang berat, saya pikir data dari Amnesty International itu harus diverifikasi, mereka melakukan penelitian di mana, dan saat apa mereka menetapkan demikian dan kapan mereka melakukan penelitian," kata Topan.

Perusahaan Wilmar, disebutkan oleh Amnesty, memasok kelapa sawit untuk perusahaan makanan dan kebutuhan sehari-hari seperti AFAMSA, ADM, Colgate-Pakmolive, Elevance, Kellogg's, Nestle, Procter &Gamble, Reckitt Benckiser dan Unilever.

Topik terkait

Berita terkait