Aksi demo 411, 212, dan 'efek trauma' yang membayangi pengusaha

Aksi demonstrasi 4 November 2016 di Jakarta Hak atas foto Ed Wray
Image caption Gelombang kepergian para pengusaha untuk menghindari aksi demo 2 Desember, sebagai aksi lanjutan dari 4 November lalu, sudah terjadi sejak 23 November lalu.

Sebagian pengusaha waswas menghadapi aksi 212 atau peristiwa 2 Desember di Monas nanti yang, belajar dari unjuk rasa 4 November, menimbulkan trauma bagi sebagian pengusaha keturunan Tionghoa dan memilih keluar Jakarta.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Ade Sudradjat menilai bahwa bagi para pengusaha ini, unjuk rasa yang mengerahkan massa berlebihan untuk memberikan daya tekan pada pemerintah selalu menimbulkan efek trauma yang lebih besar, terutama terkait kerusuhan 1998.

"Data sementara (asosiasi) hampir semua pedagang distributor maupun toko-toko yang berada di jalan-jalan protokol, itu hampir 50% lebih sudah mengambil sikap, mendingan keluar dari Jakarta, mungkin lebih dari 100.000 ya. Mungkin saja mereka tidak di Jakarta, tapi mereka ke Bali, atau ke Manado, atau ke Yogya, ke daerah-daerah yang kita perhitungkan relatively tidak akan terjadi kerusuhan rasial," kata Ade.

Singapura menjadi tujuan utama bagi mereka yang memilih ke luar negeri. Umumnya mereka memilih untuk melihat situasi antara 10-15 hari, ke depan.

"Tapi biasanya kalau 1-2 hari teratasi dengan baik, pasti akan dengan segera kembali karena kegiatan ekonomi, mereka tidak bisa tinggalkan lebih lama," tambah Ade.

Dia menandaskan bahwa kepergian ini bukan terkait liburan akhir tahun, melainkan sengaja untuk menghindari risiko kerusuhan yang mungkin terjadi dengan berkumpulnya massa dalam jumlah besar.

Gelombang kepergian para pengusaha ini, menurut Ade, sudah terjadi sejak 23 November lalu. Dan sebagai dampaknya, aktivitas retail pembelian bahan baku serta penjualan bahan jadi tekstil pun melambat sehingga pengendapan barang terjadi di pabrik dan menimbulkan kerugian ekonomi.

Seorang pengusaha pakaian bisniseceran keturunan Tionghoa di Jakarta, Holy Veronica membenarkan kekhawatiran yang disebut oleh Ade Sudradjat tersebut.

"Kalau yang kemarin (4 November) memang, ada teman kondangan di Bali, jadi kebetulan ada di Bali, dan itu pun tidak menyenangkan, kita deg-degan, kita nggak tahu keadaan di sini bagaimana, lewat TV, lewat berita. Khawatir sih sudah pasti, terus yang tanggal 2 Desember ini, deg-degan sih, tapi kalau sampai beli tiket, belum. Mungkin bakal siapin koper," kata Holy.

Sementara itu, hitung-hitungan ekonomi yang dilakukan oleh Tito Rizal dari Universiti Kebangsaan Malaysia mencatat adanya kerugian sampai Rp4 triliun akibat unjuk rasa besar yang berlangsung pada 4 November lalu.

Hak atas foto GOH CHAI HIN
Image caption Aksi demonstrasi lanjutan pada 2 Desember nanti akan berlangsung di taman Monumen Nasional.

Tito menghitung, berdasarkan data Kadin, bahwa sentra-sentra usaha di kawasan Kelapa Gading dan Glodok tercatat ada sekitar 20.000 toko, yang jika diandaikan masing-masing toko memiliki tiga karyawan, maka sedikitnya ada 60.000 orang yang bekerja di sana.

"Di sekitar toko ada warung-warung, yang tercatat ada 5.000, dengan karyawan 2 orang, sudah 10.000, Belum lagi buruh angkut, total-total bisa 150.000. Omzet dari 20.000 (toko) itu (rata-rata) Rp25 juta, itu artinya Rp500 miliar, ditambah lagi yang warung itu rata-rata Rp2 juta, dikali 5.000 sudah hampir Rp10 miliar. Demo itu kan dampaknya bukan satu hari pada tanggal 4, tapi juga tanggal 4, 5, 6, kalikan saja," katanya.

Tito juga mencatat adanya pembatalan transaksi di Jakarta pada masa itu sebesar Rp1,6 triliun.

Unjuk rasa 2 Desember yang akan diadakan di lapangan Monumen Nasional diorganisir Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI), yang dipimpin oleh Front Pembela Islam dan diikuti sejumlah organisasi massa lain.

Namun, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengatakan bahwa mereka akan melakukan aksi di Jakarta dengan sedikitnya 50.000 buruh dari Jabodetabek, Karawang, dan Purwakarta, kendati Kapolri meminta agar kegiatan itu dipindah ke hari lain.

Topik terkait

Berita terkait