Pengibaran bendera GAM di Aceh 'sekadar nostalgia'

GAM Hak atas foto DOKUMENTASI
Image caption Acara yang ditandai dengan pengibaran bendera GAM, disebutkan hanya berlangsung dalam skala kecil, di sebuah tempat terpencil, di Kabupaten Aceh Jaya.

Dikibarkannya bendera bulan bintang dalam peringatan ulang tahun Gerakan Aceh Merdeka, GAM, ke-40 disebutkan hanya sekadar nostalgia dan tak berkaitan dengan aspirasi kemerdekaan.

Peringatan hari jadi GAM, 4 Desember 2016 itu dipusatkan di Kompleks Makam Deklarator GAM, Teungku Chik Di Tiro Hasan Ben Muhammad yang bersebelahan dengan makam Pahlawan Nasional Tengku Chik di Tiro Muhammad Saman di Meureu, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar.

Namun acara yang ditandai dengan pengibaran bendera GAM, hanya berlangsung dalam skala kecil, di sebuah tempat terpencil, di kabupaten Aceh Jaya dan hanya dihadiri sekitar 100 orang.

Sedangkan acara utama, ditandai dengan doa bersama, tausiyah, santunan anak yatim, dan kenduri bersama dengan masyarakat setempat. Tidak ada pengibaran bendera GAM di tempat-tempat yang digunakan untuk peringatan hari jadi tersebut.

Bendera bulan bintang telah ditetapkan sebagai bendera Provinsi Aceh, melalui qanun atau perda, namun belum disetujui oleh pemerintah pusat,

Di beberapa kabupaten/kota di Aceh, bendera GAM sempat dikibarkan, meskipun setelah itu diturunkan oleh kepolisian dan TNI.

Teuku Dedi, mantan Panglima Muda GAM Daerah Satu, Meureuhom Daya menyebutkan pengibaran bendera bulan bintang tersebut tidak dengan niat perlawanan terhadap pemerintah.

"Upacara pengibaran bendera itu, murni kami lakukan untuk mengenang syuhada yang meninggal saat konflik Aceh," kata Teuku Dedi melalui sambungan telpon kepada Junaidi Hanafiah wartawan di Aceh, yang melaporkan untuk BBC Indonesia.

Sekadar nostalgia

Teuku Dedi mengaku, pengibaran bendera tersebut tanpa diketahui oleh kepolisian dan TNI, dan mereka juga tidak melaporkan kegiatan tersebut.

Pengibaran bendera itu menurut Dedi dilakukan jauh dari pemukiman penduduk, di Pante Cermin, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya.

"Kami tidak melaporkan kegiatan ini karena kami hanya ingin mengenang peristiwa yang pernah terjadi dan mengenang saudara-saudara kami yang meninggal saat konflik. Kami saat ini hanya ingin Aceh itu makmur dan sejahtera," ujar Dedi.

Hak atas foto DOKUMENTASI
Image caption Kepolisian menyatakan tidak akan menindak dan akan melakukan pendekatan persuasi.

Teuku Dedi menambahkan, sebagian besar mantan GAM juga berharap pemerintah segera menyetujui pengibaran bendera bulan bintang sebagai bendera Aceh. Sehingga masyarakat bisa mengibarkan bendera tersebut berdampingan dengan bendera merah putih.

Pendekatan persuasif

Selain di Aceh Jaya, beberapa laporan menyebutkan pengibaran bendera GAM juga dilakukan di kaki Gunung Seulawah, Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar. Pengibaran bendera GAM ditempat tersebut juga dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Juru bicara Polda Aceh, Kombes Pol. Goenawan menyebutkan, pengibaran bendera bulan bintang memang salah di mata hukum. Betapa pun, katanya, polisi tak akan melakukan tindakan penangkapan.

"Memang, kami bertugas menjaga keamanan dan melakukan penegakkan hukum, tapi terkait ada yang mengibarkan bendera bulan bintang, Polda Aceh melakukan pendekatan secara persuasif, karena pengibaran bendera tersebut hanya nostalgia mengenang masa lalu," papar Goenawan.

Goenawan menambahkan, para mantan petinggi GAM seperti Muzakkir Manaf juga telah mengeluarkan intruksi agar tidak dilakukan pengibaran bender itu, juga untuk hari jadi GAM ke-40.

"Semua pengibaran bendara bulan bintang itu dilakukan oleh orang-orang tidak dikenal, dan mereka hanya nostalgia, bukan ingin melakukan perlawanan terhadap pemerintah," ulang Goenawan.

Topik terkait

Berita terkait