Rencana 'serangan istana' yang gagal hari ini, dua orang masih buron

bom bekasi Hak atas foto POLDA METRO JAYA
Image caption Olah TKP oleh tim gabungan kepolisian, di rumah kos di Bekasi tempat ditemukannnya bom.

Kepolisian menyatakan, masih ada dua orang yang buron dari sebuah komplotan yang merencanakan serangan bom hari Minggu (11/12) ini terhadap obyek vital yang semula disebut sasaran itu adalah Istana Presiden.

"Tersangka ada orang yang sudah dilakukan penangkapan, dua orang lagi masih DPO (Daftar Pencarian Orang: buron). Kemungkinan masih akan berkembang lagi untuk pelaku-pelaku yang lain," kata juru bicara Polri, Kombes Pol. Awi Setiyono, dalam jumpa pers di Markas Besar (Babes) Polri, Jakarta.

Ia mengatakan, sasaran pasti dari rencana serangan itu masih terus didalami oleh polisi dalam interogasi dengan tersangka.

"Yang jelas, mereka merencanakan untuk melancarkan serangan itu hari (Minggu 12/11) ini dengan sasaran obyek vital."

Tentang kabar sebelumnya, bahwa para tersangka mengatakan berencana menyerang Istana Presiden saat pergantian giliran jaga pasukan pengaman presiden (Paspampres), Awi Setiyono mengatakan lagi, 'masih didalami.'

"Jawaban mereka berubah-ubah. Tidak mudah mendapat keterangan dari orang-orang seperti mereka yang sudah siap untuk mati," tambah Awi Setiyono.

"Kami masih punya waktu enam hari lagi (dari tujuh hari hak polisi memeriksa tersangka perkara terorisme)."

Hak atas foto POLRI
Image caption Peledak dengan panci bertekanan yang ditemukan di Bekasi.

Awi Setiyono tak menjelaskan siapa dua orang yang masih buron. Sementara yang sudah ditangkap, Sabtu (10/12) adalah Nur Solihin dan Agus Supriyadi, yang ditangkap di sekitar jalan layang Kali Malang, Jakarta, saat berkendara dengan mobil, usai mengantar Dian Yulia Novi, yang ditangkap di rumah kosnya.

Seorang lagi, adalah terduga perakit bom ini dikenal sebagai Abu Izzah, ditangkap di Dusun Sabrang Kulon, Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah.

Disebutkan, polisi menyita sejumlah barang bukti, termasuk surat Dian Yulia Novi kepada orang tuanya di Cirebon, yang mengaku akan melakukan 'amaliyah' sebagai 'pengantin,' istiah yang merujuk pada serangan bom bunuh diri.

'Pengantin' digunakan sebagai istilah untuk membujuk pelaku bom bunuh diri, terkait iming-iming bahwa sesudah kematiannya, pelaku bom bunuh diri akan menikah dengan 72 orang bidadari di surga.

Masih belum jelas, bagaimana istilah 'pengantin' ini juga digunakan oleh Dian Yulia Novi perempuan pertama Indonesia yang menjadi calon pelaku bom bunuh diri, karena bagi perempuan tak ada wacana yang sepadan dengan 'menikah dengan 72 bidadari."

Bahrun Naim

Juru bicara Polri, Komisaris Besar Awi Setiyono menyebutkan, mereka adalah bagian dari kelompok Bahrun Naim, tokoh ISIS Indonesia yang diduga kini berada di Suriah.

Menurutnya, Barun Naim memiliki banyak sel kecil di Indonesia, 'yang terus mencari orang yang mau 'berjihad,' atau ber-'amaliyah" -menjadi pelaku serangan bunuh diri."

"Bahrun Naim terus berusaha merekrut mereka dan membuat sel-sel kecil."

"Banyak di luar sana yang patut kita waspadai," tandas Awi Setiyono.

Hak atas foto Googlepost
Image caption Bahrun Naim diduga berada di Suriah, merupakan orang Indonesia paling menonjol yang dikaitkan dengan ISIS.

Dalam jumpa pers itu, Awi Setiyono menunjukkan foto bom dengan panci bertekanan itu, yang diledakkan oleh tim Gegana Sabtu malam, tak jauh dari lokasi penemuannya, dan bukan di laboratorium Gegana di Jakarta, untuk mengurangi risiko.

Serangan bom dengan panci bertekanan berisi bahan peledak, mulai banyak dilakukan beberapa waktu belakangan ini. Antara lain dalam percobaan serangan di New York September lalu.

Disebutkan, bom yang menggunakan panci bertekanan itu beratnya 3 kg, dengan daya ledak yang cukup tinggi yang bisa menghancurkan berbagai benda termasuk bangunan dalam jarak sekitar 300 meter. Kecepatan ledak bom itu, disebutkan bisa mencapai 4.000 kilometer per jam.

Berita terkait