Gempa Aceh: pengungsi melampaui 45.000 orang

aceh Hak atas foto EPA/HOTLI SIMANJUNTAK
Image caption Selain luka, banyak anak mulai terkena penyakit pernafasan dan penyakit kulit, kendati belum mencemaskan.

Warga yang kehilangan rumah dan jadi pengungsi akibat gempa yang melanda Rabu lalu, mencapai lebih dari 45.000 orang, ungkap Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Kepala Staf Presiden Teten Masduki mengatakan, Presiden Joko Widodo telah meminta agar gampong dan kecamatan diaktifkan untuk pelaporan data.

"Kemarin para gampong dan kecamatan masih bingung apa yang harus dilakukan untuk pengorganisasian di titik pengungsian. Aktivasi posko yang paling utama adalah aktifkan gampong dan kecamatan di titik-titik pengungsian," katanya.

Pada saatnya, rehabilitasi bangunan, rumah-rumah penduduk dan fasilitas umum serta infrastruktur harus segera dilakukan, kata Teten pula, kepada BBC Indonesia.

Sementara itu Arina Hidayati, seorang dokter dari Solo yang ditugaskan oleh Palang Merah Indonesia (PMI) menyebut, penyakit yang mulai banyak muncul adalah penyakit kulit seperti kudis, serta gangguan pernafasan ISPA, kendati masih dalam kategori normal, dan belum mewabah.

Kementerian Sosial, melalui Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) juga sudah membentuk Pengkajian Cepat Bencana Aceh.

"Saat ini ada 25 orang tim Layanan Dukungan Psikososial. Sebelum mereka melaksanakan tugas mereka harus melakukan pengkajian terlebih dahulu," kata Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa.

"Untuk sementara ini tim berfokus di 4 titik pengungsian yang jumlahnya cukup besar. Assesment utamanya dilakukan pada kelompok rentan yakni lansia, disabilitas, ibu hamil, ibu menyusui dan anak anak. Serta warga yg ditinggalkan anggota keluarganya karena meninggal," kata Khofifah pula.

Hak atas foto AFP/GATHA GINTING
Image caption Ribuan rumah ambruk atau rusak berat, mengakibatkan 45.000 orang jadi pengungsi.

Hingga Minggu (11/12) siang, tercatat 101 orang meninggal dunia dan 857 luka-luka, 139 di antaranya luka berat.

Jumlah pengungsi tercatat 45.329 orang mengungsi yaitu 43.613 orang di Pidie Jaya dan 1.716 orang di Bireuen, akibat rusaknya 11.668 rumah yang meliputi 2.992 rusak berat, 94 rusak sedang, dan 8.582 rusak ringan. Ratusan bangunan seperti ruko, mesjid, kantor, juga rusak atau rubuh.

Infrastruktur yang rusak meliputi jalan sepanjang 14.800 meter dan 55 unit jembatan.

"Namun tidak ada daerah yang terisolir. Semua masih dapat dilalui kendaraan. Dan aktivitas masyarakat sudah berjalan normal," kata Juru bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Hal ini dikukuhkan Arina Hidayati, seorang dokter di tim PMI, yang dari hari ke hari berkeliling dengan Klinik Bergerak.

"Kami menggunakan ambulans merawat para korban. Dan syukurlah, tak ada masalah dengan akses jalan. Kami masih bisa bergerak leluasa, dari desa ke desa, tanpa hambatan berarti," katanya.

Hak atas foto Reuters
Image caption Lancarnya pasokan kebutuhan pokok, khususnya makanan, juga membuat para korban di pengungsian lebih terjaga kondisi kesehatannya.

Dokter Arina mengungkapkan, sejauh ini tak ada wabah penyakit yang berjangkit akibat bencana ini. Mungkin karena penyelamatan dan evakuasi korban tewas berlangsung cukup cepat.

"Ada kesulitan air bersih, namun dampaknya lebih pada penyakit kulot, khususnya kudis. Sejauh ini tak ada wabah diarea atau disentri. Yang agak banyak ditemukan, gangguan pernafasan yang diderita anak-anak, namun masih ringan tingkatannya," tambah Arina.

Ia menyebut, lancarnya pasokan kebutuhan pokok, khususnya makanan, juga membuat para korban di pengungsian lebih terjaga kondisi kesehatannya.

Hak atas foto AP/Trisnadi
Image caption Pembangunan kembali rumah warga serta berbagai fasilitas umum akan menajdi prioritas.

Berita terkait