Kisah para TKW yang lolos dari kawasan ISIS di Aleppo dan Raqqa

Kedatangan TKW Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Kedatangan para TKW di bandara.

Ribuan buruh migran Indonesia telah dipulangkan dari Suriah, sejak 2012 lalu. Beberapa bulan setelah perang di Suriah pemerintah menghentikan pengiriman tenaga kerja Indonesia TKI ke negara itu, meski begitu masih banyak TKI yang tetap dikirim secara ilegal ke sana dan tidak diketahui berapa banyak yang masih terjebak konflik.


Sri Rahayu: "Saya melihat kepala dipenggal"

Saya bertemu dengan Sri Rahayu (46 tahun) di Desa Gontar, Alas Barat, Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat. Daerah ini merupakan salah satu pengirim buruh migran yang terbesar di Indonesia.

Dia kembali dari Suriah, setelah bekerja selama lima tahun di negara itu.

Awalnya dia bekerja di Aleppo selama 2,5 tahun, meski kontraknya telah habis, Sri bukannya dipulangkan tapi 'dijual' oleh agen untuk bekerja di Raqqah. Kemudian dia bekerja selama tiga tahun terakhir di Kota Raqqah, yang pernah diklaim sebagai ibukota oleh kelompok yang menamakan diri Negara Islam ISIS.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Video online

Meski telah beberapa bulan kembali ke desanya, Sri mengaku masih sering merasa kaget dengan bunyi suara yang keras.

"Saya khawatir itu merupakan suara bom," ungkap dia.

Sri mengatakan ledakan bom dan suara tembakan sering terdengar beberapa bulan setelah ISIS menguasai Raqqah.

Rumah majikan Sri pernah terkena bom dalam sebuah serangan udara.

"Saya dengar itu pesawatnya, ketika itu saya sedang di dapur memasak, pancinya terbang ke mana-mana. Dagingnya juga. Saya (terhempas) ke tembok, terus di situ saya duduk. Api (berkobar) di rumah majikan, mau teriak nggak bisa, mau bergerak sudah tidak bisa. Kaget saya," tutunya.

Setelah serangan bom itu, Sri dan majikannya tinggal di sebuah lubang perlindungan di bagian bawah rumah untuk menghindari serangan lanjutan.

Hak atas foto Muhammad Taufiq (Emte)
Image caption Ilustrasi : Sri Rahayu melihat kepala dipenggal

Sri masih mengingat ISIS memberlakukan aturan yang ketat; perempuan harus memakai burqa, dan tidak diperbolehkan untuk bepergian sendirian. Mereka juga melarang merokok dan minuman keras.

"Tapi mereka juga melanggar. Katanya dilarang merokok dan minum, mereka sendiri minum, merokok -kan saya sering liat kalau ke pasar itu. Terus kalau waktu salat, teriak-teriak orang suruh salat, dirinya nggak salat," kata Sri Rahayu.

Selama tinggal di Raqqah, Sri menyaksikan kekejaman ISIS, yang sering menaruh beberapa penggalan kepala manusia di tengah kota.

"Waktu itu hari Jumat , saya minta uang sama majikan, saya mau belanja sayur-sayuran. Sudah ramai di situ. Saya penasaran ada orang memfoto, syuting-syuting di situ," kisah Sri.

"Saya jalan ke sana. Pas saya nengok, ada tujuh atau delapan kepala itu dijejer, darahnya masih mengucur. Sayuran belanjaan saya lempar, dan langsung saya lari ke rumah majikan, pulang."

Pengalaman yang mengerikan itu, membuat Sri ingin kembali ke Indonesia. Berbekal telepon genggam pinjaman dari majikannya, dia mencari nomor kontak KBRI.

Meski berhasil mengontak KBRI, Sri harus menunggu selama satu tahun. Itu, menurut KBRI, karena sulitnya 'menyelamatkan' orang dari Raqqah yang dikuasai ISIS.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Sri Rahayu dan suami: Sri mengaku tak ingin kembali bekerja keluar negeri

Sri kemudian dijemput supir taksi yang disewa KBRI, untuk menuju Damaskaus melalui perjalanan selama enam hari dengan melewati pengunungan agar menghindari ISIS yang berjaga di perbatasan Raqqa.

Setelah kembali ke desanya, Sri mengaku tak ingin kembali bekerja lagi ke luar negeri dan memilih untuk bertani.

"Perasaan saya bebas. Alhamdulillah saya masih hidup, walaupun saya tidak bawa apa-apa, saya bisa ketemu lagi dengan keluarga: sama ibu, suami, anak. Alhamdulillah lega. Kalau rejeki di mana-mana dapat," jelas Sri.

Maria: "Majikan saya lari ke Mesir, saya dikirim ke Aleppo"

Negara-negara di Timur Tengah merupakan tujuan mayoritas buruh migran Indonesia sejak tahun 1980an.

Sebagian besar adalah perempuan yang berasal dari daerah-daerah miskin yang sulit mencari pekerjaan di dalam negeri.

Maria Asumta (34) yang berasal dari Kota Ende di Nusa Tenggara Timur, hanyalah lulusan SD yang mencoba mencari peruntungan bekerja di luar negeri. Cerita pengalaman sukses para TKW, membuat dia tergiur ketika ditawari bekerja di Suriah sebelum konflik terjadi pada 2011 lalu.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Maria Asumta, maintain TKW di Suriah asal Ende, Nusa Tenggara Timur

Oleh agen pengirimnya, dia dikirim bekerja di Homs, di rumah anggota militer Suriah. Beberapa bulan kemudian, konflik pecah di Homs antara pemberontak dan pendukung pemerintah Suriah.

"Kalau tahu ada perang saya tak mau ke Suriah. Tiga bulan setelah itu, baru ada tembakan, ada pesawat-pesawat itu,.. Bom-bom, rumah semua hancur... Kalau tembakan, tidak begitu parah... Masih bisa tidur... kalau (bom), parah... Tak bakalan tidur," jelas dia.

Selama di Homs, Maria bercerita, majikannya dicari oleh pihak pemberontak. Akhirnya majikan Maria pun melarikan diri ke Mesir, meninggalkannya seorang diri. Lalu, kerabat majikan Maria membawanya ke rumah koleganya di Aleppo dan dia bekerja di sana.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Maria berasal dari Kota Ende, NTT salah satu daerah termiskin di Indonesia.

"Saya ditinggal, mereka sudah pergi. Lalu, keponakannya mengantar saya ke rumah temannya... bilangnya saya mau kerja di Syam.... tidak tahunya saya diantar ke Harlab Zahra itu ( Aleppo) tempat perang... yang sangat (mengerikan)... Mau mati mau hidup, juga tidak tahu.."

Maria menceritakan setiap hari dia mendengar suara tembakan dan ledakan bom. Ia sempat mengungsi ke tempat yang lebih aman setelah terjadi serangan bom di permukiman tempat dia bekerja.

Setelah tiga tahun, dia meminta majikannya agar dipulangkan dan mengantar dia ke KBRI di Aleppo. Majikannya sempat menolak.

"(Katanya) kamu tak usah pulang, buat apa kamu ke savara (penampungan di KBRI) lebih baik kamu kerja sama saya saja," kata Maria.

Hak atas foto Diani Apsari
Image caption Ilustrasi: Maria bekerja di Homs kemudian di Aleppo

Setelah beberapa kali memaksa untuk dipulangkan, Maria pun akhirnya diantar ke kantor konsulat Indonesia di Aleppo, setelah beberapa bulan dia dikirim ke Damaskus, dan akhirnya dipulangkan ke Indonesia pada Oktober lalu. Tapi, gajinya tak pernah dibayar oleh majikan keduanya.

"Saya memang minta gaji… Tapi dia bilang tunggu dulu sampai ke Indonesia.. Tetapi sesudah saya sampai, saya telpon dia, dia tidak angkat… .Saya bisa apa…" keluh Maria.

Selama bekerja di Suriah hampir lima tahun, Maria hanya membawa pulang sekitar 1.300 dollar atau Rp.20 juta yaitu gaji dari majikan pertamanya. Mimpinya untuk membangun rumah dan membiayai sekolah keponakannya pun buyar.

Romlah: "Saya ditawari bekerja ke Bahrain, tapi dikirim ke Suriah"

Romlah (45 tahun)- mantan TKW di Suriah - asal Indramayu Jawa Barat, dikirim ke Suriah pada akhir 2015. Awalnya dia diiming-imingi untuk bekerja di Bahrain dan diberi uang Rp. 2,5 juta sebelum berangkat.

Tetapi, menjelang keberangkatan dia diberitahu bahwa akan dikirim ke Suriah. Romlah tak punya pilihan, karena jika menolak dia harus mengembalikan uang yang telah diberikan oleh agen.

"Tapi katanya saya akan bekerja di tempat yang jauh dari perang," kata dia.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Online Video

Romlah pun terpaksa berangkat ke Suriah, dari Indramayu dia dibawa ke Batam, lalu menyeberang ke Singapura dengan kapal laut. Dari negara itu perjalanan ke Damaskus dimulai dengan tujuan pertama Guangzho Cina, Dubai, sampai akhirnya ke Damaskus.

"Keluar dari bandara mengerikan melihat daerah situ rumah pada gelap, banyak tentara dalam perjalanan, bawa bedil… Itu setiap mobil dibuka bagasinya… Sampai saya sempat menangis sama temen saya kok begini ya ..," ungkap Romlah.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Ilustrasi: Romlah ditempatkan dipenampungan di Damaskus

Romlah ditempatkan selama sekitar dua minggu di penampungan milik agen, lalu dikirim bekerja ke Damaskus. Situasi aman yang dijanjikan oleh agen tak terbukti, dan setiap hari dia mendengar suara tembakan dan bom.

"Hati saya tidak tenang, saya bisa gila di sini dengar suara tembakan.. Waduh gimana tidur juga nggak enak karena saya dengar suara bom... Saya takut mati di situ," kata Romlah.

Setelah empat bulan bekerja, Romlah minta dipulangkan dan meminta bantuan petugas KBRI di Damaskus. Tapi majikan tidak mengijinkan karena dia telah membayar uang sebesar 8.000 dollar AS pada agen untuk 'mendapatkan' Romlah.

"Katanya saya harus kembalikan uang majikan kalau mau pulang, saya juga khawatir dikembalikan ke kantor (agen) karena takut dijual lagi ke orang lain," kata Romlah.

Suami dan seorang pendamping dari desanya menelpon KBRI agar menjemput Romlah. Setelah empat bulan bekerja, petugas KBRI pun menjemput Romlah dari rumah majikannya.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Romlah kembali ke Indonesia pada Oktober 2016.

Oktober 2016, Romlah kembali ke Indonesia.

Sesudah itu ia jadi menyadari praktik pengiriman TKW ilegal, lebih-lebih ke kawasan perang, merupakan kejahatan perdagangan orang. Dia ingin agar pelakunya ditangkap.

"Kasihan kan teman kita yang belakangan pergi. Nanti jadi korban. Dia (pengerah tenaga kerja ilegal) yang untung, kita yang buntung… Kasihan keluarga kita… Orang yang menjual kita nggak tanggung jawab, dia yang makan uang," kata Romlah.


KBRI: Tak jelas berapa yang masih terjebak

Sekitar 22 orang TKW masih berada di tempat penampungan di kantor KBRI di Damaskus, dan empat orang TKW di kantor cabang konsuler RI di Aleppo, sampai pertengahan Desember ini. Jumlah mereka diperkirakan akan bertambah karena diduga masih banyak yang terjebak di wilayah konflik.

"Setiap hari ada saja TKW yang datang ke kantor KBRI dan kami tidak mengetahui berapa banyak jumlah TKW yang masih berada di Suriah, kata Pejabat Konsuler dan Pensosbud KBRI di Damaskus, AM Sidqi.

Sebagian TKW tersebut merupakan korban perdagangan orang. Sejak program pemulangan atau repatrasi WNI dimulai pada 2012 hingga awal Desember 2016, pemerintah telah memulangkan sekitar 12.563, yang sebagian besar diantaranya merupakan TKW yang telah bekerja di Suriah sebelumnya, selain korban perdagangan manusia.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption TKW yang baru tiba di bandara Sukarno Hatta bertemu keluarga.

Konflik di Suriah yang kunjung berakhir membuat pemerintah memberlakukan penghentian permanen pengiriman TKI - yang bekerja di sektor domestik - pada tahun 2015. Sebelumnya pada tahun 2011, pemerintah sempat memberlakukan moratorium sementara.

Tetapi pengiriman TKW ke Suriah masih terus berlanjut secara ilegal. Menurut AM Sidqi, moratorium pengiriman TKW secara permanen itu masih dianggap sepihak, karena pemerintah Suriah belum mengakuinya.

"Kami sudah mengirimkan pemberitahuan mengenai moratorium itu, tahun 2011 dan juga 2015 yang bersifat permanen, kita masih berharap pemerintah Suriah mengakui kebijakan itu, tapi mereka mengatakan sebaiknya dihentikan saja pengirimannya dari Indonesia. Sementara itu kan tidak ada yang dikirim ke Suriah secara terang-terangan, mereka itu illegal, non prosedural, dan melangar hukum, " jelas Sidqi.

Kondisi itu menurut Sidqi, menyebabkan TKW dari Indonesia masih dianggap legal oleh hukum di Suriah, padahal dari sisi Indonesia, TKW yang diberangkatkan setelah moratorium itu merupakan korban tindak perdagangan manusia.

Dia mengatakan sebagian TKW yang dikirim setelah kebijakan moratorium diberlakukan, tidak memegang paspor.Perusahaan yang mengirim mereka pun tidak diketahui. Situasi itu menyulitkan proses pemulangan TKW tersebut.

Para TKW yang ditampung KBRI itu, banyak juga yang telah bekerja di Suriah selama bertahun-tahun, dan diantaranya banyak yang mengalami perlakuan buruk. Misalnya tidak dibayar gajinya oleh majikan.

Menurut Sidqi, dalam beberapa kasus akhirnya kemudian gaji dibayarkan setelah pemerintah Indonesia - mewakili TKW - melakukan gugatan hukum.

Hingga kini, para pelaku perdagangan orang masih terus beroperasi.

Pada November lalu, sekitar 14 orang calon TKW yang akan diberangkat ke Suriah dikembalikan ke Indonesia. Peristiwanya terjadi secara 'kebetulan.'

Dalam perjalanan ke Damaskus, para TKW harus berganti pesawat di Lebanon. Di Bandara Beirut Lebanon, puluhan perempuan ini menolak untuk naik pesawat menuju Damaskus. Akhirnya petugas maskapai menghubungi pejabat Indonesia di Beirut, dan para calon TKW ini telah dipulangkan ke Indonesia.


Topik terkait

Berita terkait