Suami isteri di Tasikmalaya dituduh terlibat membujuk perempuan calon pembom bunuh diri

bom bekasi Hak atas foto EPA/IZAAK
Image caption Tim Gegana dan Densus 88 saat memeriksa rumah kos di Bekasi yang dihuni terduga calon pembom bunuh diri Dian Yulia Novita, hari Minggu lalu.

Kepolisian menangkap sepasang suami isteri di Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (15/12) dini hari, dengan tuduhan terlibat rencana serangan bom ke istana negara.

Tim antiteror kepolisian, Densus 88, juga membawa serta anak mereka yang masih berusia 7 tahun.

Kepada BBC Indonesia, juru bicara kepolisian Komisaris Besar Polisi Martinus Sitompul membenarkan bahwa perempuan berinisial TS (37tahun) dan suaminya, HG (39 tahun), ditangkap sekitar pukul 04.30 WIB di rumah kontrakan mereka di Indihiang, Kota Tasikmalaya.

Disebutkan, polisi menduga bahwa TS adalah orang yang turut mendorong Dian Yulia Novita, untuk melakukan 'amaliyah' dengan menjadi pembom bunuh diri.

"Saat ini TS dan suaminya HG diamankan ke Mapolresta Tasikmalaya Kota untuk diperiksa," kata Martinus Sitompul.

Belum jelas, bagaimana peran sang suami, HG. Namun disebutkan polisi, TS adalah orang yang mempertemukan Dian Yulia Novita dengan Nur Solihin, terduga teroris lain yang ditangkap sesudah mengantar Dian ke rumah kontrakannya di Bekasi.

Polisi menangkap Dian di rumah kontrakan itu Sabtu (10/12), serta menyita panci bertekanan yang berisi bom bahan peledak.

Hak atas foto Mabes Polri
Image caption Panji bertekanan dengan bahan peledak yang menurut polisi ditemukan di rumah kontrakan di Bekasi.

Nur Solihin, serta seorang terduga teroris lain, Agus Supriyadi, ditangkap ketika dalam perjalanan dengan mobil sesudah mengantar Dian.

Pada hari itu juga, beberapa jam kemudian polisi menangkap seorang berjuluk Abu Izzah, di Karanganyar, Jawa Tengah, yang dituduh turut menyiapkan bom yang ditemukan di rumah kontrakan Dian.

Menurut polisi saat itu, Dian dan komplotannya merencanakan untuk melancarkan serangan bom di sekitar Istana Presiden, hari Minggu (11/12) -sehari sebelum mereka ditangkap.

Polisi saat itu menyebut, masih memburu dua orang lain yang diduga bagian dari komplotan ini. Namun belum jelas, apakah suami isteri TS dan HG ini adalah dua buronan yang dimaksud polisi.

Keterangan tentang para terduga teroris dan rencana serangan mereka, berasal dari polisi, dan BBC belum bisa memverifikasinya.

Namun jika benar, Dian Yulia Novita diyakini merupakan calon pelaku serangan bom bunuh diri pertama di Indonesia.

Dian Novita disebutkan mengirimkan surat kepada orang tua dan suaminya, yang menyebutkan tentang keputusannya menjadi penyerang bom bunuh diri.

Hak atas foto Mabes Polri
Image caption Surat yang disebutkan ditulis oleh Dian Yulia Novita kepada orang tuanya, berkisah tentang keputusannya menjadi pembom bunuh diri.

Menurut pengamat terorisme Sidney Jones kepada BBC Indonesia, pelibatan kaum perempuan dalam serangan bom bunuh diri di Indonesia sudah diperkirakan lama.

"Memang berdasarkan temuan diskusi antara ekstremis perempuan di telegram, sudah dibahas. Tetapi baru kali ini benar-benar ada calon pelaku bom bunuh diri perempuan di Indonesia," katanya.

Sementara mantan Kepala Badan nasional penanggulangan terorisme (BNPT), Ansyad Mbai mengatakan, pilihan menggunakan kaum perempuan dalam aksi bom bunuh diri karena alasan 'taktis'.

"Penyamarannya lebih bagus, apalagi berbusana seperti orang Arab. Gampang sekali menyembunyikan bom di dalam badannya," kata Ansyad Mbai kepada BBC Indonesia, Minggu (11/12) sore.

Berita terkait