Aksi desak referendum Papua berlangsung di Jakarta dan kota lain

Aksi Papua Hak atas foto BBC INDONESIA

Sejumlah pegiat kembali menggelar unjuk rasa menuntut referendum untuk masa depan Papua- menandai 55 tahun Trikora -deklarasi yang memasukkan Papua Barat ke Indonesia.

Aksi berlangsung di beberapa kota, antara lain di Jakarta, Yogyakarta, Manado, Merauke, Nabire, Gorontalo, Wamena, dan Jayapura.

Di Yogyakarta, unjuk rasa diikuti puluhan orang, yang berlangsung sejak pukul 07.45 pagi, berlangsung sekitar 1,5 jam.

Massa bergerak ke titik nol km Yogyakarta, lalu melakukan orasi.

Tak lama kemudian, polisi memerintahkan mereka bubar. Namun mereka menolak, dan melakukan aksi duduk. Dan kemudian diangkut polisi tanpa perlawanan, ke Polrestabes Yogyakarta.

Di Jakarta, aksi diikuti sekitar 100 pegiat, bermula dari Patung Kuda, tak jauh dari Istana Presiden, lalu bergerak ke arah gedung perwakilan PBB, yang berjarak sekitar satu kilometer.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Unjuk rasa diikuti juga oleh sejumlah warga negara Indonesia non Papua.

Sepanjang jalan, para pengunjuk jalan melagukan nyanyian "Papua bukan merah putih, Papua bintang kejora, bintang kejora."

Surya Anta, juru bicara Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-West Papua), menyebut bahwa unjuk rasa itu mengarah ke gedung perwakilan PBB, karena 'ada peran PBB dalam perampasan kemerdekaan Papua."

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Surya Anta, juru bicara Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-West Papua), menyebut 'ada peran PBB dalam perampasan kemerdekaan Papua."

Ia menyebut, PBB bertanggung jawab atas New York Agreement tahun 1968 yang berujung pada Penentuan Pendapat Rakyat atau Pepera 1969.

Dalam Pepera atau referendum itu pengambilan suara tidak berlangsung satu orang satu suara, melainkan dipilih 1025 warga Papua yang dianggap mewakili sekitar 800.000 warga Papua.

Hasil referendum menyatakan persetujuan Papua Barat bergabung dengan Indonesia.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Aksi warga Papua di Jakarta bersama warga non Papua kali ini berlangsung tanpa bentrokan.

Namun menurut Surya Anta, Pepera dilakukan dengan kecurangan. Lebih-lebih referendum itu didahului dengan operasi militer, yang dikobarkan melalui pencanangan Trikora, 19 Desember 1961.

"Sekarang, kami menuntut agar dilakukan referendum penentuan nasib sendiri bangsa Papua. Nanti hasilnya akan dihormati sebagai pilihan sah rakyat Papua," kata Surya Anta kepada Mehulika Sitepu dari BBC Indonesia.

Sejumlah perwakilan warga Papua dan warga Indonesia yang tergabung dalam FRI-West Papua Barat, diterima untuk bertemu dengan perwakilan PBB.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Kapolres Jakarta Pusat, Kombes Dwiyono menyatakan, unjuk rasa kali ini bisa berlangsung lancar karena para peserta aksi tak memaksa bergerak ke Bundaran HI.

Kepolisian Indonesia mengamankan jalannya aksi yang berlangsung nyaris tanpa insiden.

Kapolres Jakarta Pusat, Kombes Dwiyono mengatakan kepada BBC, bahwa hak mereka untuk melakukan unjuk rasa dijamin undang-undang..

"Kali ini tak ada masalah. Tidak seperti tanggal 1 Desember lalu, karena mereka tidak mengarahkan aksinya ke Bundaran Hotel Indonesia," kata Dwiyono.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Selain di Jakarta yang berlangsung lancar, unjuk rasa berlangsung juga di beberapa daerah, antarea lain Yogyakarta dan Manado, yang dilaporkan berlangsung tak sepenuhnya lancar

Dalam aksi kali ini juga para pengunjuk rasa tidak mengenakan atribut dengan lambang-lambang Papua Merdeka berupa bendera atau ikat kepala Bintang Kejora.

Dalam aksi solidaritas Papua tanggal 1 Desember lalu, bendera dan ikat kepala Bintang Kejora menjadi menjadi utama bentrokan kecil antara polisi dengan pengunjuk rasa, yang membuat polisi menyemprotkan meriam air.

Berita terkait