Terduga teroris Payakumbuh 'kerap terima paket baju ISIS dan minta uang'

Payakumbuh Hak atas foto Dika Pitopang

Jhon Tanamal alias Hamzah, terduga teroris yang ditangkap di Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, disebut kakak kandungnya 'kerap menerima paket pakaian dengan lambang ISIS' dan 'tidak bisa diatur', setelah pulang merantau dari Bandung, Jawa Barat, sekitar dua tahun lalu.

"Di rumah ini semuanya disebut dia haram. Membersihkan makam keluarga juga dibilang haram sama dia," ungkap Syafrial, kakak Jhon kepada wartawan di Payakumbuh, Dika Pitopang, Rabu (21/12).

Syafrial bercerita, John berubah sejak tinggal di Bandung, dua tahun lalu. Di ibu kota Jawa Barat itu, dia tinggal bersama kakaknya yang lain. Mereka semua 11 orang bersaudara.

"Tapi dia di sana sebentar, cuma enam bulan. Di sana dia cuma berutang," kata Syafrial.

Hak atas foto Dika Pitopang
Image caption Syafrial mengaku adiknya berubah saat merantau ke Bandung.

Jhon akhirnya diminta pulang oleh kakaknya di Bandung karena mulai bergaul dengan orang-orang 'yang memiliki pemikiran ekstrem'.

"Adik saya yang nampung dia (Jhon) bilang dia tidak bisa lagi melindungi si Jhon. Akhirnya dia disuruh pulang. Adik-adik saya yang perempuan sudah menangis-nangis meminta dia berubah. Tapi susah. Anaknya keras kepala. Badannya memang kecil, tapi orangnya keras."

Baju ISIS

Detasemen Khusus 88 Antiteror menangkap Jhon Tanamal alias Hamzah, saat lelaki berusia 39 tahun itu sedang berada di sebuah warung kopi di Kelurahan Balai Nan Duo, Payakumbuh, Rabu (21/12) pukul 09.45 WIB. Warung kopi itu terletak tidak jauh dari kontrakannya.

Hak atas foto Dika Pitopang
Image caption Warung kopi tempat Jhon Tanamal alias Hamzah ditangkap.

Memang, sejak pulang ke Payakumbuh dari Bandung, Jhon yang disebut kakaknya 'tidak begitu akur dengan saudara-saudaranya yang lain', memilih untuk tinggal di kontrakan, yang masih berada di kelurahan yang sama.

Jhon disebut polisi ditangkap 'tanpa perlawanan'. Dari kontrakannya, polisi menyita buku, bungkusan paket, telepon genggam, tas ransel, rekening bank dan GPS.

Hak atas foto Dok. Kodim 0306
Image caption Barang-barang yang disita dari kontrakan terduga teroris di Payakumbuh.

"Yang bersangkutan adalah bagian dari jaringan teroris Solo pimpinan Abi Zaid," ungkap Kabag Penum Mabes Polri, Kombes Martinus, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (21/12).

Martinus menyebut Jhon sebagai "salah satu sumber pendanaan pembuatan bahan peledak dan bom jaringan Abi Zaid." Jhon juga disebut membeli bahan-bahan yang diperlukan Abi Zaid dan bersama-sama "melakukan percobaan pembuatan bom."

Hak atas foto Dok. Kodim 0306
Image caption Suasana penggeledahan pada Rabu (21/12) pagi.

Syafrial bercerita, adik kandungnya itu kerap menerima kiriman paket "baju dengan lambang ISIS. Tapi karena kakak-kakak dia yang perempuan melihat, lalu diambil sama mereka dan dibakar. Tapi setelah itu, datang lagi (paketnya)."

Syafrial mengaku tidak tahu dari mana paket tersebut berasal.

"Tetapi waktu itu sempat ada satu paket sampai di bengkel saya, tetapi dengan nama tujuan Hamzah (nama alias dari Jhon). Tapi karena kami nggak tahu siapa Hamzah, jadi paketnya ditolak. Setelah itu tidak pernah ada paket lagi."

Meminjam uang

Selama dua tahun terakhir Jhon mengontrak di sebuah rumah papan milik Ratna, di Kelurahan Balai Nan Duo, Payakumbuh.

"Dia bilang dia nggak cocok sama saudara-saudaranya. Karena dia (Jhon) tetangga saya juga, nggak mungkin saya tolak," kata Ratna kepada wartawan di Payakumbuh, Dika Pitopang, mengingat awal mula Jhon tinggal di kontrakan miliknya.

Hak atas foto Dika Pitopang
Image caption Ratna, pemilik kontrakan tempat terduga teroris tinggal.

Ratna mengaku "tidak menyangka" Jhon terlibat jaringan teroris. Apalagi Jhon disebut sebagai salah satu sumber pendanaan pembuatan bom.

"Dia seperti orang nggak punya uang. Saya (memang) tidak tahu kepribadian dia. Tapi dia datang ke saya cuma kalau mau minjam uang, Rp10.000, karena mau beli nasi tetapi nggak ada uang. Jadi, dia nggak enak kalau berutang ke kedai nasi."

Meskipun begitu, Syafrial, kakak Jhon, bercerita belakangan adiknya itu kerap meminta uang "Rp15 juta, dengan cara menyuruh kami mengontrakkan toko warisan keluarga dan meminta separuh uangnya untuk dia. Tapi saudara-saudara yang lain tidak mau."

Hak atas foto Dika Pitopang
Image caption Kontrakan kayu tempat terduga teroris tinggal.

Sehari-hari Jhon, disebut Ratna, jarang bergaul dengan tetangganya.

"Dia gak keluar-keluar kamar kontrakan, di dalam saja. Dia nggak pernah cerita-cerita sama saya. Dia biasanya keluar jam sembilan pagi, lalu pulang ketika Ashar. Jam sembilan atau 10 dia sudah tidur. Meski sudah dua tahun, saya tetap tidak kenal dia," pungkas Ratna.

Topik terkait

Berita terkait