Sel-sel teroris di Indonesia 'makin sulit dideteksi'

polisi Hak atas foto AFP/BIMA SAKTI
Image caption Empat anggota kepolisian melakukan penjagaan di dekat kediaman terduga teroris di kawasan Tangsel, Provinsi Banten, Rabu (21/12) siang.

Pengungkapan jaringan terduga teroris di Tangerang Selatan, Payakumbuh, Deli Serdang serta Batam membuktikan bahwa mereka menyebarkan ideologi radikal melalui sel-sel kecil yang sulit terdeteksi.

Seorang pengamat mengatakan orang-orang itu terhubung satu sama lain karena kesamaan ide yang tersebar melalui media sosial, sehingga dianggap akan menyulitkan polisi karena pelakunya hampir selalu baru.

Hari Rabu (21/12), dalam waktu hampir bersamaan, polisi telah menewaskan tiga orang terduga teroris di Tangerang Selatan dan menangkap tiga orang lainnya di Payakumbuh, Sumatera Barat, Deli Serdang, Sumatera Utara, serta di Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

Tindakan kepolisian ini berdasarkan pengembangan pengungkapan jaringan teroris di Bekasi, pada pekan lalu, yaitu keterangan calon pengebom bunuh diri, Dian Yulia Novi.

Temuan sementara polisi menyebutkan terduga teroris yang tewas di Tangerang Selatan terhubung dengan jaringan ISIS pimpinan Bahrun Naim yang saat ini diyakini berada di Suriah.

"Tetap terkait (Bahrum Naim)," kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjawab pertanyaan wartawan di lokasi penyergapan terduga teroris di kawasan Tangerang Selatan, Rabu (21/12).

Hak atas foto AFP
Image caption Sejumlah anggota kepolisian mengamankan lokasi yang diyakini tempat tinggal terduga teroris di kawasan Tangsel, Provinsi Banten, Rabu (21/12)

Adapun juru bicara Mabes Polri Kombes Polisi Awi Setiyono mengatakan terungkapnya jaringan ini membuktikan bahwa mereka menyebarkan ideologi melalui sel-sel kecil.

"Itu salah-satu apa yang disampaikan oleh Bahrum Naim terkait dengan pembentukan sel-sel kecil. Ya, ini sudah kita buktikan di Bekasi kita temukan bom, di Solo kita temukan bom, di Tangerang. Ini sel-sel kecilnya," kata Awi Setiyono dalam jumpa pers, Rabu (21/12).

Penyebaran melalui sel-sel kecil ini sejak awal telah diyakini oleh polisi sebagai strategi baru ISIS di Indonesia setelah mereka dan organisasi teroris lainnya berhasil ditekan oleh aparat kepolisian.

'Sulit dideteksi'

Menurut pengamat masalah terorisme, Noor Huda Ismail, pola rekrutmen seperti ini sulit terdeteksi karena hampir semua yang direkrut adalah orang-orang yang selalu baru.

"Sangat sulit, karena (pelaku) munculnya baru terus," kata Noor Huda kepada BBC Indonesia, melalui sambungan telepon, Rabu (21/12).

Menurutnya, sebagian besar orang yang bergabung dalam sel-sel kecil itu tidak pernah menjadi jaringan sebelumnya. Dia mencontohkan sosok Dian Yulia Novi, calon pengebom bunuh diri yang ditangkap polisi di Bekasi, pekan lalu.

Hak atas foto Noor Huda Ismail
Image caption Pengamat masalah terorisme, Noor Huda Ismail, mengatakan pola rekrutmen yang baru menjadi sulit terdeteksi karena hampir semua orang-orang yang berhasil direkrut adalah orang-orang yang selalu baru.

"Dia enggak pernah menjadi bagian (kelompok jaringan teroris), (dia) hanya sepakat dengan ide. Dan ide itu tersebar di mana-mana," jelas Noor Huda.

Pola seperti itu berbeda dengan pola rekrutmen lama yang dilatari identitas kolektif. "Dulu fenomenanya orang masuk ke kelompok dulu, jadi identitas kolektif, apakah Jamaah Islamiyah, Darul Islam, atau apapun, kemudian baru terlibat dalam aksi kekerasan," katanya.

Jaringan telegram

Sekarang, lanjutnya, kemunculan sel-sel kecil itu lebih dilatari keterhubungan (connective action) karena adanya kesamaan ide.

"Dia hanya sepakat dengan idenya saja, tapi kemudian terkonek melalui grup WA, grup Telegram itu. Ini fenomena agak mengkhawatirkan," kata Noor Huda, menganalisis.

Melalui media sosial itulah, kelompok-kelompok kecil ini 'bergerak'. "Idenya itu sama, yaitu kalau tidak bisa hijrah atau bergabung dengan al-Baghdadi (pimpinan ISIS) di Suriah, maka lakukan saja di sini (Indonesia)."

Hak atas foto Reuters
Image caption Kapolri Jendral Tito Karnavian mengatakan terduga teroris yang tewas dalam penyergapan di Tangsel, Rabu (21/12), adalah bagian dari jaringan Bahrun Naim.

Menurut Noor Huda, pola rekrutmen seperti ini telah diketahui dan terus diawasi oleh aparat kepolisian.

Dalam penyergapan di Tangerang Selatan, polisi menemukan seperangkat bom siap ledak yang berdaya ledak rendah.

Hasil interogasi polisi terhadap seorang terduga teroris yang ditangkap sebelumnya, bom itu akan diledakkan di sebuah pos polisi di kawasan Serpong, Provinsi Banten di saat Natal atau Tahun Baru.

Polisi menyatakan salah-seorang terduga yang tewas adalah calon pelaku bom bunuh diri.

Penangkapan di Batam

Setelah menangkap terduga teroris di Tangsel, Payakumbuh, dan Deli Serdang, polisi juga telah menangkap seorang terduga teroris di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Rabu (21/12) sore.

Jubir Mabes Polri, Kombes Polisi Awi Setiyono,‎ mengatakan terduga berinisial HA, 28 tahun, adalah anggota kelompok jaringan teroris Katibah Gigih Rahmat.

"Yang bersangkutan juga menyembunyikan dua orang dari Uighur," kata Awi kepada wartawan, Rabu.

Temuan polisi menyebutkan HA adalah pengelola biro perjalanan yang diduga terlibat pengiriman WNI untuk berangkat ke Suriah. "Dia memiliki peran perekrut anggota teroris yang berbaiat kepada ISIS," katanya.

Hak atas foto AFP
Image caption Dua anggota polisi bersenjata lengkap di lokasi penggerebegan terduga teroris di Tangerang Selatan, Rabu (21/12).

Adapun dua terduga teroris S dan JT yang ditangkap di Deli Serdang, Sumatera Utara, dan Payakumbuh, Sumatera Barat, menurut Kapolri Jenderal Tito Karnavian, merupakan anggota jaringan Katibah Gigih Rahmat pimpinan Gigih Rahmat Dewa (GRD).

Gigih Rahmat Dewa, yang ditangkap pada Agustus lalu di Batam, menurut polisi, menjadi fasilitator keberangkatan WNI yang hendak ke Suriah melalui Turki. Dia diduga bagian komplotan Bahrun Naim.

"Mereka berhubungan langsung dengan Bahrun Naim yang ada di Suriah, dan perintahnya adalah untuk melakukan serangan di Singapura dan di Batam," ujar Tito Karnavian.

Sementara, tiga terduga teroris yang tewas ditembak di Tangerang Selatan adalah Omen, Helmi, dan Irwan. Satu orang lainnya berhasil ditangkap.

"Ini bagian dari jaringan Dulmatin yang dididik dan direkrut langsung di LP Cipinang karena salah satu tersangka pimpinannya ini berinisial AR merupakan tersangka penusukan di gereja yang berada di Medan," ujar Tito saat meninjau lokasi kejadian di Tangerang Selatan, Rabu (21/12).

Topik terkait

Berita terkait