Dari Jessica, Ahok hingga LGBT: lima peristiwa Indonesia paling menyita tahun 2016

lima berita Hak atas foto AFP Barcroft Getty

Tahun 2016 adalah tahun yang sangat bewarna. Topik-topik yang ramai diperbincangkan masyarakat meliputi berbagai isu, mulai dari terorisme, sosial-budaya, agama, politik hingga olahraga.

Pembicaraan dari mulut ke mulut hingga ramai di media sosial ini tidak jarang pula berujung kisruh. Namun, bukan berarti tak ada berita baik yang menyedot komentar masyarakat tahun ini.

Berikut kami rangkum lima topik yang kami nilai paling menyita perhatian sepanjang 2016.

Bom dan terorisme

Awal tahun, Jakarta dikejutkan aksi terorisme di kawasan perbelanjaan Sarinah, Thamrin. Enam ledakan, termasuk bom bunuh diri dan penembakan yang diarahkan kepada aparat kepolisian pada Kamis (14/01), menewaskan delapan orang, empat di antaranya pelaku.

Namun, yang menarik dari peristiwa ini adalah ketika netizen ramai membahas sejumlah polisi yang ikut dalam aksi penyergapan. Uniknya mereka tidak membahas aksi para polisi, tetapi ketampanan mereka. Tagar #PolisiGanteng dan #KamiNaksir sempat menjadi salah satu topik populer saat itu.

Hak atas foto AFP
Image caption Polisi saat aksi teroris di seputar Sarinah, Thamrin, pada Januari 2016.

Di tengah tahun, aksi terorisme di Indonesia mulai dilakukan oleh 'sel kecil' dan ' pelaku tunggal'. Sasarannya tetap aparat kepolisian.

Misalnya bom bunuh diri menjelang Hari Raya Idul Fitri di halaman kantor Mapolresta Solo, Jawa Tengah, Selasa (05/07). Satu orang petugas polisi luka ringan.

Pelaku disebut merupakan bagian dari jaringan Bahrun Naim, yang juga diyakini merupakan otak di balik serangan teroris Sarinah, dan diklaim sedang berada di Suriah.

Hak atas foto AFP
Image caption Polisi membawa jenazah pelaku bom bunuh diri di Solo.

Serangan tunggal itu disusul aksi pada Oktober 2016, di mana seorang lelaki menikam tiga orang polisi di pos lalu lintas di Jalan Perintis Kemerdekaan, Cikokol, kota Tangerang, Provinsi Banten. Ketiga petugas polisi itu luka-luka, tetapi dapat diselamatkan. Pelaku tewas kehabisan darah setelah ditembak polisi di kaki.

Hak atas foto AFP
Image caption Penangkapan teroris di Bekasi, Jawa Barat, pada 10 Desember 2016.

Berita terkait rencana bom bunuh diri dan terorisme kembali merebak di akhir tahun. Ini bermula dari penangkapan DIY, seorang perempuan calon pengembom bunuh diri yang akan mengebom objek vital negara (yang diduga Istana Merdeka) dengan menggunakan bom panci berdaya ledak tinggi.

Penangkapannya pada Sabtu (10/12) di Bekasi, Jawa Barat, berujung pada penggerebekan terduga teroris oleh Densus 88 di Tangerang Selatan, Rabu (21/12). Tiga orang teroris yang menyiapkan aksi teror pada libur Natal dan Tahun Baru menggunakan 'bom buatan tangan', tewas ditembak karena melempar bom ke arah polisi saat upaya penangkapan.

Hak atas foto Polri
Image caption Bom panci yang disebut akan digunakan di objek vital negara.

Di hari yang sama, penangkapan terduga teroris terjadi di Sumatera. Di Payakumbuh, Sumatera Barat, Jhon Tanamal alias Hamzah, yang diduga merupakan sumber pendanaan bagi jaringan teroris Solo, ditangkap tanpa perlawanan di kontrakannya.

Sementara di Deli Serdang, Sumatera Utara, Kepolisian menangkap Sy, yang disebut berbair pada ISIS, bersama-sama dengan anggota kelompok KGR (Katibah Gonggong Rebus) pada bulan Agustus 2016 di Sungai Ladi, Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

LGBT yang masih didiskriminasi

Sebagian publik terkejut ketika Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa disebut akan memakai metode merebus, untuk 'menyembuhkan' kaum Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender (LGBT), pada Maret 2016 lalu.

Namun, Khofifah membantah mengeluarkan pernyataan tersebut dan menegaskan metode 'merebus dengan rempah-rempah itu digunakan untuk merehabilitasi pecandu narkoba, bukan LGBT'.

Hak atas foto Barcroft Media
Image caption Kaum LGBT masih kerap dipojokkan di Indonesia.

Polemik terkait kaum LGBT menghangat ketika Menteri Riset,Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, pada Januari 2016, 'melarang aktivitas LGBT' di kampus.

Pernyataannya ini muncul setelah sebelumnya Nasir dilaporkan mempertanyakan keberadaan kelompok jasa konseling Support Group and Resource Centre on Sexuality Studies di Universitas Indonesia.

Hartoyo, Direktur kelompok Suara Kita, organisasi yang mengangkat pentingnya kesadaran masyarakat atas keberagaman gender dan orientasi seksual, menyatakan pernyataan Menteri Nasir 'konyol' dan 'gegabah'.

Hak atas foto Barcroft Media
Image caption Demonstrasi menolak LGBT ramai usai pernyataan Menristek-Dikti Mohamad Nasir yang 'melarang' aktivitas LGBT di kampus.

Perdebatan terkait isu LGBT merebak di masyarakat, termasuk di dunia maya. Ada yang pro dan ada pula yang kontra. Kala itu di Twitter Faiza Mardzoeki ‏@FaizaMardz yang menulis, "1. Menristek tak perlu mengurusi soal privat. 2. Bapak perlu riset dan belajar dulu deh apa itu LGBT supaya gak kacau berpikir."

Sementara Dede Jalaludin ‏@JalaludinKamil menyatakan, "Saya setuju pak. Baiknya larang itu ada. Namun tidak boleh membatasi sebuah kajian dalam hal ini isu sensitif LBGT."

Hak atas foto AFP
Image caption Line melakukan swasensor dengan menghapus emoji yang dianggap menggambarkan hubungan LGBT.

Semakin panasnya pembahasan isu LGBT, khususnya mayoritas nada penolakan yang muncul di masyarakat, mendesak Line Indonesia pada Februari 2016, melakukan swasensor dengan menghapus stiker yang dianggap menggambarkan hubungan LBGT.

Menyusul upaya pemidanaan LGBT di Mahkamah Konstitusi, nada diskriminasi pada kelompok minoritas ini terus berlanjut hingga menjelang akhir tahun. Pemilihan duta pemuda kreatif 2016 oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga, lewat pamflet elektroniknya melarang kaum LGBT ikut serta.

Saat itu pengamat HAM Eko Riyadi mengatakan secara hukum pemerintah tidak boleh melakukan diskriminasi karena konstitusi menjamin setiap orang punya hak untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial, ekonomi dan budaya.

Hak atas foto Barcroft Media
Image caption Presiden Jokowi menegaskan kaum LGBT 'tidak boleh' didiskriminasi.

Dalam wawancara khusus dengan BBC, Presiden Joko Widodo menegaskan "tidak ada diskriminasi untuk minoritas", termasuk LGBT di Indonesia. Jika ada yang terancam karena seksualitasnya, polisi harus bertindak melindungi mereka.

Jessica oh Jessica

Banyak disebut sebagai 'persidangan dekade ini', masyarakat Indonesia terbius untuk mengetahui siapa pembunuh Wayan Mirna Salihin, yang tewas setelah meminum Kopi es vietnam di Olivier Café, Grand Indonesia, pada 6 Januari 2016.

Kasus yang menyita perhatian selama sekitar 10 bulan itu menjadikan tersangka-terdakwa tunggal, Jessica Kumala Wongso, sebagai seorang 'bintang televisi'. Mengapa tidak, persidangan yang berjalan selama enam bulan itu ditayangkan nyaris seharian (12 jam) oleh beberapa stasiun televisi swasta.

Hak atas foto AFP
Image caption Jessica ketika tiba di pengadilan vonisnya.

Tak pelak, masyarakat dan pengamat hukum pun mulai memberikan analisisnya sendiri, apakah Jessica benar-benar membunuh Mirna dengan menggunakan racun sianida yang dimasukkan ke kopi Mirna.

Kondisi ini membuat banyak pihak menyebut tayangan persidangan Jessica, sebagai 'sirkus' media. Liputan media terkait sidang Jessica dianggap berpotensi mempengaruhi asas praduga tak bersalah.

Hardly Stefano, koordinator bidang isi siaran KPI, mengatakan durasi penyiaran sidang Jessica serta proporsi ulasan untuk keluarga korban yang lebih banyak 'pasti ada pengaruhnya' terhadap asas praduga tak bersalah.

Hak atas foto AFP
Image caption Jessica masuk ke ruang sidang untuk pembacaan vonis.

Sementara itu, pengamat dari pusat studi media dan komunikasi, Remotivi, Wisnu Prasetya Utomo, mengatakan banyak liputan media yang tidak berkaitan langsung dengan kasus pembunuhan ini.

"Yang membuat asas praduga tak bersalah hilang, karena diarahkan, misalnya mencari yang tak berkaitan. Misalnya ada TV yang menyiarkan pendapat tetangga-tetangga Jessica, yang tak berhubungan, tapi itu diulang dan didramatisir," pungkas Wisnu.

Hak atas foto AFP
Image caption Ekspresi keluarga Mirna setelah mengetahui Jessica divonis 20 tahun penjara.

Pemberitaan terhadap kasus dengan terdakwa Jessica yang panas sepanjang tahun, seakan sontak hilang ketika hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menyatakan Jessica bersalah membunuh Wayan Mirna Salihin dan memvonis Jessica hukuman 20 tahun penjara.

Ahok, 411 dan 212

Mungkin Gubernur nonaktif Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), tidak pernah menyangka, pernyataannya di Kepulauan Seribu saat melakukan kunjungan kerja ketika masih menjadi gubernur aktif, 27 September lalu, akan membuatnya menjadi tersangka kasus dugaan penistaan agama.

Meskipun pada 10 Oktober Ahok telah meminta maaf kepada umat Islam terkait ucapannya yang menyebut Surat Al-Maidah ayat 51, empat hari kemudian Ormas Islam garis keras, Front Pembela Islam (FPI), tetap melaksanakan demonstrasi di Balai Kota. Mereka meminta polisi untuk menangkap Ahok.

Hak atas foto AFP
Image caption Ahok saat sidang perdananya sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama.

Salah satu orang yang paling menonjol dalam demonstrasi ini tentulah Ketua FPI, Rizieq Shihab. Dalam demonstrasi itu, terekam oleh banyak kamera, Rizieq memimpin nyanyian yang berbunyi: "Ayo kita bersatu, ganyang kepala batu, apa Anda setuju, Ahok h arus dibunuh. Ayo kita bersatu..."

Aksi pada 14 Oktober bergulir menjadi aksi yang lebih besar pada 4 November. Demonstrasi yang berpusat di kawasan Patung Kuda dan halaman luar Monumen Nasional (depan Istana Merdeka) tetap menyuarakan penangkapan atas Ahok. Demo yang diklaim sebagai 'aksi damai' itu, berakhir ricuh karena massa tidak mau pulang, meskipun telah melewati batas waktu demo yang diizinkan aparat.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Aksi 4 November yang semula damai, berakhir ricuh.

Setelah pada 4 November, Wakil Presiden Jusuf Kalla, menjanjikan kasus Ahok selesai dalam dua minggu, dan usai menjalankan sejumlah pemeriksaan dan gelar perkara, Polri pun menetapkan Ahok sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama pada 16 November.

"Saya terima kasih kepada kepolisian yang sudah memproses. (Status) tersangka ini sesuatu yang saya terima. Saya akan ikuti semua proses hukum dengan baik. Dan saya kira ini contoh yang baik untuk demokrasi," tutur Ahok menanggapi statusnya sebagai tersangka.

Hak atas foto AFP
Image caption Rizieq Shihab (memegang mikrofon) saat demo menuntut pemidanaan dan penangkapan Ahok.

Namun, fokus kasus ini tidak hanya kepada Ahok. Sekitar seminggu setelah penetapan Ahok sebagai tersangka, Polda Metro Jaya, menetapkan Buni Yani sebagai tersangka dalam kasus dugaan penghasutan SARA.

Buni adalah orang yang menguggah video Ahok di Facebooknya yang disertai komentar berisi transkripan yang disebut telah diedit. Unggahan video berikut komentarnya itu menjadi viral, beberapa waktu sebelum kecaman terhadap Ahok memanas pada pertengahan Oktober.

Hak atas foto AFP
Image caption Salat Jumat di Monas yang merupakan bagian dari aktivitas aksi 'bela Islam Jilid 3'.

Meskipun Ahok telah ditetapkan sebagai tersangka, aksi kembali berlanjut pada 2 Desember, yang disebut sebagai aksi 'bela Islam jilid 3'. Berpusat di Monas, Jakarta, aksi yang diakhiri dengan shalat Jumat di Monas itu, juga menuntut Basuki Tjahaja Purnama ditangkap.

Demonstrasi 2 Desember menuai beragam reaksi dan sejumlah orang menganggap aksi tersebut memiliki 'kepentingan politik.' Polda Metro Jaya kala itu menangkap 10 orang atas kasus dugaan 'perencanaan percobaan makar' serta 'pemanfaatan terhadap kondisi yang ada hari ini'. Mereka yang ditangkap di antaranya Ratna Sarumpaet, Ahmad Dhani dan Sri Bintang Pamungkas.

Rio, medali Olimpiade dan AFF

Namun, bukan berarti berita yang banyak didiskusikan di negeri ini hanyalah polemik. Berita olahraga yang membuat bangga tanah air, tentunya ramai diperbincangkan.

Pada 18 Februari 2016, Rio Haryanto secara resmi menjadi pembalap untuk Tim Formula Satu Manor Racing. Rio disebut Menpora Imam Nahrawi sebagai 'orang pertama dari Asia Tenggara yang menjadi pembalap F1'.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Rio Haryanto menjadi pembalap Indonesia pertama yang berlaga di ajang Formula 1.

"Semoga ke depannya dengan bekerja keras sekali, tidak hanya ingin mewakili Indonesia di F1. Saya ingin (mengukir) prestasi," ungkap Rio sangat mengumumkan dirinya sebagai pembalap dari Manor Racing.

Namun, segala semangat itu tidak terinterpretasikan dengan baik di lapangan. Di antara tiga pembalap debutan, pencapaian Rio kurang baik. Hasil balapannya; tiga kali tak bisa mencapai garis finis, dua kali ada di urutan 21, sekali menempati posisi 20, 19, 18, dan 16. Serta dua kali ada di posisi 17.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Rio hanya bisa berlaga separuh musim karena masalah pendanaan.

Setelah separuh musim, akhirnya Manor Racing mengganti Rio dengan pembalap Prancis, Esteban Ocon. Keputusan ini diambil Manor karena pembalap F1 pertama asal Indonesia itu 'tidak bisa memenuhi kewajiban kontraktual' terkait kekurangan dana.

Karena Rio adalah pay driver, dia harus membayar 15 juta euro atau setara Rp220 miliar kepada Manor. Dari seluruh kewajiban itu, pihak manajemen Rio baru membayar delapan juta euro.

Hak atas foto AFP
Image caption Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir menggigit medali emas mereka.

Prestasi gemilang diraih pasangan atlet bulu tangkis Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, di ajang Olimpiade Rio 2016. Pasangan ganda campuran ini berhasil menyabet medali emas, sekaligus mengembalikan tradisi emas bulu tangkis, yang sempat terputus pada Olimpiade London 2012.

Sebelumnya, dua atlet angkat besi, Eko Yuli Irawan dan Sri Wahyuni, masing-masing berhasil meraih medali perak. Tidak hanya itu, atlet angkat besi Paralimpiade, Ni Nengah Widiasih, memperoleh medali perunggu pada ajang Paralimpiade 2016 di Rio de Janeiro.

Hak atas foto AFP
Image caption Untuk kelima kalinya Indonesia kalah di final Piala AFF.

Di penghujung tahun, masyarakat Indonesia 'tersatukan' kembali ketika menonton final Piala AFF melawan Thailand. Meskipun begitu Indonesia yang unggul di laga pertama, harus menelan kekalahan ketika di laga kedua Thailand unggul 2-0. Untuk kelima kalinya Indonesia gagal di final Piala AFF.

Betapa pun ini bukan hasil yang buruk bagi Indonesia, yang belum lama dipulihkan dari sanksi pengucilan FIFA. Siapa menyangka, Indonesia bisa lolos ke final. Harus diakui, kalah lima kali di final tanpa penah menang satu kali pun, sungguh tak sedap -juga untuk moral. Tetapi ini tim muda yang menjanjikan.

Hak atas foto AFP
Image caption Antusiasme penonton saat final Piala AFF 2016.

Jadi para pemain tim Indonesia masih bisa berbangga, bisa melaju ke final dan memenangkan laga pertama. Kendati tak bisa membawa pulang pialanya.

Topik terkait

Berita terkait