Pengamat sebut kinerja Polri tangani terorisme 'cukup impresif'

TERORISME Hak atas foto AFP/BIMA SAKTI
Image caption Empat anggota kepolisian melakukan penjagaan di dekat kediaman terduga teroris di kawasan Tangsel, Provinsi Banten, Rabu (21/12) siang.

Tersangka teroris yang ditangkap di Jatiluhur, Jawa Barat, pada Minggu (25/12) diklaim akan menjadikan pos polisi sebagai sasaran serangan. Penggagalan aksi terorisme ini adalah yang terakhir dari belasan penggagalan yang dilakukan polisi di Indonesia sepanjang 2016.

Dari semua aksi terorisme yang terjadi tahun ini, bom Thamrin di Jakarta pada Januari merupakan aksi yang paling menonjol. Serangan ini adalah satu-satunya serangan terorisme yang menelan korban warga sipil sepanjang 2016.

Kantor berita Reuters melaporkan setidaknya ada 15 serangan yang bisa digagalkan tahun ini. Sudah lebih dari 150 penangkapan terkait terorisme dilakukan polisi.

Pengamat terorisme, Noor Huda Ismail, mengatakan kinerja polisi tersebut cukup impresif.

"Kalau ukuran dari sisi penangkapan, polisi kita termasuk yang elit dan dibanggakan dimana-mana. Apakah ukuran counter-terrorism itu hanya pada penangkapan?" kata Noor Huda.

"Apa selanjutnya setelah ditangkap? Sejak 2002 sampai hari ini, penjara itu justru menjadi sekolah kelompok-kelompok ini menjadi mutan kelompok-kelompok lain."

"Semua aksi terorisme, itu semua direncanakan di dalam penjara, dilakukan oleh mantan orang-orang yang berada di dalam penjara, pada tahun pertama mereka keluar. Proses untuk mereka kembali lagi, masa-masa kritis itu biasanya pada tahun pertama."

Tantangan lain adalah bagaimana melacak sel-sel kecil di media , tempat bertumbuh dan menjamurnya ideologi garis keras yang menjadi akar terorisme.

Hak atas foto Dok. Kodim 0306
Image caption Suasana penggeledahan di Payakumbuh, Sumatera Barat, pada Rabu (21/12) pagi.

Juru bicara kepolisian, Rikwanto berkata Densus 88 akan terus memburu sel-sel tersebut dengan semua teknologi yang mereka miliki.

"Kita punya cyber army, cyber patrol, cyber troops. (Tugasnya) melacak, melihat, menganalisa semua informasi yang ada di situ. Diolah untuk kemudian dikalkulasi menjadi sebuah mapping -melihat hubungan satu sama lain dan kecenderungan ke arah mana akan terjadi serangan teroris," jelas Rikwanto.

"Tapi yang paling utama adalah memahami bagaimana ide-ide radikal dari kelompok-kelompok yang sudah kita pantau sebelumnya," tambahnya.

"Sel ini akan diburu oleh Densus terus, di mana pun mereka tumbuh dan berkembang. Pasti ada cara untuk mendeteksi mereka. Dan bagaimana untuk menghilangkan mereka."

Kritik juga datang dari ormas khususnya mengenai pendekatan polisi dalam menangani masalah terorisme.

Dahnil Anzar Simanjuntak, Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah berkata tindakan tembak di tempat yang kerap dilakukan polisi dalam menindak terduga pelaku terorisme bisa menjadi kontraproduktif.

"Fakta selama ini upaya pemberantasan terorisme, atau upaya melakukan penekanan radikalisasi dengan jalur kekerasan justru kemudian memproduksi kekerasan baru atau terorisme baru. Itu yang banyak kami temukan dalam upaya pendampingan kasus-kasus terorisme selama ini," ungkap Dahnil.

Hak atas foto NOOR HUDA ISMAIL
Image caption Pengamat terorisme, Noor Huda Ismail, mengatakan kinerja kepolisian menangkap pelaku terorisme sudah sangat baik, namun memenjarakan para pelaku justru dapat menelurkan aksi terorisme baru.

Selain menangkapi pelaku atau terduga teroris, Noor Huda berpendapat kepolisian juga harus mendekatai lembaga-lembaga keagamaan agar tindakan polisi dilihat bukan untuk memojokkan Islam, melainkan untuk menjaga keamanan.

"Bisa jadi organisasi tertentu telah banyak masuk orang yang berpikir agak radikal sehingga mempengaruhi kultur atau budaya organisasi di situ. Hal ini sulit untuk diubah dari luar, harus masuk ke dalam. Yang punya organisasi juga harus menyadari hal tersebut," jawab Rikwanto.

"Kalau kita harus buka dialog, memang harus, memang penting. Namun dialog itu juga harus didasari kejujuran."

Keempat teroris di Jatiluhur, Jawa Barat, bertepatan dengan hari Natal lalu, disebut berasal dari kelompok Jamaah Anshar Daulah yang berafiliasi dengan ISIS.

Hampir semua teroris yang ditangkap tahun ini berafiliasi dengan ISIS: pelaku serangan pos polisi di Solo, pos polisi di Tangerang, terduga teroris di Batam yang ingin meluncurkan roket ke Singapura, serta terduga teroris yang baru ditangkap pekan lalu di Tangerang Selatan, Payakumbuh, Deli Serdang, dan Batam.

Polisi pun mengantisipasi aksi terorisme yang dapat terjadi di tahun mendatang masih terkait ISIS.

Berita terkait