'Belum ada' upaya terkoordinir mengatasi WNI yang berangkat ke Suriah

Indonesian men pray at a fundamentalist mosque on February 3, 2016 in Solo, Indonesia. Hak atas foto Ed Wray
Image caption Sejauh ini, sudah ada 600 lebih WNI yang berangkat ke Suriah dan ingin bergabung dengan kelompok yang menyebut dirinya Negara Islam atau ISIS.

Tiga WNI yang dideportasi dari Turki dan semula diduga akan bergabung dengan kelompok yang menyebut diri Negara Islam (ISIS), disebut kepolisian bagian dari 600 WNI yang telah berada di Suriah.

Tiga WNI yang tertangkap di Turki dan dideportasi ke Indonesia dimintai keterangan di Markas Brimob Kelapa Dua, Depok, untuk diungkap jaringan serta pendana yang memberangkatkan mereka.

Menurut Kapolri Tito Karnavian, tiga orang ini adalah bagian dari 600 lebih WNI yang sudah berangkat ke Suriah sejauh ini.

"(Dari 600 orang itu) Sebagian ada yang sudah meninggal juga, ada juga yang sudah kembali ke sini, ada juga yang sudah diproses yang kembali, ada juga yang sudah digagalkan di luar negeri, di Singapura yang terbaru, dua orang, di Malaysia, ada yang ditangkap," katanya pada Rabu (28/12).

Menurut Tito, sebagian besar dari WNI yang berangkat ke Suriah adalah bagian dari Jaringan Ansharut Daulah yang berafiliasi ke ISIS, sementara hanya sebagian kecil dari mereka terkait dengan "eks-Jamaah Islamiyah" yang mendukung Jabal Nusra yang mendukung Al Qaida.

Tiga WNI yang ditangkap pada akhir pekan lalu berasal dari Bandung (Jang Johana), Pekanbaru (Tomi Gunawan), serta Jakarta Utara (Irfan), dan mengaku tidak saling kenal satu sama lain.

Oleh pemerintah Turki, ketiganya ditangkap di Provinsi Hatay, yang berbatasan dengan Suriah.

Tidak ada data tentang dari mana saja asal ratusan WNI yang berangkat ke Suriah, sebagian di antaranya melalui Turki.

Hak atas foto Khalil Ashawi/Reuters
Image caption Perang di Suriah menarik dukungan sebagian orang untuk berperang bersama ISIS.

Namun Tito mengatakan kepolisian telah melakukan upaya penangkalan dan juga tindakan hukum bagi mereka yang kembali dari Suriah.

"Kita kerja sama dengan Singapura dan Malaysia, saling memberikan informasi, kalau ada yang lolos dari Indonesia, kemudian dihentikan di sana, dikembalikan ke Indonesia, kerjasama dengan intelijen Turki juga cukup baik, sehingga kita bisa memberikan feeding (informasi) kalau sudah (ada yang) berangkat ke sana, atau dari jaringan intelijen mereka juga melakukan penangkapan dan dideportasi ke Indonesia.

"Mereka yang dideportasi ke Indonesia, terbukti pidana, kita akan naikkan kasusnya menjadi kasus pidana (dibawa ke pengadilan), sudah ada beberapa yang sudah diproses hukum," kata Tito.

Meski begitu, peneliti radikalisme dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Najib Azca menilai upaya polisi sejauh ini belum memadai dalam mengatasi gelombang perekrutan dan keberangkatan WNI yang akan menuju Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

"Pemantauan terhadap mereka yang berada dalam tahanan harus serius, misalnya kaitannya dengan mereka yang masih melakukan kontak-kontak pada pihak luar, masih menebarkan pengaruhnya, melakukan perekrutan pada mereka yang di luar (tahanan), apakah mereka betul-betul menjalani transformasi menjadi lebih tidak radikal?" kata Najib.

Dia juga mengatakan perlunya melakukan evaluasi terhadap langkah dan proses yang berlangsung terhadap mereka yang berada di dalam tahanan, mereka yang akan berangkat, mereka yang sudah kembali, serta pencegahan terhadap "anak-anak muda yang menjadi lahan garapan bagi orang-orang seperti Bachrun Naim".

"Sejauh ini saya lihat belum ada orkestrasi ke arah sana, paduan dari upaya-upaya negara yang punya resources (sumber) besar, otoritas, informasi lengkap, dengan kekuatan di masyarakat yang punya basis sosial luas, itu yang saya kira belum terjadi," katanya.

Topik terkait

Berita terkait