Jumlah bencana di Indonesia mencapai rekor pada 2016

bandung, banjir Hak atas foto AFP
Image caption Kota Bandung beberapa kali dilanda banjir pada 2016, termasuk ketika banjir menghanyutkan sebuah mobil di Jalan Pagarsih, 16 November lalu.

Selama tahun 2016 terdapat 2.342 kejadian bencana, naik 35% jika dibandingkan dengan jumlah bencana pada 2015.

Menjelang pergantian tahun, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membuat rekapitulasi berbagai peristiwa bencana di Indonesia.

Dari data yang dikumpulkan terlihat bahwa jumlah bencana pada 2016 mencapai 2.342 peristiwa. Jumlah ini, menurut Sutopo Purwo Nugroho selaku Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, merupakan yang tertinggi sejak pencatatan kejadian bencana pada 2002.

Bahkan, jika dibandingkan dengan jumlah bencana pada 2015, peristiwa bencana tahun ini meningkat 35%.

Hak atas foto BNPB
Image caption Banjir yang melanda kota Bima mengakibatkan banyak jalan terbelah atau rusak, dan jembatan ambruk, seperti jembatan di Desa Dodu Kecamatan Rasa Nae Timur Kota Bima.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 92% bencana tahun ini adalah bencana hidrometeorologi yang didominasi oleh banjir, longsor dan puting beliung.

Selama 2016 terjadi 766 bencana banjir, 612 longsor, 669 puting beliung, 74 kombinasi banjir dan longsor, 178 kebakaran hutan dan lahan, 13 gempa, tujuh gunung meletus, dan 23 gelombang pasang dan abrasi.

Dampak yang ditimbulkan bencana telah menyebabkan 522 orang meninggal dunia dan hilang, 3,05 juta jiwa mengungsi dan menderita, 69.287 unit rumah rusak dimana 9.171 rusak berat, 13.077 rusak sedang, 47.039 rusak ringan, dan 2.311 unit fasilitas umum rusak.

"Banjir adalah bencana yang paling banyak kejadiannya. Selama 2016 terjadi 766 kejadian banjir yang menyebabkan 147 jiwa meninggal dunia, 107 jiwa luka, 2,72 juta jiwa mengungsi dan menderita, dan 30.669 rumah rusak. Daerah rawan banjir meluas seperti adanya kejadian banjir besar yang sebelumnya belum pernah terjadi seperti banjir di Pangkal Pinang, Kota Bandung, Kota Bima dan lainnya," sebut Sutopo dalam keterangan kepada wartawan.

Hak atas foto Kris - Biro Pers Setpres
Image caption Presiden Joko Widodo mengunjungi korban bencana gempa Pidie Jaya, Aceh, awal Desember lalu.

Puncak musim hujan

Soal bencana banjir, juru bicara Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Harry Tirto Djatmiko, mengingatkan khalayak untuk berhati-hati mengingat Indonesia mulai memasuki puncak musim hujan.

"Puncak musim hujan adalah Desember, Januari, Februari. Dan selama bulan-bulan itu, masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia harus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidro meterologi. Tidak hanya hujannya, tapi juga angin kencangnya," katanya.

Ia menyebut, yang paling terdampak adalah kawasan di belahan khatulistiwa bagian selatan, mulai dari Sumatera bagian selatan, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Harry Tirto Djatmiko memperingatkan, di perairan-perairan sekitar itu, angin kencang akibat pertemuan massa udara akan mengakibatkan naiknya gelombang laut, hingga ketinggian dua hingga 2,5 meter.

Hak atas foto AFP/Getty
Image caption Gunung Sinabung rutin meletus sejak tahun lalu.

Gunung berapi

Selain bencana hidrometeorologi, Indonesia juga rawan bencana letusan gunung api.

Hingga saat ini terdapat 16 gunung api aktif dari 127 gunung api yang statusnya di atas normal.

Di antara 16 gunung api aktif, selama tahun 2016 Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, terus meletus.

"Sejak Juni 2015 hingga sekarang Gunung Sinabung masih status Awas atau level 4. Aktivitas masih tinggi, hampir setiap hari meletus dan diikuti luncuran awan panas. Kawasan Rawan Bencana terus bertambah luas sehingga jumlah warga yang harus direlokasi juga bertambah," sebut Sutopo.

Di kawasan Gunung Sinabung, masih ada warga 9.319 jiwa dari 9 desa yang mengungsi. Selain itu juga ada 4.967 jiwa warga dari 4 desa yang dalam persiapan relokasi mandiri.

Topik terkait

Berita terkait