Keselamatan diabaikan, kecelakaan di laut 'akan terus terjadi'

kecelakaan laut Hak atas foto Reuters
Image caption Pencarian korban KM Zahro Express direncanakan akan dilakukan sampai tujuh hari sejak kapal terbakar pada Minggu (01/01) pagi.

Pencarian korban KM Zahro Express yang terbakar di perairan Teluk Jakarta direncanakan akan dilakukan sampai tujuh hari sejak kapal terbakar pada Minggu (01/01) pagi dalam pelayaran dari Muara Angke, Jakarta Utara ke Pulau Tidung, Kepulauan Seribu.

Kepala Badan Humas Basarnas, Marsudi, menjelaskan pencarian akan terus dilakukan untuk memastikan tidak ada korban yang luput mengingat data penumpang tidak jelas.

"Karena kemarin manifesnya 100 ternyata 274. Tetapi kemarin dirilis kan sekitar 17 yang masih dinyatakan hilang. Mungkin masih bisa berubah kan, tetap kita masih usaha pencarian," kata Marsudi.

Pencarian dilakukan ketika nahkoda kapal menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya pada Selasa (02/1). Polisi juga mengamankan tiga anak buah kapal KM Zahro Express dan dua petugas syahbandar.

Terbakarnya KM Zahro Express tercatat sebagai kecelakaan laut pertama di Indonesia pada tahun 2017 dan kecelakaan serupa memang sering terjadi. Selama 2016, KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) menangani 15 kasus, lebih banyak dibandingkan 2015 sebanyak 11 kasus.

Dalam tiga bulan terakhir saja, setidaknya ada dua kejadian kapal terbakar, kapal feri di perairan Padang Bai, Bali yang menewaskan dua turis asing dan kapal cepat di Jailolo, Halmahera, Maluku Utara yang menewaskan empat.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan rentetan peristiwa mematikan itu menunjukkan bahwa perlu diambil tindakan mendesak.

"Untuk pengawakan kapal perlu dievalusi ulang lagi mengenai kebutuhan pelatihan awak kapalnya. Awak-awak kapal ini apakah cukup memadai khususnya dalam kondisi tanggap darurat. Pada waktu darurat ini bagaimana awak mengarahkan penumpang, menggunakan alat-alat keselamatan, sesuai dengan aturannya bahwa mereka harus berlatih setiap dua minggu sekali," kata Soerjanto.

'Kurang peduli'

Menurut Darmaningtyas dari Masyarakat Transportasi Indonesia, kecelakaan kapal kerap terjadi disebabkan kurangnya perhatian pemerintah.

"Secara umum memang tidak ada perhatian. Perhatian pemerintah lebih banyak ke pesawat sama darat," kata Darmaningtyas. Juga kurangnya pengawasan pemerintah.

"Kalau kita amati kecelakaan ini kan kebanyakan kapal-kapal yang diselenggarakan oleh masyarakat atau yang kita kenal sebagai pelayaran rakyat. Itu biasanya ada dua (sebabnya): maintenance-nya lemah. Kedua, kontrol pada saat mau naik kapal itu juga lemah," papar Darmaningtyas.

"Yang sering terjadi dan yang saya kira juga terjadi di kapal Zahro ini kan jumlah pelampung itu tidak sebanding dengan jumlah penumpang. Itu bukti tidak ada kontrol. Syahbandar tidak melakukan pengecekan berapa jumlah pelampung, berfungsi tidak, bagaimana emergency exit-nya, saya kira itu tidak pernah dikontrol."

Hak atas foto ADI WEDA/EPA
Image caption Sebanyak 23 orang meninggal akibat terbakarnya KM Zahro Express.

Namun juru bicara Kementerian Perhubungan, Bambang Erfan, menampik dengan mengatakan bahwa Kemenhub telah melakukan pengawasan.

"Seperti contoh di Makassar, di Balikpapan, ada perusahaan pelayaran yang melaporkan di manifesnya itu jumlah penumpang tertentu. Dilakukanlah pemeriksaan oleh syahbandar dan diketahui ada kelebihan muatan. Itu langsung kapalnya tidak boleh berlayar," kata Bambang.

"Demikian juga apabila ada cuaca buruk, itu selalu ada larangan berlayar."

Bambang Erfan menambahkan tidak bisa semua dikerjakan oleh Kementerian Perhubungan, masyarakat juga harus ikut serta mengawasi.

Manifes Kapal Zahro Express menunjukkan jumlah penumpang 100 orang, tapi para pejabat mengatakan jumlah penumpang sekitar 230 orang

Hak atas foto EPA
Image caption Manifes Kapal Zahro Express menunjukkan jumlah penumpang 100 orang, tapi para pejabat mengatakan jumlah penumpang sekitar 230 orang.

Namun menurut Darmaningtyas harus regulator, dalam hal ini pemerintah, yang terlebih dahulu bertindak karena masyarakat pada dasarnya tidak peduli dengan keselamatan.

"Kebetulan yang naik kapal itu kan mayoritas masyarakat menengah ke bawah yang tidak punya akses informasi, jadi tidak ada yang peduli. Merokok sembarangan tempat padahal rawan kebakaran," kata Darmaningtyas.

Hal serupa juga diutarakan Soerjanto, kesadaran keselamatan masyarakat masih sangat rendah.

"Umumnya masyarakat itu menganggap bahan bakan solar itu tidak mudah terbakar. Asumsi ini kurang tepat. Meskipun solar, kalau temperaturnya sudah mencapai 38 derajat Celcius kondisinya sama seperti bensin, mudah terbakar. Perlun kesadaran masyarakat (untuk tidak merokok)," kata Soerjanto.

Indonesia, negara kepulauan yang terdiri dari 17.000 pulau dihubungkan dengan kapal namun memiliki catatan keselamatan yang rendah.

Pada November 2016, setidaknya 54 orang tewas akibat kapal yang bertolak dari Malaysia menuju Batam kelebihan muatan.

Pada Agustus 2016, sebuah kapal kayu angkutan penumpang atau pompong yang membawa 17 orang pengemudi dan penumpang tujuan Tanjung Pinang ke Pulau Penyengat tenggelam.

Tim SAR menemukan 10 korban tewas dan dua luka-luka namun dalam kondisi kritis.

Berita terkait