Nahkoda KM Zahro Express dijadikan tersangka

kecelakaan kapal Hak atas foto Reuters
Image caption Pencarian korban KM Zahro Express direncanakan akan dilakukan sampai tujuh hari sejak kapal terbakar pada Minggu (01/01) pagi.

Polisi menetapkan Nahkoda KM Zahro Express sebagai tersangka setelah dianggap memenuhi dua unsur alat bukti pada Selasa (03/01).

"Kita kenakan pasal 302, 117, 137, 303 UU Pelayaran. Kemudian kita juga kenakan pasal 359 dan 360 KUHP," kata Argo Yuwono, Kabid Humas Polda Metro Jaya.

Pasal 117 UU NO 17 Tahun 2008 mengatur mengenai kelengkapan keselamatan kapal.

Nakhoda, sesuai pasal 137, memiliki tanggung jawab atas keselamatan, keamanan, dan ketertiban kapal, pelayar, dan barang muatan.

Argo menambahkan kru kapal saat ini dijadikan saksi dan polisi juga akan mengundang syahbandar sebagai saksi.

Sementara itu, pencarian korban masih dilakukan pada hari ketiga pasca kejadian terbakarnya KM Zahro Express pada Minggu (01/01).

Kepala Humas Basarnas Marsudi mengatakan tim SAR belum menemukan korban baru setelah dilakukan penyisiran hingga dua mil dari lokasi terbakarnya KM Zahro Express.

"Masih dalam pencarian. Belum ada sampai sore (03/01) ini. Penyelaman kemarin masih nihil juga. Hari ini juga belum ada update (perkembangan) lagi," kata Marsudi.

"Kita khawatirnya jangan-jangan sudah habis (korban). Manifesnya tidak jelas."

Hak atas foto ADI WEDA/EPA
Image caption Sejauh ini 23 orang meninggal akibat terbakarnya KM Zahro Express.

Insiden kebakaran menimpa KM Zahro Express pada Minggu (01/01) sekitar pukul 09.15 WIB sejauh satu mil dari Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara.

Kapal tersebut menuju Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, untuk mengangkut penumpang yang hendak bertamasya.

Penumpang selamat sebanyak 194 orang. Adapun yang meninggal dunia sebanyak 23 orang dan 17 orang dilaporkan hilang, meski jumlah ini masih dipertanyakan karena manifes kapal yang tidak jelas.

Berita terkait