WNI ‘simpatisan ISIS’ bantah berencana serang Myanmar

myanmar, indonesia Hak atas foto Reuters
Image caption Rangkaian demonstrasi menuntut pemerintah Myanmar untuk menghentikan aksi kekerasan terhadap etnik Rohingya digelar di Indonesia, termasuk di Jakarta, pada 25 November 2016.

Seorang warga negara Indonesia yang ditahan di Malaysia atas tuduhan simpatisan kelompok ISIS membantah bahwa dirinya berencana akan ke Myanmar untuk melancarkan aksi kekerasan.

Melalui wawancara dengan staf Konsulat Jenderal RI di Johor Bahru, pada Minggu (08/01), WNI tersebut diketahui bernama Tahangyuddin.

"Dia warga Indonesia, tapi tinggal di Johor Bahru (Malaysia). Dia cukup lama tinggal di Johor Bahru, bekerja di salah satu pabrik," kata Haris Nugroho, Konjen RI di Johor Bahru kepada BBC Indonesia.

Peristiwa yang melibatkan Tahangyuddin bermula ketika pria tersebut hendak ke Singapura. Saat ditanyai pihak imigrasi Singapura, keterangannya soal tanggal lahir berbeda dengan yang tertera di paspor. Lantaran curiga, aparat Singapura memeriksa ponselnya dan mendapati foto-foto terkait ISIS.

"Pihak Singapura kemudian menyerahkan ke aparat Diraja Malaysia, pada 7 Desember 2016," kata Haris.

Tahangyuddin pertama kali dihadirkan di pengadilan pada 4 Januari lalu, namun sidang itu baru sebatas untuk keperluan administrasi.

Hak atas foto EPA
Image caption Demonstrasi di depan Kedutaan Besar Myanmar digelar sedikitnya dua kali di Jakarta selama Desember 2016 lalu. Penangkapan seorang WNI di Malaysia yang dituduh berencana melancarkan serangan di Myanmar memunculkan kekhawatiran akan kemungkinan Myanmar sebagai negara tujuan baru bagi kelompok ekstremis Indonesia untuk berjihad.

Pihak KJRI baru menjumpainya dalam kapasitas perlindungan warga negara, pada Minggu (08/01). Dalam kesempatan itu, dia mengaku tidak berniat ke Suriah dan Myanmar seperti dituduhkan aparat Malaysia.

"Waktu kami wawancara, yang bersangkutan mengatakan tidak ada niat ke Suriah, ke Poso juga tidak ada. Rohingya juga tahu dari Facebook, nggak ada keinginan ke sana dan melakukan pengeboman. Pengetahuan tentang bom juga tidak punya. Yang bersangkutan nggak setuju dengan aksi-aksi kekerasan, bom. Namun, dia pengagum ISIS, setuju dengan idenya," papar Haris.

Tahangyuddin akan kembali menjalani persidangan pada 7 Februari 2016 dengan agenda pemeriksaan perkara.

Hak atas foto Ibrahim Harris/Reuters
Image caption Ayob Khan Mydin Pitchay mengatakan kelompok-kelompok Islam termasuk ISIS mungkin berusaha pergi ke Myanmar untuk membantu etnik Rohingya.

Serangan di Myanmar

Sebelumnya, Kepala Divisi Anti-Teror Kepolisian Diraja Malaysia Ayob Khan Mydin Pitchay mengatakan pada Desember lalu pihaknya menangkap seorang warga negara Indonesia yang diduga sebagai simpatisan kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) dan yang berencana melancarkan serangan di Myanmar.

"Dia berencana untuk melakukan jihad di Myanmar, melawan pemerintah Myanmar demi kelompok Rohingya di Negara Bagian Rakhine," ujar Ayob Khan seperti dikutip kantor berita Reuters.

Penuturan tersebut memunculkan kekhawatiran akan kemungkinan Myanmar sebagai negara tujuan baru bagi kelompok ekstremis Indonesia untuk berjihad.

Namun pakar terorisme dan direktur Institut Analisis Kebijakan Konflik (IPAC ) Sidney Jones mengatakan kekhawatiran itu tidak berdasar untuk sementara ini.

Topik terkait

Berita terkait