Kisah sulitnya para pelancong berpaspor Indonesia

Sejumlah warga negara Indonesia mengisahkan pengalaman mereka menggunakan paspor Indonesia di luar negeri mengingat Indonesia menempati urutan ke-66 dari 94 ranking Indeks Paspor Global yang dikeluarkan oleh Arton Capital.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Indonesia menempati urutan ke-66 dari 94 di Global Passport Index sebagai salah satu negara dengan akses bebas visa paling sedikit di dunia

Indeks ini meletakkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan akses bebas visa paling sedikit di dunia.

Indeks Paspor Global diukur berdasarkan jumlah fasilitas bebas visa dan visa kunjungan saat kedatangan. Semakin tinggi skornya, maka semakin baik mobilitas pemilik paspor tersebut.

Indonesia menempati urutan ke-66, sederet dengan Cina, Mongolia, Ghana dan Uganda.

Negara tetangga seperti Singapura menempati ranking kedua, sedang Malaysia berada di urutan kelima.

Dengan skor bebas visa 57, Indonesia mendapat akses bebas maupun visa saat kedatangan (VoA) di 57 negara -sembilan di antaranya adalah negara-negara ASEAN.

Hal ini membuat pemegang paspor Indonesia harus mengurus visa bila ingin bepergian ke negara-negara yang tidak memberikan visa namun menjadi tujuan wisata seperti Amerika Serikat, Australia dan negara-negara Eropa Barat.

'Sulitnya mendapatkan visa'

Nova Ruth, seniman asal Indonesia yang saat ini menetap di Barcelona, Spanyol, menuturkan dia kerap mendapat kesulitan saat mengurus visa karena tidak memiliki pekerjaan tetap. Dia pernah kehilangan kesempatan menghadiri festival-festival seni internasional akibat terkendala visa.

"Paling terasa kesulitannya ketika masuk 30 tahun. Tidak memiliki pekerjaan tetap dan wanita. Karena ada kecurigaan perdagangan manusia," kata Nova.

"Mungkin untuk sebagian orang bisa lebih mudah karena taraf ekonomi kita berbeda-beda. Tapi untuk seniman, atau orang yang kehidupannya alternatif, meskipun bisa bertahan di mana saja, agak susah untuk mendapatkan visa," tambahnya.

Kesulitan pun tidak berakhir meski ketika visa sudah di tangan.

"Saya ke Inggris pada 2014 untuk bantu acara LSM. Satu bus, cuma saya saja yang orang Indonesia, saya saja yang diberhentikan, ditanya-tanya di Imigrasi. Padahal dari organisasi yang mengundang, kami berangkat bersama. Padahal visanya jelas," Nova berkisah.

Hak atas foto PAUL J. RICHARDS
Image caption Visa AS disebut-sebut sebagai salah satu visa yang paling sulit didapatkan.

Lain lagi cerita Susan Natalia. Pengelola situs pergidulu.com ini pernah membatalkan perjalanan ke Jepang dan Taiwan meski sudah membeli tiket karena aplikasi visanya ditolak.

"Untuk bukti keuangan mereka mau lihat website yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan dikonversi mata uangnya ke yen Jepang. Saya sudah kasih penjelasan ini dan itu dan mencoba melengkapi sampai dua kali ke Konjen Jepang di Sydney tetap mereka tidak mau terima aplikasi saya karena katanya tidak bisa diproses kalau tidak ada dokumen-dokumen tersebut," kisah Susan.

"Akhirnya kami batalkan perjalanan ke Jepang padahal waktu itu sudah beli tiket Jepang. Otomatis tiket ke Taiwan pun ikut hangus dan batal ke Taiwan juga."

Bahkan untuk negara yang memberikan bebas visa seperti Maroko pun, Susan pernah mengalami kendala karena petugas imigrasi Maroko tidak mengetahui kebijakan bebas visa ke pemegang paspor Indonesia.

"Saya sempat dipingpong dari satu konter ke konter lainnya dan disuruh bolak-balik sampai dibentak-bentak sama petugasnya sambil bertanya "Apa masalah Anda?" Saya jawab "Saya tidak tahu "karena saya sendiri juga bingung apa masalahnya", kata Susan.

Hak atas foto pergidulu.com
Image caption Suami Susan, Adam Poskitt yang memiliki paspor Australia hampir tidak pernah mendapatkan masalah dengan urusan visa.

Bukan sekali itu Susan yang sudah menjelajahi sekitar 50 negara mendapat masalah karena petugas imigrasi suatu negara tidak paham kebijakan bebas visa atau visa kunjungan saat kedatangan (VoA) dengan Indonesia.

"Pada saat lintas perbatasan dari Turki ke Georgia tahun 2013, waktu itu Georgia masih memberlakukan VoA untuk WNI, sekarang harus daftar terlebih dahulu. Kami sudah riset terlebih dahulu bahwa WNI bisa VoA. Namun ternyata pada saat di perbatasan petugas imigrasi kurang yakin sehingga butuh waktu lama untuk memproses imigrasi saya," cerita Susan.

"Belum yakin juga, mereka minta izin untuk mewawancarai saya. Tidak di ruangan khusus sih, tapi agak malu juga karena disuruh keluar dari barisan untuk ditanya-tanya.

"Pertanyaannya sih sederhana: "Mau apa di sini?", "Berapa lama?", "Menginap di mana?" Tidak lama juga, paling tiga hingga lima menit. Tapi malu karena kami naik bis umum dan seluruh penumpang bis terpaksa menunggu karena saya paling terakhir keluar dari gedung imigrasi. Baliknya dari Armenia ke Georgia juga sama, kena wawancara lagi."

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Terkadang ada petugas imigrasi asing yang tidak mengetahui kebijakan bebas visa bagi pemegang paspor Indonesia.

Suami Susan, Adam Poskitt, adalah pemegang paspor Australia. Dibandingkan Susan, Adam hampir tidak pernah mendapatkan masalah akibat urusan visa.

"Semua pengalaman yang berkaitan dengan visa jauh lebih gampang untuk Adam karena untuk paspor Australia tidak banyak negara yang perlu visa", tutur Susan.

Bagi sebagian orang juga percaya jika sudah memiliki visa negara-negara tertentu seperti Amerika Serikat dan Schengen (visa sejumlah negara Uni Eropa) akan lebih mudah memasuki negara lain.

Seperti dikatakan Jossi Marchelli, "Saya bisa lebih cepat dibanding teman saya misalnya waktu saya daftar visa Korea mungkin saya ada visa Amerika, Australia dan Inggris. Visa-visa seperti Amerika, Schengen mempermudah kita sebagai pemegang paspor Indonesia."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Mengurus visa sering menjadi momok para wisatawan Indonesia untuk bepergian.

Menjadi bahan pertimbangan

Urusan visa kerap menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan negara tujuan perjalanan berikutnya.

Murni Amalia Ridho, pengelola situs indohoy.com mengatakan proses pengajuan visa yang membutuhkan waktu membuatnya mencari tempat wisata yang tidak membutuhkan visa.

"Saya kerja sekian minggu di suatu tempat dan liburnya dua minggu. Mengajukan visa jauh-jauh hari tidak bisa karena saya di luar kota biasanya. Jadinya suka malas. Akhirnya saya selalu mencari tempat-tempat yang tidak menggunakan visa bagi orang Indonesia. Jadi memang mikir dua kali sih untuk mengajukan visa," kata Murni.

"Sampai sekarang proses-proses seperti itu membuat saya berpikir dua kali untuk daftar (visa). Apalagi sekarang saya lagi statusnya freelance jadi lebih susah lagi dan mengajukan visa kn harus ada keterangan kerja di mana."

Begitupun halnya dengan Susan, "Urusan daftar visa seringkali jadi pertimbangan saat kami memilih destinasi perjalanan kami. Ketika tahun 2016 lalu kami (Susan dan suaminya) ke Amerika Selatan kami memutuskan untuk ke empat negara saja di mana keempatnya bebas visa untuk WNI."

Penuhi semua syarat

Sebenarnya tidak selalu sulit untuk mendapat visa bagi pemegang paspor Indonesia.

Jossi Marchelli juga sudah bepergian ke 51 negara dan tidak pernah mendapat kesulitan mendapatkan visa.

Kuncinya hanya memenuhi semua persyaratan yang diberikan negara tujuan.

"Setiap saya apply (daftar) visa saya selalu lengkapi semua dokumennya dan semuanya lancar, bahkan saya tidak pernah urus visa harus bolak-balik. Dan itu berdasarkan riset saja. Melihat di Google, blog-blog orang yang sudah pernah ke negara itu," kata Jossi.

Susan juga menegaskan hal yang sama.

"Banyak yang sudah takut duluan karena ada anggapan sulit. Padahal sebenarnya kalau syarat-syaratnya dipenuhi dan tidak ada niat buruk, misalnya mau kerja ilegal atau berencana tidak pulang, tidak usah takut apply visa. Cuma ya itu, harus telaten dan sabar karena prosesnya birokratis," kata Susan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Visa Schengen, salah satu visa yang paling diminati pemegang paspor Indonesia, adalah salah satu yang sedang diupayakan Kemenlu.

Upaya pemerintah

Ditanyakan mengapa jumlah negara yang memberikan bebas visa sangat sedikit dibandingkan negara lain, khususnya negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura yang termasuk salah satu dari 10 paspor terbaik, Kementerian Luar Negeri mengatakan bahwa negara dengan populasi yang sedikit lebih gampang mendapatkan bebas visa tanpa menjelaskan lebih jauh alasannya.

"Negara yang populasinya sedikit biasa lebih mudah mendapatkan VF (visa free, bebas visa)," kata Arrmanatha Nasir, juru bicara Kementerian Luar Negeri.

Saat ini pemerintah, lewat Kementerian Luar Negeri, sedang berupaya untuk menambah daftar negara bebas visa bagi Indonesia.

"Kita terus berupaya untuk mendapatkan VF dari berbagai negara atau setidaknya mempermudah proses dan memperpanjang visa. Seperti Australia, jangka waktu visa sekarang bisa sampai empat tahun kalau tidak salah," kata Arrmanatha.

Visa Schengen, salah satu visa yang paling diminati pemegang paspor Indonesia, adalah salah satu yang sedang diupayakan Kemenlu.

"Saat ini sedang diupayakan untuk mendapatkan bebas visa negara negara Schengen," tambah Arrmanatha.

"Untuk Schengen memang ada proses yang cukup lama karena selain mendapat dukungan dari negara-negara Uni Eropa, mereka juga ada mekanisme untuk proses," jelas Arrmanatha.

"Kriteria pemberian VF itu banyak dan macam-macam yang juga bersifat teknis. Beberapa negara juga tidak mengenal bebas visa," tambahnya.

Berita terkait