Camat beragama Katolik di Bantul dipilih karena 'memiliki kemampuan'

bupati bantul Hak atas foto Kabupaten Bantul
Image caption "Saya tidak mau diatur orang lain. Saya ingin menetapkan sesuai dengan peraturan, menegakkan UUD 1945 dan Kebhinekaan Tunggal Ika," kata Bupati Kabupaten Bantul, Suharsono.

Bupati Kabupaten Bantul, Provinsi DI Yogyakarta, Suharsono menegaskan dirinya memilih Yulius Suharta sebagai camat Pajangan karena yang bersangkutan lolos uji kelayakan dan kepantasan, serta tidak melihat latar belakang agamanya.

Hal itu ditegaskan Suharsono setelah sekelompok orang yang mengaku warga Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, DIY Yogyakarta, memaksa dirinya untuk mengganti Yulius. Mereka mengklaim mayoritas warga di kecamatan itu menolak dipimpin seorang camat beragama Katolik.

Suharsono juga menegaskan bahwa dirinya tidak bisa ditekan oleh orang atau kelompok lain yang memaksa dirinya untuk mengganti Yulius Suharta karena beragama Katolik.

Yulius Suharta telah dilantik sebagai camat Pajangan, di Pendopo Kabupaten Bantul, pada 30 Desember 2016. Yulius juga mengikuti acara serah terima jabatan dari camat lama, 6 Januari lalu.

"Saya tidak mau diatur orang lain. Saya ingin menetapkan sesuai dengan peraturan, menegakkan UUD 1945 dan Kebhinekaan Tunggal Ika, bahwa kita tidak boleh mengkotak-kotak dari agama satu dengan agama lainnya," kata Suharsono dalam wawancara dengan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Kamis (12/01) siang.

Berikut petikan wawancara dengan Bupati Suharsono:

Anda mengatakan akan melakukan semacam survei ke warga Kecamatan Pajangan setelah muncul tuntutan sekelompok orang agar Anda mengganti Camat Yulius Suharta karena beragama Katolik. Apa hasil sementara temuan Anda?

Apa yang saya lakukan sudah sesuai prosedur mulai uji kelayakan dan kepatutan. Jadi saya melihat diterima karena memiliki kompetensi. Jadi, saya tidak melihat dari segi agama. Tapi (tiba-tiba) ada desakan segelintir orang (agar saya mengganti Yulius Suharta) yang beraudiensi di ruangan saya. Ya, saya (mengatakan kepada mereka) belum bisa mengambil kesimpulan. Saya minta waktu. Saya mulai survei (ke masyarakat) secara diam-diam. (Untuk menanyakan apakah) Betul-betul dari aspirasi rakyat atau hanya sekelompok orang yang tidak suka.

Jadi kalau nanti (hasil survei menunjukkan) hanya sekelompok kecil yang menentang (Camat Yulius Suharta), tidak akan saya perhatikan. Saya tetap berpegang teguh pada prinsip saya. Saya seperti itu. Walaupun kemarin mendesak saya untuk diganti, saya tolak mentah-mentah.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Suharsono juga menegaskan bahwa dirinya tidak bisa ditekan oleh orang atau kelompok lain yang memaksa dirinya untuk mengganti Yulius Suharta karena beragama Katolik.

Saya tidak mau diatur orang lain. Saya ingin menetapkan sesuai dengan peraturan, menegakkan UUD 1945 dan Kebhinekaan Tunggal Ika, bahwa kita tidak boleh mengkotak-kotak dari agama satu dengan agama lainnya. Saya menginginkan kerukunan antar umat beragama di wilayah saya.

Kalau tadi dikatakan penunjukkan Yulius Suharta sepenuhnya alasan profesional, kenapa Anda harus meminta waktu untuk melakukan survei terkait tuntutan sekelompok orang itu. Kenapa tidak bersikukuh untuk tetap mempertahankan Yulius?

Kita harus lihat budaya yang ada di wilayah saya, khususnya di Bantul. Tidak bisa bersikeras seperti di Jakarta. Kalau di Jakarta harus tegas. Kalau saya harus berdasarkan bukti-bukti yang bisa mendukung (keputusan saya memilih Yulius Suharta). Makanya, saya tidak langsung mengiyakan permintaan itu. Tapi yang penting dasarnya saya ada. Kalau hasil survei kuat, tetap saya pertahankan (camat Yulius Suharta).

Pertanyaannya, kalau hasil survei itu menunjukkan mayoritas warga di Kecamatan Pajangan menolak Yulius, apakah Anda akan meralat putusan Anda sendiri?

Oh, tidak. Ada waktunya. Tidak akan langsung (diganti dan dipindahkan ke wilayah lain di Kabupaten Bantul), tapi akan saya coba dulu.

Pokoknya, tenang saja. Saya tidak akan membikin resah masyarakat di sini. Tapi itu bahan evaluasi saya, coba ini diterima dulu apa yang menjadi keputusan saya. Ini saya pikir adalah kompetensi. Jadi ini soal kemampuan pak camat yang baru. Saya tidak melihat agamanya.

Tapi, saya akan memberi pengertian ( kepada warga Kecamatan Pajangan). Kalau perlu saya adakan pengajian akbar, dengan tokoh agama yang kondang dari Jateng, dari Solo, misalnya. Saya akan sosialisasi, kenapa saya pilih dia.

Apakah Anda sudah melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat setelah muncul penolakan terhadap Camat Pajangan yang baru?

Saya enggak perlu sampai ke pusat, wong itu keputusan saya kok, dan saya tidak melakukan pelanggaran. Kecuali kalau saya melakukan pelanggaran, saya akan konsultasi dengan pemerintah pusat.

Jadi istilahnya, seperti anak dalam keluarga, saya tidak akan berbuat cengeng. Kalau ada apa-apa, saya laporan ke pusat. Tidak. Saya akan tangani sendiri.

Hak atas foto Kabupaten Bantul
Image caption Bupati Suharsono mengatakan dirinya tengah melakukan survei di Kecamatan Pajangan untuk memastikan seperti apa aspirasi warganya tentang camat beragama Katolik.

Seperti kasus-kasus agama (yang baru saya tangani), sudah 10 tahun tidak selesai. Saya tangani sendiri - saat saya menjabat - dalam tiga bulan langsung selesai. Dalam kasus agama, saya dua kali didemo oleh Front Pembela Islam (FPI), saya hadapi sendiri. Alhamdulillah, semuanya tidak ada masalah.

Yang penting, yang saya lakukan sudah sesuai prosedur, sesuai peraturan perundang-undangan. Saya bekerja dengan aturan, jadi saya tunjukkan manakala ada orang yang tidak puas dengan kebijakan saya.

Jadi, hasil survei perihal camat Pajangan akan diumumkan awal bulan Februari ini?

Ya, saya (melakukan survei) secara diam-diam, saya teliti sendiri. Seperti yang saya lakukan waktu kampanye atau sosialisasi. Lawan saya dulu berat sekali. Saya tidak diprediksi, (tapi) saya menang. Saya punya strategi sendiri. Saya kerja sendiri, tidak melibatkan orang lain. Tidak punya tim pemenangan atau tim sukses, tapi sejak dulu saya melakukan survei. Jadi saya bilang awal bulan Februari akan ada kesimpulannya. Jadi saya minta waktu untuk langsung ke lapangan.

Dengan demikian, survei itu untuk memastikan apakah warga mayoritas di kecamatan itu menolak atau menerima Camat Yulius Suharta?

Ya, dan dari tiga kelurahan, kemarin saya baru sempat melakukan survei di satu kelurahan. Kebanyakan mereka tidak tahu ada kasus Camat Yulius. Pak lurahnya juga tetap mendukung kebijakan saya.

Mereka banyak yang tidak tahu, berarti yang komplain kepada saya itu hanya kelompok Islam fanatik, dan tidak banyak pendukungnya. Jadi misalnya saya lepas pun, belum tentu mereka bisa menggerakkan masyarakat di sini. Nanti malam (Kamis, 12 Januari), saya survei sendiri, naik motor. Tidak semua orang tahu bahwa saya bupati Bantul. Kebanyakan tidak tahu, mereka hanya tahu nama saya.

Saya baru 10 bulan menjabat (bupati Bantul), dan kebanyakan warga tidak tahu saya. Saya meninggalkan Bantul sejak 1987, dan pada tahun 2015 saya daftar menjadi calon bupati. Makanya, banyak yang tidak tahu fisik saya.

Topik terkait

Berita terkait