Tidak Semua Warga Pajangan Bantul Menolak Camat beragama Katolik

Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, DIY Hak atas foto Yaya Ulya
Image caption Seorang warga melintas di depan Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, DIY.

Sejumlah masyarakat Kecamatan Pajangan Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta DIY mengaku tidak mengetahui penolakan yang dilakukan sejumlah warga terhadap camat yang baru Yulius Suharta.

Seorang warga Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Tukidi mengaku tidak mempermasalahkan Camat Pajangan yang baru. Bagi Tukidi, yang penting pemimpin bisa mengayomi dan mensejahterakan masyarakatnya, tanpa membedakan agama.

"Saya malah tidak dengar kabar itu, tidak tahu saya," kata Tukidi, "Tidak apa-apa (non muslim), yang penting memperhatikan kepentingan masyarakat," kata seperti disampaikan kepada wartawan di Yogyakarta Yaya Ulya.

Senada dengan Tukidi. Lina, warga Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, juga menungkapkan hal yang sama. Baginya, yang paling penting seorang pemimpin bisa berbuat baik untuk masyarakatnya dan tidak menyalahi aturan atau hukum yang berlaku.

"Tidak masalah (non muslim)," kata Lina.

Terlebih camat yang baru sudah dipilih dan ditetapkan oleh Bupati. Sehingga sebagai masyarakat dia akan mengikutinya dan tidak mau mempermasalahkannya. Namun, jika bisa memilih, Lina sebagai seroang muslim akan memilih pemimpin yang muslim.

"Kalau saya bisa memilih, ya memilih yang muslim. kan saya orang muslim. Namun kalau tidak bisa memilih, ya sudah (non-muslim) tidak masalah," tambah dia.

Pada Senin lalu (09/01), sejumlah warga yang mengaku perwakilan masyarakat Pajangan, Kabupaten Bantul, DIY mendatangi Bupati Bantul, Suharsono. Mereka meminta agar Camat Pajangan yang baru, Yulius Suharta, diganti. Alasannya, karena tidak sesuai dengan karakter masyarakat Pajangan. Mereka mengaku mewakili mayoritas masyarakat Pajangan.

Secara administratif, kecamatan Pajangan terdiri dari 3 desa. Desa Sendangsari, Desa Guwosari, dan Desa Triwidadi.

Kepala Desa Guwosari, Muhammad Suharto, mengaku mendengar ada warga yang keberatan terhadap Camat Pajangan yang baru, karena alasan beragama Katolik, sementara mayoritas masyarakat Pajangan adalah muslim.

"Tidak banyak, cuma ada. Intinya menyayangkan kok seperti ini. Sini mayoritas (muslim) kok ditempatkan (matanya) yang non muslim," kata dia.

Tetap Mendukung

Meskin ada penolakan dari waga, Suharto mengaku tidak mempermasalahkan agama, dan tetap mendukung camat terpilih, Yulius Suharta sebagai Camat Pajangan yang telah ditetapkan Bupati Bantul.

"Saya tetap menerima, boleh saja ditempatkan siapapun. Termasuk itu muslim ataupun non-muslim, artinya tidak ada masalah," kata Suharto.

Camat terpilih juga telah menemui Suharto untuk bersilaturahmi dan memperkenalkan diri. Dan sebagai pamong desa, Suharto mengatakan akan mendukung kepemimpinan Yulius sebagai Camat Pajangan. "Kita siap bekerja sama," kata dia.

Hak atas foto Yaya Ulya
Image caption Camat Pajangan yang baru, Yulius Suharta., sudah jalankan tugas.

Dukungan terhadap Camat Pajangan yang baru juga disampaiakan Kepada Desa Sendangsari, Muhammad Irwan Susanto. Sebagai Kepala Desa, Irwan akan loyal terhadap aturan dan perundang undangan yang berlaku. Menjalin hubungan yang harmonis sesuai tupoksi tanpa membedakan agama.

"Saya akan loyal terhadap pemerintah dan atasan saya," kata Irwan.

Namun Irwan mengaku belum mengetahui secara pasti latar belakang penolakan warga terhadap Camat Pajangan. Dan jika memang penolakan warga karena alasan beda agama, maka jelas-jelas merusak kebinekaan dan nilai pancasila.

"Kalau yang terjadi seperti itu (karena alasan agama), jelas itu akan merusak kebhinekaan dan nilai-nilai Pancasila. Tetapi saya masih mengkaji dan nggak yakin kalau masyarakat saya se-extreme itu," tambah dia.

Camat tetap bekerja

Meski mendapat penolakan dari sejumlah warga, Yulius Suharta, Camat Pajangan yang baru sudah mulai bekerja dan menjalankan aktifitasnya sebagai seorang camat, dan mengatakan tidak ingin penolakan warga mengganggu aktifitas kegiatan pelayanan di kecamatan.

Jumat (13/01), Yulius sudah berbagi tugas dengan jajaran di kecamatan untuk berkunjung ke sejumlah tempat dengan agenda Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). "Agenda rutin setiap Jumat ada PSN," kata Yulius.

Saat kegiatan PSN, Yulius mengaku bertemu masyarakat dan sekaligus memperkenalkan diri sebagai camat yang baru. Yulius juga mengaku sudah bersilaturrahim ke Kepala Desa Guwosari. "Tidak ada masalah," kata Yulius yang sebelumnya menjabat wakil direktur umum dan keuangan di RSUD Panembahan Senopati selama 7 tahun.

Sebagai PNS, Yulius mengaku akan menjalankannya dan berharap bisa membangun komunikasi dengan masyarakat, hadir dalam setiap acara warganya. "Seandainya ada undangan pengajian, dan tidak ada masalah dengan kehadiran saya, maka saya akan memenuhi undangan itu," kata Yulius.

Pengalaman sebagai pegawai di RSUD selama 7 tahun yang mengedepankan sisi kemanusiaan, membuat Yulius tidak merasa sakit hati dengan penolakan yang dilakukan sejumlah warga di Kecamatan Pajangan. "Jadi saya tidak akan pernah mempermasalahkannya," kata dia.

Berita terkait